My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 113 : JADI MENURUTMU ITU KEREN?


__ADS_3

Bruno melirik kaca spion demi menatap tuannya yang duduk di belakang. Melihat raut wajah Adrian yang berbinar dan tampak sangat bahagia, ia pun tak ragu untuk mengutarakan maksud yang terpendam dalam hati. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengaktifkan mode Ngelunjak. 


Biasanya, saat sedang senang Adrian akan memberikan apapun miliknya dan Bruno hafal betul karakter tuannya. Bruno pernah mendapatkan jam tangan mewah dan sepatu mahal. Bahkan salah satu koleksi mobil kesayangan Adrian ia berikan begitu saja kepada Bruno beberapa waktu lalu, saat Naomi berhasil selamat dari penculikan Erica. 


Dan, semua itu sebagai bentuk rasa terima kasih, karena Bruno berusaha melindungi Naomi sampai terluka parah dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. 


"Saya tidak berani berharap, Tuan. Tapi kalau tuan mau menaikkan gaji dan jabatan, saya akan menerima dengan sukarela," cicit Bruno. Terkesan tak terlalu berharap. Namun, wajahnya menyiratkan keinginan.


Adrian mendecakkan lidah setelah memahami maksud sang sopir. "Apa? Menerima dengan sukarela? Kenapa aku merasa kamu sudah terkena Sindrom Naomi?" 


"Sindrom Naomi?


Bruno menelan saliva. Sebelah tangannya bergerak mengusap tengkuk yang terasa meremang. Bagaimana mungkin Adrian mampu menebak bahwa Bruno memang sedang menjalankan trik ala Naomi. Yaitu menerima sesuatu dengan terpaksa, padahal dalam hati menggebu. 


"Hehe ... Anda tahu saja, Tuan." Bruno tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. 


Adrian menyentuh dagu. Tampak berpikir beberapa saat. "Tapi setelah kupikir-pikir idemu memang bagus. Baiklah, aku akan menaikkan gaji dan jabatanmu." 


Akhirnya, setelah sekian lama .... Bruno bersorak dalam hati.


Terlalu bahagia, tanpa sadar ia menginjak pedal rem yang membuat mobil mendadak terhenti. Tubuh Adrian pasti sudah terhempas ke depan jika saja tidak menggunakan sabuk pengaman. 


"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja. Sepertinya saya terlalu senang." 


Adrian mendengkus kesal dengan ulah sopirnya itu. "Untung aku masih pakai sabuk pengaman. Kalau tidak, habis gajimu kupotong." 


"Jangan, Tuan," ucapnya memohon. "Tapi gaji dan jabatan saya jadi naik, kan?" 


"Tergantung." 


"Tergantung seberapa banyak kamu diam. Apa kamu tahu, aku merasa kamu sangat lamban mengemudi. Padahal aku sedang sangat terburu-buru." 


"Ba-baik, Tuan." 


Bruno segera melajukan mobil setelah menerima ancaman mematikan dari Adrian. 


Ternyata dia masih sama. Seharusnya paket lengkap Nona Naomi, tuan muda dan nona kecil cukup untuk merayu tuan. 


Hanya dalam lima belas menit, mereka sudah tiba di kantor polisi. Saat ini Haylea masih ditahan dan masih menjalani proses pemeriksaan. Hugo belum melanjutkan karena ingin melihat hukuman apa yang akan diberikan Adrian kepada mantan kekasihnya itu. 

__ADS_1


.


.


.


Tubuh Haylea terasa meremang menatap Adrian yang berdiri tak jauh darinya. Sepasang manik biru nya berkaca-kaca. Satu hal yang sangat berbeda yang dapat dilihat Haylea, Adrian menatapnya dengan penuh kebencian. Tak seperti dulu di mana laki-laki itu sangat memanjakan dirinya dengan cinta dan kemewahan. 


"Adrian ...," panggilnya. Hampir tak percaya bahwa laki-laki yang ingin bertemu dengannya adalah Adrian.


Secepat kilat, Haylea melangkahkan kaki. Tubuhnya melorot dan berlutut tepat di hadapan pria itu. Sementara Adrian tampak tak begitu peduli. Sikapnya yang dingin membuat Haylea merinding. 


"Aku mohon maafkan aku, Adrian. Aku benar-benar tidak sengaja mencelakai Naomi. Kejadian di toilet itu hanya sebuah kecelakaan. Aku tidak bermaksud membuatnya terjatuh." 


Adrian tersenyum sinis. "Kamu bilang kecelakaan? Jangan kira aku akan percaya begitu saja." 


"Aku mohon percayalah. Aku mengatakan yang sebenarnya."


Air mata Haylea sudah menganak sungai. Tetapi, Adrian tak sedikit pun peduli ataupun menaruh belas kasihan terhadapnya,


"Kamu tahu, karena perbuatanmu istri dan anak-anakku hampir celaka. Jadi aku akan memastikan kamu akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama," ancam Adrian. Suaranya terdengar santai, namun begitu menakutkan di telinga Haylea.


"Tidak perlu banyak alasan!" Belum selesai kalimat Haylea, sudah dipotong lebih dulu oleh Adrian. "Kamu pantas mendapatkan hukuman berat dari kejahatanmu. Jadi nikmati saja sisa waktumu dalam hukuman nanti." 


Haylea mengusap kedua sisi pipinya yang basah. "Adrian, aku tahu aku bersalah. Tapi setidaknya ingatlah kita pernah menghabiskan beberapa tahu bersama. Bahkan kamu pernah mau melamarku." 


Adrian memulas senyum sinis. Menatap Haylea seperti meremehkan. "Aku bersyukur menemukanmu di apartemen hari itu. Kalau tidak, aku pasti tidak akan tahu wanita murahan macam apa yang sudah menipuku selama bertahun-tahun." 


Jantung Haylea seperti akan terhenti mendengar sindiran pedas yang dilontarkan Adrian. 


Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Adrian melangkah meninggalkan Haylea. Hari ini ia akan memasukkan laporan atas kejahatan yang dilakukan Haylea dan berharap wanita itu akan dihukum seberat-beratnya. 


.


.


.


Setelah beberapa jam mengurus laporan, Adrian dan Bruno meninggalkan kantor polisi. Adrian akhirnya dapat bernapas lega, karena telah menjalankan tuntutan dari kakak iparnya. 

__ADS_1


"Setelah ini Anda akan ke mana, Tuan?" tanya Bruno yang kini duduk di kursi kemudi. Ia lalu menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan kantor polisi. 


"Aku mau pulang ke rumah dan ganti baju. Setelah itu ke rumah sakit lagi," jawab Adrian. 


"Anda tidak akan ke kantor?" 


"Tidak. Aku tidak bisa meninggalkan Naomi lama-lama." 


Adrian memijat tengkuk leher yang terasa pegal. Sejak Naomi menjalani operasi, ia belum mendapatkan istirahat maksimal. Tubuhnya pun terasa sangat lelah. 


"Memang menyebalkan sekali dia," gerutu Adrian, ketika tanpa sengaja melirik mobil di belakang melalui kaca spion. 


"Siapa yang menyebalkan, Tuan?" 


"Coba lihat di belakang!" 


Bruno mengikuti arahan Adrian. Ia mengarahkan pandangan ke belakang. Di sana terlihat sebuah mobil mengikuti mereka.


"Apa itu pengawal kerajaan?" tanyanya.


"Tentu saja. Itu pasti suruhan Pangeran Hugo," ujar Adrian yakin. 


"Tapi ini aneh, Tuan. Kenapa bukan pihak istana yang mengurus masalah Nona Haylea? Hukuman nya pasti akan sangat berat karena dia berusaha mencelakai seorang putri kan?" 


"Pangeran menyebalkan dan urakan itu yang memintaku mengurus Haylea. Dia mau membuktikan seberapa kejam aku akan menghukum wanita itu." 


"Apakah artinya dia curiga Anda masih memiliki perasaan khusus untuk Nona Haylea?" tanya Bruno lagi.


"Kenapa kamu tidak tanya sendiri sama pangeran itu?" balas Adrian kembali kesal.


"Hehehe ... saya mana berani menanyakan hal seperti itu kepada Pangeran Hugo." 


"Kalau begitu diam lah dan jangan banyak tanya." 


"Saya mengerti, Tuan. Ngomong-ngomong Pangeran Hugo itu memang sangat keren, ya. Saya dengar bagaimana dia menyelamatkan Nona Naomi dari kegilaan Nona Erica. Seperti superhero saja." Kalimat panjang mengandung pujian yang tercetus bebas dari mulut Bruno membuat Adrian jengkel setengah mati. 


"Jadi menurutmu menggores leherku dengan belati itu tindakan keren?"  


Sepasang mata bruno membulat. Tubuhnya terasa merinding kala tatapan tajam Adrian mengarah kepadanya. 

__ADS_1


............


__ADS_2