My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 85 : Jati Diri Naomi Claire!


__ADS_3

Ibu Iriana tercengang menatap seorang pria kira-kira berusia 40 tahunan yang membungkuk hormat di hadapannya. Disusul dengan kehadiran beberapa pria lainnya di belakang. Pakaian mereka sangat rapi dan elegan. Wajah terlihat cukup ramah. 


“Maaf kalau kedatangan kami mengejutkan Anda, Nyonya.” Kalimat bernada sopan itu menjadi sambutan pertama yang diterima Ibu Iriana. Larut dalam rasa terkejut, ia tak kunjung menyahut. “Saya Max Hubbel, utusan dari Pangeran Hugo. Datang kemari untuk bertemu dengan Tuan Adrian Marx.” 


“Silahkan duduk dulu, Tuan.” Ia menunjuk kursi ruang tamu, sehingga mereka duduk bersama. “Adrian adalah putraku. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa sampai pihak kerajaan mencarinya?” 


“Ini erat kaitannya dengan Nona Naomi Claire.” 


Kerutan dalam terlihat di dahi wanita itu. “Naomi? Ada apa dengan wanita itu?” 


“Kami ingin memastikan apa benar, Nona Naomi Claire, adalah adik Ken Claire yang diselamatkan Tuan Marx dari seseorang bernama Madam Leova?” 


“Itu memang benar, Tuan. Tapi ... ada masalah apa sampai pihak istana mencarinya?” 


“Nona Naomi Claire kemungkinan adalah Putri Isabel yang diculik oleh seorang pelayan istana saat berusia dua tahun. Pihak kerajaan mengutus saya untuk memastikan hal ini,” tukasnya. “Karena itulah, saya ingin bertemu dengan Tuan Adrian Marx dan juga Nona Naomi Claire.” 


Layaknya tersambar petir di siang bolong, Ibu Iriana merasakan getaran hebat yang tiba-tiba menyerang tubuhnya. Sepasang bola matanya melotot tak percaya. Udara sekitar pun perlahan terasa dingin, hingga membuat tubuhnya meremang. Jangan lupakan wajahnya yang mendadak kehilangan warna. 


“Na-Naomi adalah ....” ucapannya terpotong di udara, membuat pria di hadapannya mengangguk cepat. 


“Ini baru kemungkinan, Nyonya. Kami harus segera bertemu dengan Tuan Marx dan istrinya untuk membuktikan.” 


Ibu kembali tercengang. Ia mengusap wajahnya berulang-ulang demi mengembalikan akal sehatnya yang terbang entah ke mana. 


Satu menit .... 


Tiga menit .... 

__ADS_1


Lima menit .... 


Ia mematung. 


“Nyonya ... Nyonya ...,” panggil pria itu, membuat Ibu Iriana kembali tersadar. 


“Maafkan saya, Tuan. Saya hanya terkejut,” ucapnya terbata. Ia kibaskan tangannya di depan wajah demi meraup udara yang cukup. 


“Kalau begitu, apa kami boleh bertemu dengan Tuan Marx dan istrinya?” Pertanyaan itu diulang pria tadi. 


“Tapi putraku sudah berangkat ke kantor dan menantuku sedang mengunjungi makam ibunya. Anda bisa menemui putraku di kantor,” jawabnya masih terbata. 


.


.


.


Kedatangan Russel membuat konsentrasi Adrian membuyar. Dahinya mengerut menatap pria yang terlihat sangat panik itu. Russel bahkan tak sempat mengetuk pintu.


“Ada apa? Apa yang terjadi?” 


Russel masih terlihat mengatur napasnya yang memburu, sebelum berkata, “Informasi tentang Nona Naomi sudah bocor ke pihak istana. Mereka berhasil menemukan Ken Claire ... dan Ken mengakui segalanya kepada Pangeran Hugo.” 


Informasi yang diberikan Russel membuat bola mata Adrian melebar. Wajahnya berubah tegang. “Bagaimana bisa? Bukankah aku sudah memintamu menutup semua informasi tentang mereka,” pekik Adrian. 


“Maafkan saya, Tuan. Pihak istana bergerak dengan sangat cepat di luar perkiraan saya. Mereka berhasil menemukan informasi tentang keluarga Claire.” 

__ADS_1


Seolah mati ide, Adrian terpaku di tempat duduknya. Rasa takut kehilangan semakin terasa nyata. Kini, seluruh ingatannya hanya mengarah kepada Naomi. 


“Aku harus cepat menyusul Naomi ke makam ibunya Ken.” Ia meraih ponsel di meja dan segera menghubungi Bruno, yang pagi tadi ia perintahkan untuk mengantar Naomi.


"Iya, Tuan," sahut Bruno di ujung telepon.


"Di mana Naomi sekarang?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Kami masih di kompleks pemakaman, Tuan. Nona Naomi masih di dalam bersama Mathilda dan Layla."


"Jangan kemana-mana sampai aku datang!"


"Memangnya kenapa, Tuan?" tanya Bruno terdengar bingung.


"Tidak usah banyak tanya, lakukan saja perintahku!"


"Ba-baik."


Panggilan terputus, Adrian menyambar jas yang menggantung pada tiang berbahan stainless, lalu segera beranjak keluar dengan tergesa-gesa. Russel mengikuti di belakangnya. 


“Batalkan semua rapat hari ini!” perintahnya pada seorang sekretaris. Gerakan Adrian yang super cepat membuat wanita itu ternganga dan tak sempat menyahut. Sang bos sudah menghilang di balik pintu lift. 


Langkah kaki Adrian semakin cepat ketika tiba di lobi. Ia brgitu tergesa-gesa. Namun, kawanan pria berjas hitam yang baru saja melewati pintu kaca otomatis membuatnya mematung di tempat. 


Ya, Adrian mengenali kawanan itu, terutama pria yang berjalan paling depan. 


“Pangeran Hugo?” 

__ADS_1


...*****...


__ADS_2