My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 114 : Posesif dan Banyak Maunya


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Bruno memasuki halaman rumah setelah seorang penjaga membukakan gerbang kokoh itu.


Adrian segera turun dari mobil dan memasuki rumah dengan sedikit tergesa-gesa. Ia harus segera mandi dan berganti pakaian, lalu kembali ke rumah sakit. 


Melewati ruang tengah, terlihat Nenek Camila dan Ibu Iriana sedang duduk berdua. Ibu sedang menonton acara televisi yang memuat berita tentang kelahiran cucu kembarnya, sementara nenek duduk di sofa tunggal dengan benang rajut di tangan. Sepertinya sedang merajut baju hangat untuk cicit-cicitnya. 


"Adrian?" sapa Ibu Iriana saat menyadari kehadiran putranya. "Kenapa kamu belum ke rumah sakit juga? Ibu dan nenekmu baru saja kembali dan tidak melihatmu di sana seharian ini." 


"Aku habis mengurus sesuatu yang penting, Bu. Setelah ini aku akan kembali ke rumah sakit," jawabnya. "Aku pulang hanya untuk ganti baju." 


"Iya, benar. Cepat kembali ke rumah sakit. Naomi pasti membutuhkanmu meskipun dia tidak mengatakannya," sahut sang nenek. 


Adrian memulas senyum tipis. Hatinya menghangat atas perhatian ibu dan nenek kepada istri dan anak-anaknya. Ia juga senang melihat kedekatan ibu dan nenek yang hampir tak pernah ia lihat. Selama ini, nenek dan ibu kerap berbeda pendapat dan sering berdebat. Kini keduanya terlihat lebih akur dan kompak. 


Pria itu berjalan mendekat setelah melihat tayangan di televisi. Ia duduk sebentar di sana dan ikut menonton berita. Kelahiran bayi kembarnya memang sedang menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. 


"Berita kelahiran Arcella dan Arcello lagi, ya?" ucapnya.


"Iya. Usia mereka baru dua hari tapi sudah seterkenal ini," ucap Ibu Iriana dengan pandangan terfokus pada tayangan TV. "Syukurlah mereka lahir dengan selamat. Aku sudah sangat ketakutan awalnya. Apalagi Naomi sampai jatuh di toilet." 


"Semua ini karena ulah si culas Haylea itu," sambung nenek menunjukkan kekesalannya. "Adrian, kamu harus membuatnya dihukum seberat-beratnya. Jangan lepaskan wanita jahat itu!" 


"Iya, Nenek. Aku sudah mengurusnya hari ini." 


"Apa Haylea akan dihukum berat?" tanya ibu, menatap Adrian serius. 


"Tentu saja, Bu. Sesuai peraturan hukum yang berlaku." 


"Syukurlah. Dia memang pantas mendapatkan hukuman itu." Ibu menjadi sangat kesal setiap kali teringat kejadian di pusat perbelanjaan itu. "Oh ya, di rumah sakit juga masih ada banyak pencari berita. Ibu dan nenek tadi kesulitan keluar karena dikejar wartawan." 


"Tidak apa-apa, Bu. Aku akan membuat penjagaan yang lebih ketat." Adrian melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah ... aku harus segera kembali ke rumah sakit." 

__ADS_1


"Baiklah, cepat kembali dan temani Naomi."


Adrian segera menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Rencananya, setelah kembali dari istana nanti seperti permintaan Ratu Hellena, Adrian dan Naomi akan kembali tinggal di rumah utama keluarga Marx.


Selain karena ibu yang sudah menerima kehadiran Naomi, Adrian juga ingin Nenek Camila menikmati masa tuanya dengan bahagia bersama cicit-cicitnya.


**** 


Adrian tiba di rumah sakit setelah sebelumnya mampir di restoran favorit Naomi dan memesan menu kesukaan istrinya itu. Walaupun sebenarnya hal itu tak perlu ia lakukan, mengingat fasilitas dan pelayanan paripurna yang diberikan pihak rumah sakit. 


Memasuki kamar, Adrian sudah disambut oleh Mathilda dan Layla yang sedang menemani di ruangan itu sambil menjaga si kembar. Pria itu segera meletakkan paper bag ke atas meja nakas, lalu meletakkan jari telunjuk di depan hidung sebelum dua wanita itu bersuara. Naomi tampak sedang terbaring di ranjang dengan posisi membelakangi. Sepertinya sedang tidur, dan Adrian tidak ingin ia terganggu. 


"Anak-anak tidak rewel, kan?" tanya Adrian.


"Tidak, Tuan. Sepanjang hari ini mereka sangat tenang. Mereka juga sudah minum susu dan langsung tidur setelahnya." 


Adrian mengangguk mengerti. "Baguslah. Dan dia ... apa sudah lama tidur?" tanyanya seraya menunjuk Naomi dengan lirikan mata. 


"Nona Naomi sudah tidur sejak dua jam lalu." 


"Sudah, Tuan," jawab Layla sambil menerbitkan senyum. Layla merasa tuannya itu kini menjadi lebih manusiawi dan terkesan ramah. Tetapi tetap tak mengurangi posesifnya terhadap Naomi. Belakangan ini ia memang punya kebiasaan baru. Yaitu akan bertanya apa yang dilakukan istrinya sepanjang hari. Mathilda dan Layla yang bertugas melaporkan.


"Baiklah, kalau begitu pulanglah! Di bawah masih ada Bruno. Biar aku yang menemani mereka di sini," perintahnya kepada dua wanita itu. 


"Baik, Tuan." 


Mathilda dan Layla membungkukkan kepala tanda hormat, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan super mewah itu. 


Sementara Adrian memulas senyum menatap dua bayi kembarnya yang juga sudah terlelap. Pipi mereka yang tembem dan kemerahan begitu menggemaskan. Adrian membenamkan bibirnya ke pipi Arcella dan Arcello secara bergantian. Memandang dengan kagum dua makhluk bertubuh mungil yang merupakan mahakaryanya bersama Naomi. 


Puas memandangi anak-anaknya, ia mengalihkan perhatian kepada sang istri. Wanita itu sangat lelap dalam tidurnya. 

__ADS_1


Perlahan Adrian mendekat. Tangannya terulur membelai puncak kepala, lalu membenamkan bibirnya di kening dengan sangat hati-hati agar Naomi tak terganggu. Kemudian membuka blazer dan sepatu. Lalu, ikut membaringkan tubuhnya di sana. Ukuran tempat tidur yang besar mampu memuat mereka beserta anak-anaknya. 


"Saat sedang tidur wajahmu lebih menggemaskan dari Arcella dan Arcello."


Adrian mencondongkan wajah demi mengikis jarak, lalu mendaratkan bibir di pipi, kening, hidung dan bibir. Ia ulangi berkali-kali seperti tak ada puasnya.


Namun, Naomi masih diam dan tak bergerak. Ia diam saja saat merasakan bibir kenyal Adrian melahap bibirnya. Bahkan sesekali menggigit bibir bawah. Adrian terdiam sejenak dan tersenyum geli. 


"Bangun, Tuan Putri ... jangan pura-pura tidur lagi. Pipimu itu sudah merah," bisiknya ke telinga Naomi. 


Semakin merah saja pipi Naomi karena ulah jahil suaminya. Niat hati berpura-pura tidur ternyata sudah terbaca oleh Adrian. Perlahan kelopak matanya pun terbuka. 


"Aku kan sedang berperan sebagai putri salju yang menunggu ciuman dari pangerannya untuk bisa bangun." 


"Hahaha ... kamu tidak perlu pura-pura tidur untuk mendapatkannya. Aku bisa memberimu kapan saja." 


Adrian memberi elusan mesra di punggung leher istrinya. Kemudian melanjutkan permainan yang sempat tertunda karena drama pura-pura tidur. Ia memulai dengan jurus-jurus silat lidah andalan yang membuat Naomi kehilangan kewarasan. Wanita itu masih tampak menikmati saat Adrian berhenti.


"Sudahlah, aku mau melanjutkan di kamar mandi saja," ucap Adrian setelahnya.


Ia menggeser posisi dan segera turun dari ranjang.


"Memang mau apa di kamar mandi?"


Ingin sekali Adrian tertawa melihat kepolosan istrinya itu.


"Mau membelah diri."


"Membelah diri?" tanya Naomi dengan kerutan tipis di kening. 


"Tadinya mau membelah kamu tapi ternyata belum bisa."  

__ADS_1


Naomi masih menatap heran, hingga suaminya itu menghilang di balik pintu kamar mandi. 


...****...


__ADS_2