My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 75 : Misi Mulia Berhasil


__ADS_3

Hwalloooooowww .... Sebelum baca, iklan lagi gengs. Heheh Jangan lupa mampir yaaahhh.


Author : Violla


Judul : MANTAN TAPI MENIKAH


INI DIA



Jangan lupa mampir gengs. Terima kasih 🥰🥰🥰


.


.


.


.


“Baiklah kalau kamu memaksa. Aku akan berbaik hati mengabulkan permohonanmu.” Sudut bibir Adrian terangkat tipis. Naomi bergidik kala jemari Adrian menelusuri punggungnya yang hanya terbalut kain tipis. 


Tubuh Adrian yang kokoh mengangkat Naomi menuju pembaringan, tanpa melepas penyatuan bibir. 


“Kamu berat juga, ya?” protes Adrian, sebelum merebahkan Naomi di peraduan. 


“Apa kamu tidak sadar sedang menggendong dua orang?” Menolak dirinya disebut berat ataupun gendut. 


Baru saja Naomi akan meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, namun Adrian sudah bergerak lebih cepat. Melemparkan selimut hingga teronggok di lantai. 


“Cuaca sedang dingin, biarkan aku memakainya!” 


“Itu hanya akan menjadi pengganggu. Aku yang akan menjadi selimut untukmu.” 


 Adrian mengikis jarak, mengurung tubuh kecil Naomi ke dalam pelukan. Mengalirkan cinta melalui setiap sentuhan. Perlahan tapi pasti, keduanya terjerat ke dalam pusara yang melenakan. Membuatnya seakan terbang ke pintu surga.


Separuh malam pun terlewati.


Adrian merebahkan Naomi di dadanya setelah aktivitas panjang menguras tenaga. Wanita itu masih tampak kesulitan mengatur napas akibat rasa lelah yang membekuk tubuhnya bertubi-tubi.


Adrian meraih selembar tissue dan mengusap kening, pipi dan leher yang penuh dengan keringat. 

__ADS_1


Keduanya lalu saling diam dalam pelukan selama beberapa saat demi melepas lelah. 


“Jadi misi muliamu untuk melestarikan kehidupan sudah berhasil?” bisik Adrian, sambil menciumi kening Naomi berulang-ulang. 


“Belum.”


Naomi membenamkan wajahnya di lekukan leher Adrian. Menyesap aroma maskulin yang menguar dari tubuh itu. Sejak bertemu lagi, aroma tubuh Adrian yang terasa nikmat menjadi candu baginya. 


“Kenapa belum?” 


“Sebenarnya aku punya misi yang lain.” Naomi mendongakkan kepala hingga bibirnya menyentuh dagu Adrian yang ditumbuhi bulu halus. 


Adrian dapat melihat wajah Naomi yang seperti sedang memohon sesuatu. Tanpa perlu dijelaskan, Adrian sudah dapat menebak apa yang ada di benak istrinya. 


Ia menyerah.


Wajah Naomi yang memelas mampu melunakkan hatinya yang sekeras batu. “Baiklah. Aku janji tidak akan memecat mereka.” 


Suram di wajah Naomi mendadak sirna. Binar bahagia terlihat jelas dalam matanya. “Benarkah?” 


Adrian mengangguk pelan. “Tapi aku tetap akan memberikan sanksi yang berat sebagai bentuk hukuman, dan ini tidak bisa ditawar-tawar.” 


Naomi mengangguk penuh semangat. Setidaknya ia sedikit merasa lega.


Misi selesai dengan tercapainya tujuan. Naomi kembali bersandar di dada lebar Adrian dengan manja.


“Oh ya, dari mana kamu mendapatkan pakaian tipis tadi?” Tiba-tiba saja Adrian teringat dengan pakaian wajib wanita dalam novel yang tadi dikenakan Naomi.


"Aku memesannya secara online tadi."


"Pesan online? Kenapa aku tidak tahu?" Kerutan tipis terukir di dahi Adrian. Sebab setahunya ia tak melihat kedatangan seseorang tadi.


"Kamu terlalu fokus bekerja sampai tidak tahu," ujarnya. "Aku lihat saldomu lumayan banyak. Jadi aku pakai sedikit untuk membeli baju itu.”


Adrian menggeleng pelan sambil mengusap wajah Naomi. “Lain kali jangan dipakai kalau belum dicuci. Itu tidak sehat.” 


Naomi menepuk jidat. Ia hampir lupa bahwa suaminya itu adalah tipe orang yang suka kebersihan. Apapun di sekitarnya harus selalu bersih. Terutama makanan dan pakaian. 


“Iya maaf, lain kali akan aku ulangi.” Sambil cekikikan, membuat Adrian menggigit pipinya gemas. 


.

__ADS_1


.


Hari berlalu begitu cepat. Sudah tiba waktunya Adrian dan Naomi kembali. 


Segala urusan pekerjaan telah diselesaikan oleh Adrian. Termasuk menghukum beberapa staf kantor yang pernah menjahati Naomi.


Sebenarnya, lebih tepat disebut dengan balas dendam. Naomi benar, tuan yang satu itu memang sangat pendendam.


Ia memberikan hukuman yang bagi Naomi lumayan berat.


Sekarang mereka sudah berada di bandara. Sedang menunggu kedatangan Bruno yang akan menjemput. Adrian melirik arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangan. Sesekali mendecakkan lidah.


"Kemana orang ini, kenapa belum datang juga?" Ia melirik Naomi yang sepertinya sudah lelah berdiri. "Duduk saja dulu. Sepertinya Bruno terjebak macet."


"Baiklah."


Sebuah kursi panjang menjadi pilihan Naomi untuk merebahkan tubuhnya. Ia bersandar sambil menatap orang-orang yang berlalu lalang. Enam bulan lamanya meninggalkan kota itu, rasanya sangat berbeda.


"Tidak disangka aku kembali ke mari. Enam bulan lalu aku melarikan diri dan berharap tidak pernah lagi bertemu dengan Adrian Marx." Naomi mengusap perutnya yang menonjol sambil melirik Adrian yang tengah sibuk dengan ponselnya. "Sepertinya aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan tuan arogan itu.


Tak lama berselang, sebuah mobil mewah terhenti. Bruno turun dari sana dan menyambut kedua majikannya.


“Selamat datang kembali, Nona. Senang sekali melihat Anda kembali. Nyonya besar pasti sangat senang.” 


“Terima kasih, Bruno.” 


Pria itu meraih dua koper besar dan memasukkan ke dalam bagasi mobil. Adrian merangkul Naomi berjalan menuju mobil. Namun, langkah Naomi terhenti mendadak, bersamaan dengan tatapannya yang terpaku ke satu arah. 


“Ada apa?” tanya Adrian. 


“Aku merasa seperti melihat seseorang di sana.” 


Adrian menoleh mengikuti arah yang ditunjuk Naomi. Namun, yang ada hanya lautan manusia yang lalu lalang. 


“Memangnya kamu melihat siapa?” 


Pandangan Naomi masih menyapu ke segala arah demi menemukan objek yang tadi membuatnya begitu terkejut. 


"Sepertinya aku hanya salah lihat."


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2