
Adrian merangkul pinggang Naomi saat menyadari tatapan semua orang sedang mengarah kepada mereka. Lalu segera melangkah menuju lift yang akan membawa menuju lantai teratas gedung tersebut.
Begitu tiba di ruangan, Naomi langsung menuju jendela kaca besar. Dari sana ia menikmati pemandangan kota yang tersaji di depan matanya.
“Aneh ya, aku sudah berbulan-bulan bekerja di sini. Tapi kenapa tidak tahu kalau perusahaan ini milikmu?” celotehnya sambil menatap kagum gedung-gedung tinggi di sekitar.
“Kalau kamu tahu sejak awal bahwa pemiliknya adalah si jelek, arogan, pemaksa dan tua bangka, apa kamu masih mau bekerja di sini?” Adrian terkekeh setelah mengucapkan kalimat sindiran itu. Apa lagi setelah melihat bibir Naomi yang maju.
“Tentu saja tidak. Aku 'kan sedang dalam pelarian.”
"Untung tidak tahu."
Adrian memilih duduk di kursi dan membiarkan Naomi dengan kekagumannya. Sebelum memulai bekerja, ia meraih gagang telepon dan menghubungi seseorang.
“Alexa, tolong pesankan sandwich dan jus tomat untuk istriku. Sekalian air mineralnya,” perintah Adrian.
“Baik, Tuan. Saya akan meminta OG membawakannya segera,” jawab Alexa.
“Tidak! Aku mau kamu yang melakukannya.”
“Ba-baik, Tuan. Tunggu sebentar.”
Adrian meletakkan kembali gagang telepon setelah selesai dengan urusannya.
Kemudian membuka laptop dan memulai pekerjaan. Sesekali diliriknya Naomi yang masih betah memandangi gedung-gedung tinggi itu.
"Kenapa melihatnya sampai melongo begitu? Kamu seperti baru melihatnya saja."
"Memang baru," jawabnya cepat. "Aku lama bekerja di sini tapi baru kemarin bisa masuk ke ruangan ini."
__ADS_1
Naomi melirik suaminya.
“Ngomong-ngomong kenapa suruh Nona Alexa yang pesan sarapan? Di bawah 'kan ada office Girl yang bisa disuruh?” tanya Naomi bingung. Mengingat jabatan Alexa yang merupakan seorang sekretaris.
“Tidak usah sesopan itu kalau menyebut namanya,” ucap Adrian kesal. “Lagi pula kenapa kalau aku mau menyuruhnya?”
Menyadari ekspresi kesal Adrian, Naomi menerbitkan senyum lebar. “Tidak apa-apa. Terserah anda, Tuan. Anda raja di sini.”
Aku akan menghukum orang-orang yang menghinamu kemarin. batin Adrian.
Naomi lalu mendekat ke meja kerja dan berdiri di sisi suaminya. “Apa boleh aku pinjam ponselnya?”
“Untuk apa?”
"Aku mau pinjam saja." Merengek dengan manja sambil menarik lengan pakaian suaminya.
Ada apa dengannya? Kenapa jadi manja begini? Tapi aku suka, dia semakin lucu.
Wanita itu meraihnya dengan sumringah. Lalu kembali berdiri di depan dinding kaca dan berselfie ria. Adrian sampai menggeleng heran. Naomi tidak pernah seperti ini sebelumnya.
“Jangan bilang itu juga pengaruh bayi.”
Beberapa menit berlalu. Terdengar suara pintu diketuk, disusul dengan kemunculan Alexa yang datang dengan membawa nampan di tangan.
“Permisi, Tuan. Ini pesanan Anda,” ucapnya sopan. Adrian dapat melihat betapa wanita itu gugup saat memasuki ruangannya.
“Letakkan di meja saja.” Menunjuk meja di dekat sofa di mana Naomi sedang duduk santai dengan memanjangkan kaki, sambil memainkan ponsel.
Adrian menyeringai melihat Alexa yang semakin gugup.
__ADS_1
“Permisi, Nona. Ini menu sarapan Anda,” ucapnya, dengan nada gemetar.
Naomi pun hampir sama gugupnya, dan Adrian dapat membaca dari raut wajahnya. Masih pula teringat kalimat kasar Alexa kemarin saat memecat Naomi.
“Terima kasih, Nona Alexa.” Naomi menurunkan kaki ke lantai dan menatap menu sarapan yang dibawa Alexa. “Jus tomat? Siapa yang pesan jus tomat?”
“Anda tidak suka jus tomat?” tanya Alexa. Naomi terdiam beberapa saat, lalu menggeleng pelan. Sepertinya terkejut dengan Alexa yang mendadak berubah sangat sopan. Bukan lagi seorang sekretaris angkuh yang senang menghina dan memarahinya.
“Oh ... aku lupa kalau kamu tidak suka rasa tomat. Maaf, Sayang.” Adrian menyembunyikan seringainya. “Alexa, tolong pesan jus jeruk saja.”
“Baik, Tuan. Saya akan segera kembali.” Wanita itu membungkukkan kepala hormat.
Begitu Alexa keluar dari ruangan, Naomi menatap Adrian dengan dahi mengerut. “Kenapa pesannya jus tomat? Aku kan tidak pernah suka rasanya?”
“Aku lupa, Naomi Claire. Memang manusia tidak boleh lupa?” Adrian mengalihkan pandangan ke laptop saat Naomi menatap penuh selidik. "Kenapa melihatku begitu?"
"Aku hanya merasa selain arogan dan pemaksa, kamu juga sangat pendendam ya, Tuan. Bahkan lebih pendendam dariku."
"Aku memang pendendam. Termasuk terhadap seseorang yang sudah membuatku hampir gila selama enam bulan, dan aku sedang memikirkan cara balas dendam terkejam untuknya."
"Kamu ini suami atau ter0ris? Kenapa senangnya memberi ancaman?" pekik Naomi.
"Kamu sendiri bagaimana? Kamu istri atau buronan, kenapa senangnya melarikan diri?"
Naomi merengut, membuat gelak tawa Adrian memenuhi ruangan.
.
.
__ADS_1
.