My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 57 : Apa Nenek Tidak Mau Melihat Anakku?


__ADS_3

Naomi membalikkan tubuhnya ketika menyadari keberadaan Adrian di tempat itu. Menyembunyikan tubuhnya di balik sebuah pilar besar sambil mengamati keadaan sekitar. Kemudian melangkah cepat ke arah berlawanan dan meninggalkan stasiun dengan tergesa-gesa. 


“Huft ... hampir saja tertangkap. Bagaimana mereka tahu aku di sini?” 


“Kenapa aku sebodoh ini? Tentu saja dia akan sangat mudah menemukanku. Kenapa aku tidak sadar seberapa berkuasa tuan pendendam itu?” 


Naomi baru bisa bernapas lega saat telah berhasil keluar dari stasiun. Walau begitu, masih harus berhati-hati karena orang-orang Adrian masih terus berjaga di sekitar. 


Sementara itu di dalam stasiun ....


“Kamu yakin dia di sini?” tanya Adrian dengan pandangan terus meneliti ke segala arah. 


“Iya, Tuan. Nona Naomi tercatat sebagai salah satu penumpang kelas ekonomi dengan tujuan Philadephia.” 


Adrian meraih secarik kertas yang disodorkan Bruno, berisi copy-an data penumpang kereta. Benar saja, tercantum nama Naomi Claire di sana. Adrian menghembuskan napas frustrasi. Kertas di tangannya ia remas hingga kusut dan nyaris sobek. 


“Periksa semua kereta dan jalur keluar stasiun, jangan sampai kehilangan jejak lagi!” 


“Baik, Tuan.” 


Penjagaan pun diperketat. Tak ada yang luput dari pemeriksaan, namun hasilnya tetap sama. Mereka tak juga berhasil menemukan Naomi. Tiga hari pencarian tanpa henti yang tak membuahkan hasil membuat Adrian murka.


Malam ini Adrian harus pulang dengan tangan hampa. Setibanya di apartemen, ia menghempas tubuhnya ke ranjang.


Rasa lelah seakan memaksa untuk terpejam, namun bayangan Naomi terus menghantui. Satu tangan Adrian mengusap tempat kosong di sebelahnya. 

__ADS_1


Perlahan kerinduan itu terasa semakin nyata dan membekuk hatinya. Masih lekat dalam ingatan Adrian ketika Naomi menemaninya berbaring di sana. Ia lalu mengeluarkan hasil USG yang selalu dibawanya ke mana-mana. Menatapnya dengan dalam. 


“Kemana aku harus mencarimu? 


Sepasang matanya terpejam, kertas ditangannya ia dekap di dada. 


“Aku akan terus mencarimu meskipun harus ke ujung dunia sekali pun.” 


.


.


"Ada perkembangan apa?" tanya Adrian pagi harinya.


Bruno baru saja kembali setelah semalaman mencari Naomi di berbagai tempat.


Punggung Adrian bersandar di kursi sambil menatap pemandangan kota dari lantai teratas gedung itu. Ia tak menyalahkan semua orang-orangnya yang belum bisa menemukan Naomi. Sebab sadar semua adalah salahnya sendiri, yang membuat Naomi salah paham dan berpikir negatif.


"Baiklah, teruskan saja pencarian."


"Baik, Tuan. Tapi saya baru saja menerima kabar dari rumah. Sejak kemarin nyonya besar tidak mau makan. Beliau bilang akan menunggu Nona Naomi."


"Baiklah, aku akan pulang pagi ini."


Setelahnya, Adrian pun memutuskan untuk pulang ke kediaman keluarga Marx. Ia sebenarnya ragu untuk menemui nenek karena tak memiliki jawaban jika nanti nenek menanyakan keberadaan Naomi. 

__ADS_1


“Jauhkan itu dariku. Aku akan makan bersama Naomi nanti!” tolak Nenek Camila.


Adrian melirik nenek yang tampak enggan menyentuh sarapannya. Mereka sudah tidak punya cara lain lagi untuk membujuk wanita itu agar mau makan. 


“Nenek, aku mohon makanlah,” bujuk Adrian lembut. “Apa nenek tidak mau melihat anakku?” 


Wajah murung Nenek Camila perlahan menghilang mendengar ucapan Adrian. “Anakmu? Maksudmu Naomi sedang—” Ucapan Nenek Camila terpotong di udara, seakan tak sanggup untuk mengekspresikan rasa bahagia. 


“Iya, Nenek. Naomi sedang hamil.” 


“Naomi hamil ... aku akan memiliki cicit?” Ia tersenyum bahagia sampai hampir menangis. Harapannya selama ini akan segera terwujud. Namun, tiba-tiba binar bahagia di wajahnya kembali meredup dan Adrian dapat membaca kesedihan di wajah sang nenek. 


Adrian menggenggam jemari Nenek Camila dan mencium punggung tangannya. “Jangan khawatir. Naomi pasti segera ditemukan. Dia hanya marah padaku karena salah paham.” 


“Tapi dia ke mana? Tidak aman baginya di luar seorang diri dalam keadaan hamil. Cepat temukan dia, Adrian.” 


“Aku akan berusaha semampuku. Sekarang Nenek makan, atau Naomi akan marah pada Nenek juga.” 


“Baiklah, cepat suruh mereka membawakan sarapanku. Aku tidak boleh mati sebelum melihat anakmu lahir.” 


Adrian memberi isyarat kepada seorang pelayan untuk mengambilkan menu sarapan Nenek Camila. Dengan cekatan, wanita itu meletakkan nampan berisi sarapan di meja. 


Nenek Camila pun menyantap sarapannya dengan lahap. 


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2