My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 79 : Suami Seorang Pangeran


__ADS_3

Tak seperti biasanya, di mana selepas sarapan Adrian akan langsung berangkat ke kantor. Pagi ini sedikit berbeda, ia sedang menikmati secangkir kopi dengan sebuah koran di tangan. Ketukan pintu berhasil membuyarkan konsentrasi Adrian. Disusul dengan kemunculan dua orang pelayan dari balik pintu. 


“Anda memanggil kami, Tuan,” tanya kepala pelayan yang baru saja masuk.  


Pandangan Adrian mengarah kepada dua wanita yang membungkukkan kepala di hadapannya. “Ya, aku ingin kalian melakukan sesuatu.” 


“Baik, Tuan.” 


Adrian melipat koran di tangannya, lalu meletakkan ke meja. “Mathilda dan Layla, aku akan menugaskan kalian berdua untuk melayani Naomi saja. Jangan biarkan dia melakukan pekerjaan apapun. Jadi, sepanjang hari sebelum aku kembali, kalian akan menemaninya. Kalian mengerti?” 


Dua wanita dengan seragam navy kombinasi putih itu saling melirik selama beberapa detik, sebelum menunduk lagi. “Mengerti, Tuan,” jawab mereka bersamaan. 


“Satu lagi, laporkan hal sekecil apapun padaku, termasuk jika ibuku melakukan sesuatu. Jangan khawatir tentang gaji, karena aku akan menaikkan gaji kalian.” Ucapan Adrian mengembangkan senyum pelayan itu. 


“Terima kasih, Tuan.” 


“Baiklah, kalau sudah jelas, kalian boleh keluar.” 


Selepas kepergian wanita tadi, Adrian menyesap sisa kopi di cangkir, lalu beranjak keluar. Bruno tampak sudah menunggu di ruang tengah, namun Adrian malah menggerakkan tubuhnya menuju tangga. Sudah dapat ditebak bahwa pria itu akan berpamitan dahulu dengan bidadari dalam hidupnya. 


Begitu memasuki kamar, Naomi tampak sedang asyik memainkan ponselnya. Bahkan tak mendengar suara langkah kaki Adrian. 


“Sedang apa?” Sambil ikut menatap ke layar ponsel. “Kamu sedang tidak chatting dengan laki-laki lain, kan?” 


“Tidak, aku sedang baca novel online.” 

__ADS_1


“Novel online?” 


“Iya. Aku dapat pemberitahuan kalau penulis favoritku, ANARITA, baru saja merilis novel baru. Aku jadi penasaran dan mau membacanya.” 


“Memang kisahnya tentang apa?” 


“Uh ini yang lucu. Kami memiliki sedikit kesamaan. Kalau aku mendapatkan suami pangeran neraka, tokoh  utama di novel ini malah mendapatkan suami pangeran duyung.” 


Adrian menepuk dahi mendengar ucapan Naomi yang seolah mampu melumpuhkan akal sehatnya. Ia langsung melirik arloji yang melingkar di tangan. 


“Aku akan menuntut penulis bernama Anarita itu karena sudah membuatmu berhalusinasi membaca novelnya.” 


Naomi mencebikkan bibir. “Kamu baca makanya berkata begitu. Aku yakin kalau kamu membacanya, akan ketagihan seperti aku.” 


“Sudah, Sayang. Aku harus berangkat sekarang.”


“Oh ya, aku sudah perintahkan Mathilda dan Layla untuk melayanimu. Jadi kalau butuh sesuatu, kamu tinggal meminta mereka.” 


“Baiklah.” 


“Sore nanti aku jemput, ya.” 


Lagi, Naomi mengangguk. Sore ini ia dan Adrian akan berkonsultasi ke dokter. Karena beberapa hari lalu saat masih di kota Bradford, janji dengan dokter terpaksa dibatalkan karena Adrian harus menghadiri rapat mendadak dengan beberapa investor. 


.

__ADS_1


.


.


“Bisa kita bicara sebentar, Bu?” Adrian menghampiri sang ibu, yang pagi itu tengah menikmati segelas jus di tepi kolam renang. Tempat yang menjadi tempat favoritnya setiap pagi.  


“Ada apa, Nak?” 


Adrian memilih duduk di sebuah kursi kayu. Menatap sang ibu yang tampak enggan. Sepertinya sisa perdebatan semalam masih menyisakan rasa kesal. Ia tak juga melunak. 


“Aku hanya mau meminta Ibu untuk menerima Naomi sebagai bagian dari keluarga kita. Naomi wanita yang baik, Bu ... dan aku mencintainya.” 


“Ibu tidak bisa, Adrian,” ucapnya mantap. Gelas jus di tangan ia letakkan kembali ke meja. 


 “Baiklah, kalau begitu aku tidak punya jalan lain.” Ia menjeda ucapannya dengan tarikan napas. “Aku akan membeli rumah baru dan membawa Naomi serta nenek.” Ucapan Adrian membuat ibu tersentak. Disusul dengan kerutan di ujung matanya yang terlihat semakin dalam. 


Hela napas wanita paruh baya itu terdengar berat. “Aku tidak percaya ini. Anakku sendiri berani mengancamku hanya karena seorang wanita.” 


“Bukan mengancam, tapi memberi pilihan. Selanjutnya, terserah Ibu,” ujar Adrian santai. Meninggalkan tempat duduknya dan berlalu pergi. 


*


*


*

__ADS_1



__ADS_2