My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 115 : My Sexy Little Wife Final Episode


__ADS_3

Hampir satu minggu Naomi menjalani perawatan di rumah sakit. Hari ini, setelah memastikan Naomi dan kedua bayinya dalam keadaan sehat, tim dokter memberi izin untuk meninggalkan rumah sakit.


Naomi tampak sangat antusias dan sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah. Selama seminggu ini ia merasa sangat jenuh. Padahal paviliun super mewah yang ditempatinya memberikan fasilitas lengkap dengan pelayanan paripurna.


"Sudah siap, kan?" tanya Adrian. Pria itu berdiri di belakang Naomi yang sudah duduk di kursi roda dengan memangku Arcello. Sementara Arcella berada dalam gendongan seorang pengasuh.


"Sudah," jawabnya sambil mendongak menatap Adrian. "Kita benar-benar akan pulang ke rumah kita, kan?" Naomi ingin memastikan.


Beberapa hari sebelumnya, ia sudah melayangkan protes terhadap perintah Ibu Hellena yang menginginkan mereka tinggal di istana untuk beberapa waktu. Setidaknya sampai sepasang bayi kembar itu sedikit lebih besar. Namun, perintah itu ditolak Naomi mentah-mentah dengan seribu macam alasan.


"Tenang saja. Ibu sudah mengabulkan keinginanmu. Tapi rumah kita akan dijaga ketat oleh para pengawal istana."


"Tidak apa-apa. Yang penting bukan kita yang akan tinggal di istana." Naomi benar-benar tidak suka aturan ketat istana. Ia suka kebebasan, karena itulah ia memilih tinggal di rumah suaminya.


Adrian mendorong kursi roda meninggalkan Lindo wing. Setibanya di loby, sudah ada banyak wartawan yang menunggu. Begitu melihat sang putri keluar, mereka pun mengabadikan dengan kamera masing-masing.


Namun, pengawal yang berjaga tak memberi celah sedikit pun untuk mendekat. Mereka hanya dapat mengambil gambar dari jarak aman.


Mobil yang ditumpangi Naomi dan Adrian akhirnya melaju meninggalkan halaman rumah sakit. Butuh tiga puluh menit perjalanan untuk tiba di rumah.


Mansion keluarga Marx yang biasanya sepi dan kelabu kini terasa lebih berwarna. Arcella dan Arcello disambut hangat oleh Nenek Camila dan Ibu Iriana.


Dan bukan hanya keluarga Marx, keluarga kerajaan pun sangat senang dengan kelahiran sepasang bayi kembar itu. Berbagai macam hadiah sudah dikirim ke rumah, yang membuat kamar si kembar hampir penuh.


"Cantik sekali cicitku ini," kata Nenek Camila sembari menciumi pipi Arcella. "Dia benar-benar keturunan keluarga Marx. Pipinya kemerahan persis seperti Adrian saat baru lahir."


"Ibu benar. Mereka sangat mirip dengan Adrian," sambung Ibu Iriana.


Kebahagiaan terasa lengkap hari itu. Keluarga Marx dan keluarga kerajaan berkumpul untuk menyambut kepulangan Naomi dan kedua anaknya.


.


.


.


6 bulan berlalu ....


Adrian pulang ke rumah setelah seharian disibukkan dengan pekerjaan. Seperti biasa, saat pulang semua rasa lelahnya akan terbayar lunas, karena akan selalu ada si kembar yang menyambutnya.


Begitu memasuki kamar, Arcella tampak sedang terbaring di ranjang seorang diri. Adrian tersenyum seraya melonggarkan dasi yang melilit kerah kemeja. Lalu mendekati putrinya dan membenamkan kecupan di kening.


"Hey, Sayang ... kenapa sendirian di sini? Mommy di mana?" Ia mencium pipi sekali lagi.


Adrian mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu mencoba menghubungi nomor sang istri. Sebenarnya, ia bisa saja ke kamar sebelah untuk mencari, namun rasa lelah di tubuhnya membuat malas untuk bergerak. Lagi pula, ia ingin menemani Arcella.


"Huft dia selalu meninggalkan ponselnya di kamar," gerutunya, setelah mendengar deringan ponsel milik Naomi yang ternyata berada di laci meja nakas.


"Coba aku periksa ponselnya. Aku mau tahu siapa saja yang menghubungi mommy-mu hari ini," ucapnya kepada Arcella.

__ADS_1


Adrian membuka ponsel milik Naomi yang sama sekali tidak menggunakan kata sandi. Baru saja layar menyala, sudah terlihat puluhan panggilan tidak terjawab. Adrian merasa geram sekaligus penasaran siapa yang menghubungi istrinya sebanyak itu.


Namun, nama yang muncul pada layar membuatnya bernapas lega.


"Eh, tapi apa-apaan ini? Dia masih menyimpan nomorku dengan nama Savage Husband. Awas saja malam ini, aku tidak akan memberimu ampun."


Baru saja Adrian akan beranjak, pintu kamar sudah terbuka dan disusul dengan kemunculan Naomi. "Kamu sudah pulang?"


"Iya. Ngomong-ngomong, di mana Arcello?" tanya Adrian.


"Di kamarnya."


"Apa dia sudah tidur?"


"Belum. Sedang bermain bersama ibu dan nenek. Kenapa pulangnya malam?"


"Aku lembur. Tadi aku menghubungimu puluhan kali tapi kamu tidak jawab."


"Ponselku tertinggal di kamar."


"Memangnya sejak kapan kamu ingat dengan ponsel?" Pandangan Adrian mengikuti istrinya yang sedang berjalan menuju lemari dan mengeluarkan setelan piyama. "Hey, Nona Naomi ... kapan kamu akan mengganti namaku di ponselmu? Apa kamu tidak tahu kalau nama Savage Husband sangat melukai harga diriku?"


Naomi nyengir memamerkan deretan giginya. "Aku suka julukan itu. Bukankah sangat sesuai dengan kepribadianmu yang pemaksa?"


Adrian menghela napas panjang. "Apa menurutmu aku sekejam itu?"


"Hey, Tuan Adrian jelek, arogan, pemaksa, dan tua bangka, kamu sendiri bagaimana? Namaku di ponselmu pasti lebih aneh," omel Naomi seraya melepas pakaian dan mengganti dengan piyama.


"Tentu saja aku tahu. Karena kamu selalu menjajahku sejak pertama bertemu. Pertama, kamu membeliku dari Madam Leova untuk balas dendam dengan Nona Haylea, lalu kamu memanfaatkan tubuhku untuk menyenangkan tubuhmu. Dan sekarang kamu menjadikanku objek untuk memproduksi anak-anakmu."


Omelan panjang Naomi membuat tawa Adrian meledak hingga Arcella yang tengah lelap terbangun. Alhasil, tangisan pun memenuhi kamar.


"Kamu tertawa dengan suara ultrasonik, ya? Arcella jadi terkejut begini."


"Suara ultrasonik? Apa lagi itu?" tanya Adrian, berusaha meredam tawa.


Bibir Naomi sudah mengerucut. Ia membaringkan Arcella di ayunan, hingga bayi mungil itu kembali terlelap.


"Kalau tidak percaya lihat sendiri saja di ponselku," tawar Adrian.


Setelah memastikan Arcella benar-benar nyenyak, wanita itu segera menuju meja nakas dan meraih ponsel milik suaminya.


"Password-nya apa?"


"Tanggal lahirmu!"


"Lihat kan, tanggal lahirku saja kamu eksploitasi untuk dijadikan kata sandi ponselmu."


Adrian mengatupkan bibir demi tak meledakkan tawa lagi. "Itu namanya bentuk cinta, Tuan Putri."

__ADS_1


Sepasang mata Naomi menyipit menatap suaminya. Lalu, masukkan kata sandi dengan menggunakan tanggal lahirnya.


Benar saja, ponsel milik Adrian langsung terbuka. Membuat Naomi membelalak.


"Ya ampun, fotoku pun tidak lolos dari penjajahanmu dan dijadikannya wallpaper."


Naomi membelakangi Adrian. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman. Ia tiba-tiba berdebar. Hatinya terasa menghangat, yang membuat kedua sisi pipinya memerah. Sebesar itukah cinta Adrian terhadapnya?


"Aku akan memeriksa ponselmu, Tuan! Awas saja kalau kamu menyimpan nomorku dengan nama aneh," ancamnya.


Adrian masih terkekeh menatap punggung istrinya.


Sementara Naomi langsung memeriksa daftar kontak. Senyum di bibirnya kian melebar ketika mengetikkan nomor ponselnya hingga memunculkan satu nama.


"My $exy Little Wife?"


Ah, tuan arogan dan pemaksa itu manis sekali. Dia menyimpan namaku dengan nama manis ini.


Naomi menoleh dengan memulas senyum manis. Ia maju beberapa langkah dan menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Adrian.


"Apa? Kamu mengira aku menyimpan nomormu dengan nama yang aneh?" tanya Adrian.


"Tidak. Ternyata selain pemaksa kamu juga sangat manis. Sejak kapan kamu menyimpan nama itu?"


"Sejak awal kita menikah."


Naomi terbelalak. "Apa? Sejak awal?"


"Memang kenapa? Tidak boleh?"


Naomi kembali tersenyum. Hatinya berbunga-bunga. "Sayang ... apa kamu tidak tertarik untuk mempelajari anatomi tubuh manusia?"


Adrian menyeringai.


"Wah tumben sekali kamu memanggil sayang. Tapi sayangnya aku lebih tertarik mempelajari rumus nuklir," balas Adrian seraya menirukan gaya berbicara Naomi.


"Untuk apa belajar nuklir? Nuklir hanya dibutuhkan dalam peperangan. Aku cinta damai."


"Fungsi nuklir bukan hanya untuk berperang, Naomi Claire."


"Aku tahu. Tapi lebih baik kita mempelajari anatomi tubuh manusia saja, karena bahan dan alatnya sudah tersedia di tubuh kita," bisik Naomi sambil menciumi lekukan leher Adrian.


"Apa ini jurus barumu dalam merayu?"


Tawa Adrian pecah. Ia menarik Naomi ke pelukannya. Kemudian melewati malam panjang bersama. ^_^


Kata orang jodoh sudah digariskan sebelum manusia itu sendiri terlahir. Adrian yakin Naomi adalah jodoh dan belahan jiwanya hingga maut memisahkan.


****

__ADS_1


Tamat


__ADS_2