
Pagi ini Adrian akan bertolak ke Kota Bradford, sebuah kota kecil di Inggris bagian Utara. Keberangkatan Adrian kali ini bukan hanya untuk urusan bisnis. Ia juga akan menghadiri pembukaan kantor cabang baru.
“Teruskan pencarian. Beritahu aku setiap ada perkembangan sekecil apapun,” ucap Adrian sesaat setelah tiba di bandara.
Bruno meletakkan koper milik tuannya ke lantai.
“Baik, Tuan. Tapi apa Anda yakin pergi sendirian?” tanya Bruno hendak memastikan.
“Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa. Maksud saya, mungkin Anda membutuhkan seseorang untuk membantu keperluan Anda di sana.”
“Tidak usah. Aku bisa mengurus semuanya sendiri. Lagi pula di sana ada Alexa dan Hendry.”
"Baik, Tuan."
.
.
Di sebuah gedung perkantoran ....
“Apa ini? Kenapa lantainya licin sekali?” pekik seorang wanita berpakaian rapi yang hampir saja terjungkal akibat lantai yang licin. Ia melirik seorang wanita dengan perut membesar yang sedang mengepel lantai tak jauh darinya.
“Erina!” panggil wanita itu. “Erina Malvina!” teriaknya lagi saat tak menerima sahutan.
Wanita yang sedang membersihkan itu terlonjak mendengar teriakan atasannya, lalu dengan cepat ia mendekat. “Anda memanggil saya, Nona?”
“Ya ampun, apa kamu lupa dengan namamu sendiri? Aku sampai memanggilmu beberapa kali!” ujarnya dengan sorot mata mengintimidasi.
Namaku Naomi Claire, bukan Erina Malvina. Wajar kan, kalau aku lupa nama samaran ku.
Namun gerutuan panjang itu hanya di hati. Berbeda dengan bibirnya yang mengulas senyum. “Ma-maafkan saya, Nona. Saya tidak mendengar panggilan Anda."
__ADS_1
"Lihat, apa yang kamu lakukan. Kenapa lantainya licin sekali? Aku hampir saja jatuh. Kalau tidak bisa bekerja dengan baik, katakan! Di luar sana ada banyak orang yang butuh pekerjaan,” makinya panjang lebar.
Wanita berseragam khas petugas kebersihan kantor itu menatap lantai tempat mereka berpijak, yang memang masih basah. “Saya akan membersihkannya lagi. Tolong jangan pecat saya.”
“Baiklah, ini peringatan terakhir. Kalau kamu lakukan kesalahan seperti ini lagi, maka aku tidak akan segan memecatmu.”
“Baik. Sekali lagi saya minta maaf,” ujar Naomi sambil membungkukkan kepala.
Alexa pun segera beranjak. Namun baru beberapa langkah, ia kembali berbalik ketika teringat sesuatu. “Oh ya, bersihkan ruangan paling atas sekalian di samping ruanganku. Besok bos kita akan berkunjung kemari. Aku tidak mau ruangannya sampai kotor.”
“Baik, Nona. Saya akan membersihkannya setelah selesai di sini.” Naomi menghembuskan napas panjang saat menatap wanita yang baginya sangat galak itu.
"Bagaimana aku lupa kalau sedang menggunakan identitas orang lain? Hemm ... Erina Malvina?"
.
.
Sore menjelang. Naomi sedang bersiap-siap untuk pulang. Ia melirik arah jarum jam di dinding, sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan pribadi Alexa.
"Mau apa lagi kamu, Erina? Aku sedang sibuk."
Naomi tampak ragu. Kedua tangannya saling meremas. "Saya mau menanyakan gaji saya yang bulan ini belum diberikan.”
Tawa sinis terdengar dari mulut Alexa. “Giliran gaji kamu selalu ingat, tapi pekerjaan tidak pernah beres.”
Rasanya, Naomi benar-benar ingin menjambak rambut berwarna keemasan milik wanita itu.
"Saya berjanji akan bekerja lebih baik lagi."
Lupakan harga diri, Naomi. Kamu butuh uang untuk bertahan hidup.
"Baiklah, kali ini aku akan memaklumi semua kesalahanmu. Aku akan hubungi Michelle untuk memberikan gajimu."
__ADS_1
.
.
Sepasang mata Naomi berbinar menatap beberapa menu yang terdapat pada sebuah food court.
Sudah beberapa hari ini ia sangat menginginkannya, namun baru dapat membelinya. Karena sebelumnya, gaji bekerja harus tertahan karena melakukan banyak kesalahan. Padahal gaji dari pekerjaannya sebagai petugas kebersihan tidak begitu besar.
"Hemm ... ternyata enak sekali," gumamnya sambil melahap potongan demi potongan roti di hadapannya.
Di sisi lain,
Adrian memperhatikan jalan-jalan yang dilewati. Mobil melaju pelan saat tiba di sebuah jalan yang cukup ramai. Perhatiannya lalu teralihkan pada sebuah food court. Ia terpaku menatap wanita berambut cokelat bergelombang yang sedang duduk dengan posisi membelakanginya.
Adrian menyandarkan punggungnya. “Aku pasti sudah gila. Kenapa aku merasa melihat Naomi di mana-mana?”
.
.
Naomi melewati jalan-jalan sepi dan gelap menuju rumah sewanya. Hari ini cukup melelahkan baginya. Bekerja di bawah tekanan dengan atasan yang galak sangat menguras emosi. Tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa selain menjalaninya.
Setidaknya, bagi Naomi kehidupan sekarang jauh lebih baik. Dibanding hidup di bawah ancaman seorang Adrian Marx. Seseorang yang menikahinya hanya karena ambisi balas dendam.
Naomi tiba di sebuah rumah yang cukup sempit. Sebuah rumah sederhana yang disewanya dari sang pemilik dengan harga yang cukup murah. Naomi langsung menuju kamar dan berganti pakaian. Kemudian membaringkan tubuh lelahnya di ranjang sempit. Sebuah selimut tipis ia gunakan untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin.
“Aku harus bagaimana sekarang? Tidak lama lagi aku akan melahirkan seorang anak sendirian.”
Tiba-tiba cairan bening menggenang di bola matanya. Naomi mengusap perutnya kala merasakan gerakan-gerakan kecil dari dalam sana. Ia membalikkan tubuhnya sambil memeluk guling. Dinginnya malam terasa semakin mencekam.
“Bukankah ini sangat aneh? Jelas-jelas dia punya niat jahat padaku. Tapi kenapa hatiku yang bodoh ini malah merindukannya?”
"Kenapa tiba-tiba aku ingin sekali dipeluk olehnya?"
__ADS_1
.
.