
“Aku akan meminta Michelle memberikan sisa gajimu. Sekarang pergilah dari sini dan cari pekerjaan lain yang cocok untukmu,” ucap Alexa.
Tidak ada yang dapat dilakukan Naomi selain pasrah. Memohon kepada wanita angkuh dan keras kepala seperti Alexa pun percuma. Kakinya perlahan melangkah keluar. Saat telah di ambang pintu, Alexa kembali memanggil.
“Tunggu sebentar!” Wanita itu membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map dari sana. “Sebelum pergi tolong bawa ini ke ruangan atas yang kemarin kamu bersihkan. Berikan ini pada Tuan.”
“Baik, Nona,” sahut Naomi seraya menerima map dari tangan Alexa.
Setelahnya, Naomi beranjak dari ruangan dengan lesu, membayangkan akan seperti apa hidupnya di hari-hari berikut.
“Kenapa hidupku jadi semakin tragis?”
Naomi hampir putus asa. Ia jatuhkan tubuhnya pada sebuah kursi panjang. Melamun beberapa saat hingga mendengar suara cekikikan yang berasal dari sisi kiri.
“Ada apa, Erina? Apa kamu benar-benar dipecat?” tanya salah seorang rekannya.
Naomi tak menyahut. Pandangannya tertunduk, dan itu sudah cukup untuk menjadi sebuah jawaban.
Jahat sekali mereka. Seharusnya ikut prihatin malah tertawa.
“Oh, aku ikut sedih. Tapi Nona Alexa memang membuat sebuah keputusan tepat. Kalau jadi dia aku juga akan melakukan hal yang sama.”
Naomi menghembuskan napas kasar. Ingin rasanya ia menjambak rambut temannya itu. “Tolong jangan ganggu aku. Pergilah!”
“Baiklah, aku juga tidak mau lama-lama di sini. Aku takut Nona Alexa akan memecatku juga kalau berbicara denganmu. Sudah ya, semoga harimu menyenangkan.” Ia melambaikan tangan sambil melangkah pergi.
Naomi pun menatap map di pangkuannya. Sekarang ia harus membawa benda tersebut ke lantai atas, lalu menemui Michelle untuk meminta sisa gaji. Setelahnya ... entah ke mana takdir akan membawanya.
Tak ingin mengulur waktu, Naomi segera beranjak menuju ruangan sang bos sesuai perintah Alexa. Beberapa kali Naomi mengetuk pintu, namun tak ada sahutan dari dalam sana. Akhirnya ia berinisiatif membukanya sendiri.
Pandangan Naomi mengedar pada ruangan itu. Suara gemercik air menandakan sang pemilik ruangan tengah berada di kamar mandi.
“Pantas tidak menyahut. Orangnya di kamar mandi.”
Naomi mempercepat langkahnya memasuki ruangan itu. Baru akan meletakkan map di meja, sesuatu yang mengejutkan sudah menyita perhatiannya.
__ADS_1
Sepasang netra Naomi refleks membola saat menatap foto berbingkai kayu yang tertata di atas meja, yang membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Apa lagi kala menatap nama yang tertera pada sebuah papan nama. Map di tangannya terjatuh ke lantai begitu saja.
“Adrian Marx?”
.
.
.
Adrian keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya mendengar suara ketukan pintu beberapa kali. Namun, saat keluar tak ada siapapun di ruangan itu. Hanya sebuah map yang berserakan di lantai.
“Siapa yang kemari?” gumamnya, lalu memunguti map yang berantakan.
“Anda memanggil saya, Tuan?” Sapaan itu membuat Adrian menoleh pada sosok wanita yang sedang berdiri di ambang pintu.
“Iya, Alexa. Ada yang mau kubicarakan denganmu.”
Ragu-ragu wanita itu melangkah masuk. Ingin membantu Adrian merapikan map yang berjatuhan, tetapi pria itu menolak.
Hey, ada apa dengan Tuan Marx? Dia menjadi lebih ramah dan lebih manusiawi.
“Emh, itu pasti perbuatan Erina Malvina. Dia memang tidak pernah melakukan pekerjaan dengan benar,” gerutu Alexa.
Adrian lalu bangkit dan meletakkan map di meja. “Siapa itu Erina Malvina?”
“Petugas kebersihan, Tuan. Saya baru saja memecatnya.”
Ingatan Adrian pun mengarah pada temuannya siang tadi, saat Alexa memarahi seorang wanita. “Oh, yang tadi kamu tegur di bawah itu?”
Kerutan di dahi Alexa semakin dalam. “Anda melihatnya?”
“Iya. Karena itulah aku memanggilmu ke mari,” ujar Adrian. “Lain kali jangan seperti itu. Apa lagi terhadap seorang wanita hamil.”
Alexa meraba tengkuk lehernya yang terasa meremang. Sejak kapan Tuan Adrian Marx peduli terhadap seseorang? Alexa hampir tak percaya.
__ADS_1
“Maaf, Tuan. Tapi saya perlu melakukannya. Erina itu sangat tidak disiplin. Kalau dimaafkan, itu akan membawa pengaruh buruk bagi yang lain. Karena itu saya memecatnya.”
“Baiklah, kali ini aku akan menganggap semuanya beres. Tapi lain kali aku tidak mau ada karyawan diperlakukan seperti tadi, apa lagi seorang wanita hamil.”
“Baik, Tuan. Saya minta maaf.” Alexa menunduk sambil menyembunyikan wajah merahnya.
"Oh ya, wanita yang kamu pecat tadi, minta untuk kembali bekerja di sini. Tidak perlu dipecat. Dia pasti sangat membutuhkan pekerjaan."
"Baik, Tuan. Saya akan menghubunginya nanti."
Perhatian Alexa lalu terfokus pada beberapa foto yang tertata rapi di atas meja. Ia menatap intens hingga lupa berkedip dan Adrian dapat menyadari raut wajah Alexa yang tiba-tiba berubah.
“Itu foto istriku, Naomi,” ucap Adrian.
Apa? Foto istrinya?
Semakin pucat saja wajah Alexa. Spontan kedua bola matanya terbelalak. Ia hampir tak percaya dengan temuannya.
"Istri Anda?" tanya Alexa diikuti anggukan kepala Adrian.
Lemas sudah tubuh Alexa.
Ingatannya langsung tertuju pada tayangan televisi yang ditontonnya beberapa bulan lalu. Tentunya, Alexa hanya mengingat sosok wanita muda dan cantik yang digandeng Adrian ke sebuah pesta. Lalu tiba-tiba rumor tentang hilangnya istri Adrian Marx berhembus di masyarakat.
Ini kan foto Erina. Apa jangan-jangan ....
Matilah aku!
Menyadari ekspresi Alexa, Adrian pun melayangkan tatapan penuh selidik.
"Kenapa? Kamu pernah mengenalnya?"
.
.
__ADS_1