
Bola mata Naomi melotot tajam mendengar panggilan yang disematkan Adrian. Kepalanya mendongak dan hampir saja mencium dagu Adrian yang ditumbuhi rambut halus.
“Bidadari neraka?” ucapnya seolah tak terima.
“Kenapa kamu keberatan? Aku saja tidak keberatan kamu panggil pangeran neraka.” Adrian mengusap puncak kepala Naomi lembut. “Kita akan menjadi penghuni paling serasi di neraka, dan anak kita akan menjadi anak paling lucu di neraka.”
Bangga sekali dia mengatakannya. Siapa juga yang mau jadi penghuni neraka bersamamu? Begitu tatapan Naomi berbicara.
“Tidak lucu!” dengusnya. Sedikit mendorong tubuhnya menjauh.
Adrian malah terkekeh melihat Naomi memunggungi dirinya. Membuatnya memilih memeluk wanita itu dari belakang dan mengelus perutnya.
“Kamu sudah periksa belum? Dia laki-laki atau perempuan?” Mengelus perut sambil menciumi tulang leher belakang istrinya.
Naomi merasa tubuhnya meremang saat itu juga. Adrian yang biasanya suka mengancam menjadi sangat lembut dan terkesan romantis.
“Belum. Aku belum punya waktu untuk melakukannya.”
“Bagaimana kalau hari ini kita ke dokter kandungan?” tawarnya.
Naomi mengangguk saja. Lagi pula percuma melawan Adrian yang pemaksa. Tidak akan berhasil.
“Kalau begitu biarkan aku tidur sebentar. Aku belum tidur sejak semalam karena menjagamu.”
Tiada sahutan dari Naomi. Kebisuan pun melanda beberapa saat hingga akhirya terdengar napas Adrian yang mulai teratur, menandakan laki-laki itu sudah tidur.
__ADS_1
.
.
.
Naomi membalikkan tubuhnya dengan sangat hati-hati agar tak sampai mengganggu Adrian. Ditatapnya sosok berkharisma itu dalam-dalam. Membeku memandangi setiap pahatan sempurna wajahnya.
“Dia sudah tidur?” Menunjuk-nunjuk pipi Adrian dengan jari telunjuknya. Tiadanya respon dari sang suami membuatnya meyakini jika laki-laki itu masih tenggelam di alam mimpi.
“Dia benar-benar sudah tidur,” gumamnya pelan. “Sekarang aku akan menghukummu sepuasku, Tuan Adrian jelek, arogan, pemaksa dan tua bangka. Apa kamu tahu ... aku benci kamu dari ujung kaki sampai ujung rambut.”
Tangannya terangkat mengelus puncak kepala laki-laki itu. Membelai rambutnya dengan lembut. Lalu, mencium keningnya pelan-pelan.
Tiba-tiba bayangan hantu dengan kepala habis dijahit terbayang dalam benak Naomi. Membayangkan wajah Adrian dalam bentuk Frankestein cukup membuatnya tertawa.
Ia melepas tangan Adrian yang berada di atas perutnya. “Tangan besar ini yang selalu seenaknya menyentuhku tanpa permisi. Aku ingin sekali menggigitnya.” Menciumi punggung tangan Adrian beberapa kali. Lalu melingkarkan kembali ke perutnya. "Siapa juga yang mau dipeluk olehmu? Ini semua karena bawaan bayi."
Kakinya menggerayangi kaki panjang Adrian. Dari ujung kaki ke lutut. “Dan kakimu yang panjang ini. Kenapa selalu saja berhasil menemukanku? Aku ingin sekali merantainya dengan rantai besi, dan kamu tidak akan bisa kemana-mana.”
Ia memandangi Adrian lagi. Satu tangannya bergerak membelai wajah.
“Wajah bodoh ini lah yang selalu menyiksaku dengan kerinduan setiap malam. Tapi jangan terlalu percaya diri, Tuan. Itu hanyalah bawaan bayi di dalam perutku.” Menciumi pipi Adrian berulang-ulang.
Lalu, menghela napas panjang setelahnya. Ibu jarinya lantas bergerak mengelus bibir sensual suaminya itu.
__ADS_1
“Dan bibir jelek ini yang selalu seenaknya menciumku."
Ia membenamkan bibirnya di sana. Menikmati setiap kehangatan yang tercipta. Kemudian mengusap bibir Adrian yang basah demi menghilangkan jejak.
"Jangan pikir aku yang menginginkan semua itu. Asal tahu saja ini adalah pengaruh bayi."
Baru saja Naomi akan bangkit, sepasang tangan sudah menangkap tubuhnya.
“Apa kamu sudah puas menghukum tubuhku jengkal demi jengkal?” bisik Adrian.
Spontan kelopak mata Naomi membeliak mendengar suara serak itu. Hawa panas sekelika mermbat ke seluruh tubuhnya. Menjadikan kedua sisi pipinya berwarna jambu.
Adrian menyeringai tipis. "Yang di tengah keberatan karena kamu belum menghukumnya."
“Sejak kapan dia bangun?”
"Aku tidak tertarik menghukum benda satu itu!" ucap Naomi cepat.
"Kenapa? Bukankah dia yang paling banyak membawa pengaruh dalam kehidupanmu?” Adrian mendekatkan bibirnya ke telinga Naomi. “Seharusnya dia yang mendapat hukuman paling berat, kan?”
"Hentikaaann!!!"
.
.
__ADS_1