My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 53 : PANIK !


__ADS_3

Adrian merasakan lemas pada sendi-sendinya mendapati Naomi terbaring di lantai dengan wajah pucat. Secepat hembusan angin, ia segera meraih tubuh sang istri. Memeluk dan menciumi keningnya berulang-ulang. 


“Naomi bangun! Apa yang terjadi.” 


Wajah Adrian ikut memucat sekarang. Ia seperti kehilangan kemampuannya untuk berpikir akibat rasa khawatir berlebih. Sementara Bruno yang berada di ambang pintu toilet ikut panik. 


“Ada apa dengan Nona Naomi, Tuan?” Bruno berjongkok di sisi Adrian yang tengah memangku tubuh Naomi. Ingin memeriksa denyut nadi, namun urung ia lakukan mengingat betapa posesif tuannya itu. Menatap saja tidak boleh, apa lagi menyentuh. 


“Cepat siapkan mobil, aku mau bawa Naomi ke rumah sakit,” perintah Adrian. 


“Ba-baik, Tuan.” Bruno bangkit dan tergesa-gesa keluar. Berlari cepat menuju parkiran. 


Adrian masih terus berusaha membangunkan Naomi dengan menepuk pipinya, namun tak ada respon sedikit pun. Akhirnya, ia memilih menggendongnya keluar. 


Semua orang menatap penuh tanya ketika Adrian keluar dari toilet wanita dengan menggendong istrinya. Ibu juga tampak penasaran, tetapi memilih tetap diam di tempatnya duduk. 


Kejutan tak menyenangkan malam ini membuatnya seperti kehilangan energi. Ia bahkan enggan menatap Erica yang sejak tadi merengek memohon maaf. 


“Cepat, Bruno!” teriak Adrian tak sabar. “Kenapa kamu lamban sekali menyetir?” Laju mobil yang baginya terasa pelan itu membuatnya geram. Tangannya gemetar mengusap puncak kepala Naomi yang berada di pangkuannya. 


“Ini juga sudah cepat, Tuan!” Bruno menginjak pedal gas dalam yang membuat mobil melesat lebih cepat. Menyalip sejumlah kendaraan yang memadati jalanan malam itu. 


Sesekali ia melirik ke belakang melalui kaca spion. Selama bertahun-tahun menjadi sopir pribadi Adrian, belum pernah ia melihat tuannya sepanik sekarang. 


.

__ADS_1


.


Hampir tiga puluh menit dihabiskan Adrian dengan berjalan mondar-mandir di depan sebuah ruangan berpintu kaca. Sesekali ia mengintip melalui jendela kaca, meskipun yang tampak dari sana hanyalah tirai pembatas. 


“Anda mau minum sesuatu, Tuan?” tawar Bruno. Ia pikir Adrian akan butuh minuman untuk sedikit menenangkannya. 


Adrian tak menyahut dan malah memilih duduk di samping Bruno. Menghembuskan napas frustrasi sambil menjambak rambut. 


“Ini salahku. Seharusnya aku tidak membawa Naomi ke sana,” ucapnya penuh sesal. “Dia pasti sangat ketakutan bertemu dengan kakaknya.” 


Rekaman kejadian tadi terbayang di benak Adrian. Sudah pasti Naomi sangat shock mengetahui bahwa kakaknya adalah pria lancang yang sudah berani tidur dengan Haylea. 


 Bruno pun sama terkejutnya, ketika beberapa hari lalu Adrian memberitahu alasannya meninggalkan Haylea dan memilih menikahi Naomi. Juga rencananya untuk membalas Haylea dan menangkap Ken. 


 “Tuan, apa jangan-jangan Nona Naomi mengira Anda akan membalas dendam kepada Ken melalui dirinya juga?” ujar Bruno. 


“Anda kan selalu mengancam Nona Naomi untuk mengembalikannya ke klub Madam Leova. Bukankah wajar kalau dia sampai memiliki pikiran negatif?” 


Adrian tak menampik dugaan Bruno. Selama ini ia memang menggunakan nama Madam Leova untuk mengancam Naomi. Dan terbukti, ancaman itu selalu berhasil menundukkan Naomi. 


“Aku tidak segila itu sampai mau mengembalikannya ke sana. Aku melakukannya supaya Naomi tidak pergi lagi.” 


“Tapi Nona Naomi tidak tahu itu, kan? Saya yakin Nona Naomi pingsan karena ketakutan dengan ancaman Anda.” 


Hembusan napas Adrian terdengar berat. “Aku akan menjelaskan semuanya setelah dia bangun.” 

__ADS_1


Beberapa menit berlalu dengan bungkamnya Adrian. Ia baru menyadari kesalahannya yang selalu memberi Naomi ancaman. 


Apa dia benar-benar mengira aku akan mengembalikannya ke sana? 


Pintu ruangan itu terbuka disusul dengan kemunculan seorang dokter. Adrian langsung meninggalkan tempat duduknya. 


.


.


“Bagaimana keadaan istriku? Dia baik-baik saja, kan?” tanya Adrian sesaat setelah memasuki ruangan dokter. 


Dokter wanita itu tersenyum ramah. 


“Pasien tidak apa-apa, hanya butuh banyak istirahat. Perubahan hormon yang cukup drastis pada awal kehamilan memang membuat wanita hamil mudah stress.” 


Adrian menganggukkan kepala sambil bernapas lega. Efek khawatir membuatnya kurang mampu memahami penjelasan sang dokter, sehingga yang ia cerna hanya kata tidak apa-apa. 


Tetapi kemudian ia tersadar kala mengingat satu kata yang membuat sepasang mata hazel miliknya membeliak.


“Apa, hamil?”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2