
Naomi sudah terbaring di ruang operasi dengan tubuh terbalut kain berwarna hijau. Kesadarannya utuh, namun ia tak dapat menggerakkan tubuhnya. Hanya sensasi dingin dan kaku yang melingkupi tubuhnya. Sementara mata sayunya terus terarah kepada Adrian.
Sebelum dibawa ke ruang operasi, Naomi bersikeras meminta agar Adrian tetap menemaninya selama berada di ruangan operasi. Ia sangat takut dan khawatir, tetapi keberadaan Adrian di sisinya cukup membuatnya tenang.
Adrian tak pernah meninggalkannya walau sejenak. Tangannya terus bergerak mengusap puncak kepala sang istri, dan sesekali membenamkan bibirnya di kening.
"Semuanya akan baik-baik saja," bisiknya pelan.
Naomi hanya memberi respon dengan mengedipkan kelopak matanya. Adrian meraih selembar tissue dan menyeka cairan bening yang lolos melalui ujung mata Naomi.
Sebagai seorang putri dari kerajaan, Naomi mendapatkan pelayanan paripurna. Persalinannya dipimpin oleh seorang dokter kandungan senior ternama. Selain itu, ada 15 dokter dengan beragam spesialisasi yang turut berjaga jika terjadi keadaan darurat.
Adrian menatap beberapa dokter yang tampak sedang berkonsentrasi. Namun, ia tak memiliki keberanian untuk sekedar melirik ke arah perut. Membayangkan bagaimana perut Naomi disayat saja sudah membuatnya ketakutan. Sehingga memilih kembali terfokus dengan istrinya.
"Kamu ingat pertama kali kita bertemu?" tanya Adrian.
Naomi mengerjapkan kelopak matanya sebagai jawaban. Ingatannya berputar ke masa lalu. Ia masih ingat betapa rasa takut menyergapnya malam itu. Ketika beberapa pria bertubuh besar menyeretnya dengan kasar memasuki tempat hiburan malam milik Madam Leova.
Tak ada hal lain yang terpikir oleh Naomi malam itu, selain kehancuran hidupnya. Ia akan berakhir sebagai seorang wanita penghibur lelaki hidung belang. Bahkan ia sudah bertekad untuk mengakhiri hidupnya. Apa lagi setelah mendengar pembicaraan lelaki asing yang dengan mudahnya menyewa jasanya untuk semalam, dengan harga yang sangat fantastis.
"Kamu pasti sangat membenciku saat itu."
Apa yang dikatakan Adrian memang benar adanya. Betapa kebencian mengakar di hati Naomi ketika Adrian memaksanya. Bahkan pria itu tak peduli meskipun Naomi terus merintih kesakitan. Satu hal yang terpikir oleh Naomi, yaitu melenyapkannya laki-laki yang baginya tak memiliki belas kasih itu.
"Malam itu aku tidak melihat siapa dirimu dan dari mana asalmu. Yang aku tahu kamu hanyalah seorang gadis polos yang tidak tahu apa-apa."
Ia menggenggam dan mencium tangan istrinya.
"Dan kamu memanfaatkan tubuhku untuk menyenangkan tubuhmu! Dasar suami baj1ngan," maki Naomi dalam hati.
"Kamu pasti sedang memakiku dalam hati, kan?" Adrian memulas senyum tipis di bibirnya. Tetapi bola matanya tampak berkaca-kaca.
"Bagaimana kamu tahu kalau aku sedang memakimu?"
__ADS_1
Naomi menatap ke dalam mata suaminya. Ingin sekali menggerakkan tangannya untuk mengusap ujung matanya yang basah. Namun, tubuhnya terasa kaku.
"Apa kamu tahu ... awalnya kamu sempat membuatku tersinggung. Para wanita selalu mengejarku, tapi kamu malah mau menghindar dan kabur."
"Itu karena kamu lebih mirip Lord Voldemort dari pada manusia," ucap Naomi dalam hati.
"Eh jangan memaki!" bisik Adrian sambil menyentil pipi Naomi dengan kolaborasi ibu dari dan telunjuk.
"Aku tetap akan memakimu sebanyak yang kumau."
"Nanti setelah kamu pulih bagaimana kalau kita belajar geografi? Aku akan membawamu ke Yunani. Di sana ada rumah-rumah bercat putih yang bertengger di tebing dan menghadap laut. Kita juga akan ke Jepang, tidak lama lagi akan ada musim bunga sakura. Aku juga akan membeli tiket ke Makassar. Kita bisa menikmati matahari terbenam di Pantai Losari sambil makan pisang bakar dengan berbagai rasa."
Sudut bibir Naomi melengkung membentuk senyuman tipis. Adrian mengelus pipinya dengan lembut. Menatapnya begitu hangat.
"Kamu harus tahu satu hal ... aku tidak butuh orang lain. Aku mau kamu yang menemaniku selamanya. Karena aku sangat mencintaimu."
Kelopak mata Naomi mengerjap bersamaan dengan cairan bening yang mengalir di ujung matanya. Adrian segera mengusapnya. Lalu, mencium kening.
"Aku juga mencintaimu, Tuan pemaksa."
Tak lama setelahnya, tangisan bayi pertama terdengar. Adrian takjub kala menatap tubuh mungil itu untuk pertama kali. Hanya berselang tiga menit tangisan kedua pun terdengar. Tangisan melengking dua malaikat kecil itu menyatu, seolah menjadi sapaan pertamanya bagi dunia.
"Selamat untukmu, kamu sudah menjadi seorang ibu."
...........
Adrian belum mampu mengucapkan sepatah kata pun untuk menggambarkan rasa bahagia yang melambung. Di pangkuannya tengah terlelap bayi laki-laki yang begitu tampan. Kulitnya yang lembut dan kemerah-merahan membuat Adrian sangat hati-hati menciumi pipinya.
"Oh bukankah mereka sangat lucu," ucap Ratu Hellena yang sedang memangku bayi perempuan. Raja Arthur turut berbahagia menatap kedua cucunya, yang merupakan cucu pertama di keluarga kerajaan.
Pangeran Hugo tak mau kalah. Begitu melihat dua keponakannya keluar dari ruang operasi, ia segera mendekat.
"Ibu, tolong berikan putri kecil ini padaku. Aku belum pernah menggendong bayi sebelumnya," pintanya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi hati-hati."
Pangeran Hugo mengambil alih bayi perempuan menggemaskan nan cantik itu. Sambil memulas senyum, ia mengusap pipinya dengan sangat hati-hati.
"Halo, Nona Manis ... aku adalah pamanmu." Sambil memberanikan diri mencium pipi.
Semua orang merasakan kebahagiaan yang sama. Seorang fotografer kerajaan sudah siap untuk mengabadikan momen kebahagiaan langka itu. Satu persatu anggota keluarga bergantian memangku sepasang bayi kembar itu.
Nenek Camila merasa haru memangku cicitnya yang telah lama dinantikan. Hal yang membuatnya memilih bertahan dan bangkit dari sakit yang dideritanya selama beberapa tahun.
"Terima kasih, Adrian. Kamu sudah memenuhi harapanku. Akhirnya aku bisa mati dengan tenang."
"Jangan berpikir begitu, Nenek. Apa Nenek tidak mau ikut membesarkan mereka?" ucap Adrian.
"Tentu saja aku harus melihat mereka tumbuh besar. Mereka akan membuatku lelah saat sudah bisa berlari di taman."
"Kita semua akan membesarkannya bersama." Ibu Iriana turut merasakan kebahagiaan yang sama. Tetapi, dalam kebahagiaan itu tersimpan penyesalan yang dalam. Ia pernah mengingkari dan menghina cucunya sendiri. Padahal bayi laki-laki yang sedang terlelap dalam pangkuannya itu seperti cerminan Adrian.
Sangat mirip! Hidung, mata dan bulat wajahnya.
"Adrian, apa sudah ada nama untuk mereka?" tanya sang ayah mertua.
"Belum, Ayah. Kami belum sempat memikirkan nama untuk mereka," jawab Adrian tersenyum tipis.
"Kenapa tidak sempat? Apa kalian terlalu sibuk membahas tentang perkembang biakan secara vegetatif?" Sindiran Pangeran Hugo menciptakan semburat merah di pipi Adrian.
"Perkembangbiakan secara vegetatif?" tanya Ibu Ratu Hellena dengan dahi mengerut. Menatap Hugo dan Adrian bergantian.
"Tidak apa-apa, Bu," jawab Adrian cepat. "Itu hanya salah satu metode aman untuk mempertahankan populasi."
Adrian menatap Pangeran Hugo dengan ribuan umpatan dalam hati.
"Aku ingin sekali mencekik pangeran satu ini."
__ADS_1
............