
Berita kelahiran cucu pertama di keluarga Marx yang juga merupakan cucu pertama keluarga kerajaan dengan cepat menyebar. Hanya dalam beberapa jam setelah berita meluas, suasana di depan rumah sakit sudah sangat ramai. Para pencari berita sudah berkumpul demi mendapatkan informasi terbaru dari sang putri.
Sejak semalam tim keamanan dari M.A.r.x Grup berpadu dengan tim kemananan khusus kerajaan untuk berjaga. Para pencari berita hanya boleh berada di pelataran rumah sakit dan tidak diizinkan masuk.
Alhasil, setiap mobil yang baru datang tak luput dari sorotan media. Ada banyak kerabat keluarga Marx dan anggota keluarga kerajaan yang datang untuk memberi ucapan selamat.
Kabar ditemukannya Putri Isabel belakangan ini memang sedang ramai dibicarakan di kalangan masyarakat. Para gadis mengelu-elukan keberuntungan Naomi Claire, seorang gadis bekas pelayan yang ternyata memiliki darah bangsawan. Merupakan putri bungsu dari Raja Arthur dan Ratu Hellena. Dan lebih beruntungnya lagi, karena telah diperistri oleh pewaris tunggal M.A.r.x Grup.
Bisa dibayangkan sesempurna apa kehidupan Naomi Claire yang membuat banyak kaum hawa merasa iri. Ia pasti dilayani bak seorang ratu dari sebuah kerajaan.
Tidak ada yang tahu, bahwa ternyata sang putri lebih menyukai kehidupan seperti rakyat biasa yang jauh dari aturan ketat istana.
Sementara itu di ruang perawatan ....
Sebuah ruangan dengan fasilitas mewah layaknya hotel berbintang. Naomi masih terbaring setelah sebelumnya mendapat pemeriksaan. Semua baik-baik saja, tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Dan ini melegakan semua orang, terutama Adrian.
Setelah persalinan semalam, staf-staf rumah sakit terbaik mulai dari staf laboratorium hingga staf unit neonatal turut berjaga. Naomi sampai risih sendiri dengan sejumlah pelayanan khusus yang diberikan kepadanya. Dokter-dokter ahli bergantian memeriksa secara menyeluruh.
"Aku merasa mereka sangat berlebihan," protesnya, setelah beberapa dokter keluar dari ruangan dengan senyum kelegaan.
"Berlebihan apanya? Sama sekali tidak," sahut Adrian yang masih terfokus dengan kedua buah hatinya. Sepasang bayi kembar itu baru saja dipindahkan dari ruang NICU, setelah dinyatakan sehat.
"Tolong bawa mereka ke mari," pinta Naomi, yang belum puas memandangi wajah anak-anaknya.
Semalam, sesaat setelah kelahiran, ia hanya mendapat kesempatan untuk memeluk anaknya beberapa menit, karena keduanya harus segera dibawa ke ruang NICU untuk mendapatkan penanganan dokter ahli. Sementara Naomi tertidur pulas dan baru bangun di pagi harinya.
Adrian tersenyum seraya mendorong boks bayi mendekat. Naomi yang belum dapat bergerak dengan leluasa hanya bersandar di tempat tidur. Rasa perih yang menjalar di perut masih terasa meskipun berkurang setelah mendapat pereda nyeri dari dokter.
"Mereka lucu sekali." Sepasang mata Naomi berkaca-kaca menatap keduanya. Jemarinya terulur mengusap wajah lembut itu bergantian.
"Benar, sangat lucu. Seperti mommy-nya."
"Tapi kenapa sangat mirip denganmu?" Naomi memindai wajah sang suami dan anaknya dengan teliti. Mencocokkan bentuk hidung, mata dan bibir. Bahkan Naomi tidak menemukan potongan wajahnya sendiri di sana.
__ADS_1
"Kamu serakah sekali sampai mawariskan seluruh bentuk wajahmu." Bibirnya berkerucut lucu, sorot matanya menggambarkan bentuk protes. Ekspresi menggemaskan itu membuat Adrian kehilangan kendali. Dengan gerakan tak terduga sudah membungkam Naomi dengan ciuman bertubi-tubi. "Kenapa suka sekali menciumiku? Aku belum mandi."
"Memang kenapa? Aku suka aroma tubuhmu ... seperti bayi," ujarnya seraya membenamkan bibirnya di kening. "Soal mereka ... kamu seharusnya bersyukur karena mereka mirip aku. Kalau mirip kamu rasanya terlalu menyebalkan."
Kalimat sarkas yang terdengar begitu lancar tercetus dari mulut Adrian itu membuat sudut mata Naomi berkerut.
"Memangnya kenapa kalau mirip aku?" sahutnya ketus. Jika tidak ingat kondisi tubuhnya yang masih lemah, ia pasti sudah memaki habis suaminya itu.
"Kalau mirip kamu jatuhnya jadi mirip kakakmu, Pangeran Hugo yang menyebalkan itu."
"Memangnya aku semirip itu dengannya?"
Adrian terkekeh. Naomi selalu keberatan jika ada yang menyebutnya mirip dengan sang pangeran.
"Cobalah bercermin, Tuan Putri Isabel ... dan coba bandingkan wajahmu dengannya. Kalian berdua hanya beda di gender saja, sisanya seperti pinang yang dibelah-belah."
"Aku sama sekali tidak mirip dengan pangeran kaku, menyebalkan dan suka memaksa itu!" pekik Naomi tak terima.
"Baiklah, kamu tidak mirip dengannya." Kali ini Adrian mengalah demi menyenangkan istrinya yang baru saja berjuang antara hidup dan mati.
"Yakin bisa? Kamu kan baru saja dioperasi. Nanti kamu menjatuhkan mereka."
"Itu tidak akan terjadi. Aku tidak segila itu."
"Baiklah." Adrian lagi-lagi mengalah. Mengangkat tubuh putrinya dan meletakkan di pangkuan Naomi dengan sangat hati-hati.
Pancaran bahagia terlihat jelas di mata Naomi ketika menatap wajah mungil bayi perempuan itu.
"Tunggu ... kenapa tubuhnya seperti ini?" Naomi menatap Adrian dengan alis berkerut.
"Memang tubuhnya kenapa?"
"Tubuhnya sangat lunak. Seperti tidak punya tulang."
__ADS_1
Adrian menghembuskan napas panjang mendengar ucapan Naomi. "Jangan bilang kamu berpikir mereka seperti molluska."
Naomi tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Adrian selalu tahu apa yang ia pikirkan. "Hehe ... aku baru mau bilang begitu."
Adrian terkekeh. Pemikiran istrinya itu memang kadang di luar dugaan.
"Bayi memang seperti ini. Meskipun sangat rapuh, tapi mereka sangat kuat," ujarnya. "Ngomong-ngomong kita belum memberi mereka nama."
"Terserah kamu saja. Aku tidak tahu harus memberi nama apa."
Memang, belum ada satu nama pun yang terlintas di pikiran Naomi. Bahkan ia melupakan hal penting itu.
"Aku suka nama Arcelo dan Arcela," usul Adrian. "Bagaimana menurutmu?"
"Nama yang bagus." Ia membungkukkan kepala dan mencium pipi halus putrinya. "Hmm ... pipinya lembut sekali, seperti kapas."
"Oh ya, ibu ratu bilang tidak lama lagi akan diadakan acara pertunangan Pangeran Hugo."
Naomi melirik suaminya sekilas, kemudian kembali terfokus kepada bayi dalam gendongannya. "Iya benar. Aku sudah pernah dengar dari ibu. Tapi sepertinya Kak Hugo tidak begitu senang dengan pertunangan itu."
"Memang kenapa?" tanya Adrian.
"Mana aku tahu! Dia kan memang sangat aneh."
"Padahal menurutku bagus kalau dia punya pasangan. Setidaknya dia akan punya pekerjaan lain, selain mengawasi kehidupanmu." Gerutuan panjang Adrian hanya ditanggapi Naomi dengan tawa kecil.
Ya, kakaknya itu memang sangat posesif.
"Ehm ... kenapa kalian suka sekali membicaranku? Apa kalian tidak punya bahan pembicaraan lain?"
Adrian dan Naomi saling tatap mendengar suara yang muncul tiba-tiba itu. Pangeran Hugo berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada.
"Kenapa aku merasa dia seperti hantu? Datang tidak dijemput, pulang banyak maunya?" gerutu Adrian dalam hati.
__ADS_1
...........