
Adrian melirik Naomi yang masih betah dalam posisinya. Wanita itu bahkan belum menyentuh sarapan yang tadi dibawakan Alexa. Adrian berdecak sambil menggeleng pelan, lalu segera bangkit dan duduk di sisinya.
“Ayo makan dulu, kamu belum makan dari semalam, kan?” Adrian meraih sepotong sandwich dan menyuapkan ke mulut Naomi.
Membuat istrinya itu harus membuka mulut lebar-lebar karena Adrian memaksa mendorong ke mulutnya.
"Enak?"
"Enyaaak!" Naomi mengunyah dengan mulut penuh makanan hingga kedua sisi pipinya terlihat menonjol.
"Buka mulut!" Adrian menyuapkan lagi setelah melihat Naomi menelan makanannya. ia lakukan terus menerus hingga menghabiskan beberapa potong.
Tak lama berselang, Alexa datang dengan membawa jus jeruk pesanan Adrian. Di belakangnya ada tiga orang petugas kebersihan yang sebelumnya diperintahkan Adrian untuk datang menemuinya.
“Permisi, Tuan. Ini jus jeruk yang Anda pesan.”
“Letakkan di situ saja,” perintahnya.
Alexa meletakkan jus jeruk kemeja. Sesekali mencuri pandang kepada Naomi yang masih duduk berselonjor bak seorang ratu yang sedang dilayani.
“Beruntung sekali dia. Tuan Adrian yang biasa dilayani itu sedang menyuapinya makan.”
"Bukan hanya itu, Tuan Adrian bahkan memakan bekas gigitannya. Oh, romantis sekali."
__ADS_1
“Anda butuh sesuatu yang lain, Tuan?” tanya Alexa.
Adrian melirik Naomi. "Apa kamu menginginkan sesuatu yang lain?"
"Nanti saja. Nona Alexa pasti lelah sejak tadi naik turun," ujar Naomi. Mengingat sudah beberapa kali Adrian memesan sesuatu untuknya.
"Tidak apa-apa. Biar dia tahu rasanya naik turun dari lantai teratas ke lantai dasar. Seperti yang selama ini dia lakukan kepadamu."
Tidak tahu sudah seperti apa wajah Alexa sekarang. Kedua tangannya saling meremas di balik punggung.
"Maafkan saya, Tuan. Maafkan saya, Nona Naomi," ucap Alexa.
"Baiklah. Sekarang keluarlah, aku akan memberitahumu begitu istriku membutuhkan sesuatu yang lain."
“Baik.” Ia membungkukkan kepala sebelum membalikkan tubuh. Bernapas lega sambil mengusap dada naik turun.
"Anda butuh sesuatu, Tuan?" Salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya.
"Iya, tentu saja," jawabnya, lalu menatap Naomi. "Sayang, bukankah kakimu sedang pegal? Aku meminta mereka kemari untuk memijat kakimu."
Dahi Naomi mengerut bingung. Sejak kapan ia berkata begitu?
"Tapi kakiku ti ..." Belum selesai ucapan Naomi, sudah dibungkam duluan oleh Adrian dengan telapak tangan. Membuat sepasang mata Naomi melotot.
__ADS_1
"Aku tahu kakimu pegal. Mereka sering membuatmu membersihkan toilet dan taman sendirian, kan? Padahal mereka tahu kamu wanita hamil."
Adrian menyorot tajam tiga wanita yang berdiri di hadapannya.
Sindiran itu pun membuat mereka semakin memucat dan sudah tidak berani lagi mengangkat kepala. Bahkan untuk sekedar mengeluarkan suara mereka sudah tak ada nyali.
"Apa yang kalian tunggu?" tanya Adrian.
"Em ... ma-maaf, Tuan."
Adrian bangkit dari duduknya, memberi ruang kepada tiga wanita itu untuk berjongkok di sisi Naomi.
"Permisi, Nona. Biar saya buka sepatu Anda," ucap salah satu dari mereka.
"Tidak usah, kakiku tidak pegal," tolak Naomi.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya akan memijat kaki Anda."
Naomi menghela napas panjang. Rekan kerja yang biasa membebankan semua pekerjaan kepada dirinya hingga kelelahan kini sedang melayaninya seperti seorang ratu.
Naomi lantas melirik Adrian. Namun, Adrian hanya menyeringai. Lalu kembali duduk di tempatnya dan mulai bekerja.
"Kamu memang sangat pendendam!" Begitu tatapan Naomi berbicara.
__ADS_1
*
*