
Adrian seolah kehilangan kemampuannya untuk berpikir setelah mengetahui jati diri Naomi yang sebenarnya. Ia menjadi lebih banyak diam dan melamun. Bahkan kini, saat sedang berada di sebuah klinik untuk berkonsultasi dengan dokter.
Naomi tengah berbaring sambil menatap layar monitor, sementara seorang dokter wanita menggerakkan alat di atas perut. Sementara Adrian duduk di kursi. Pandangannya mengarah ke monitor, tetapi pikirannya terbang ke tempat lain.
“Selamat, Adrian, Naomi, bayi kalian kembar,” ucap sang dokter.
Kala Naomi mengekspresikan rasa bahagia melalui senyum dan sinar matanya, Adrian malah diam. Tak ada ekspresi berlebihan. Bahkan tampak bingung. Seolah kalimat yang tercetus dari dokter yang juga merupakan teman lamanya itu tak berarti.
“Hey, kenapa melamun?” Wanita itu melambaikan tangan dalam jarak yang tidak begitu jauh, membuat lamunan Adrian lenyap bersamaan dengan rasa terkejut yang tiba-tiba mendera.
“Kenapa, Jes?” tanyanya, seraya menatap Naomi dan Dokter Jessica bergantian.
“Aku baru saja memberimu selamat atas kehamilan kembar Naomi. Kenapa kamu malah melamun?”
“Emh ... maaf, aku sedang ....” Ucapannya terputus kala pikirannya yang kalut membedah informasi sang dokter. “Kamu bilang ... kembar?” Bola matanya melebar seakan tak percaya.
“Benar! Selamat ya. Aku ikut bahagia untuk kalian.”
Seolah ingin memastikan, Adrian menatap layar monitor. Meskipun tersamar, namun ia dapat melihat dua objek yang bergerak di sana. Tanpa sadar tangan lebarnya meraba perut menggantikan posisi transduser yang sedari tadi bermain di permukaan perut.
“Kenapa gambarnya hilang?”
Dokter pasti sudah terbahak, jika tidak mengingat siapa yang tengah menjadi pasiennya sekarang. Ia hanya mengatupkan bibir agar tak sampai menyemburkan tawa. “Anda menggeser alatnya, Tuan Adrian Marx yang terhormat.”
“Oh maaf.” Langsung menarik tangannya dan memilih menggenggam jemari sang istri. Pandangannya menangkap sinar bahagia yang terpancar dari wajah itu.
“Hey Tuan Adrian Marx yang sekarang sudah bisa minta maaf, ya?” Dokter Jessica melirik melalui ujung matanya. “Biasanya dia tidak pernah merasa bersalah.”
“Diamlah, Jes,” sambar Adrian. “Oh ya, mereka laki-laki atau perempuan?”
__ADS_1
“Sebentar, aku lihat dulu.” Transduser kembali ia gerakkan di perut dengan pandangan terfokus ke layar monitor. “Aku harus memberi ucapan selamat lagi. Sepertinya sepasang.”
“Sepasang? Artinya laki-laki dan perempuan?” tanya Adrian mulai antusias.
“Benar,” jawab Jessica cepat. “Sykurlah, mereka tumbuh dengan baik sesuai harapan kita. Selamat untuk kalian.”
“Terima kasih, Dokter Jessica,” ucap Naomi.
...*...
...*...
...* ...
Posesif!
“Aku mulai bosan di kamar. Sejak semalam kamu mengurungku di sini!” pekik Naomi keesokan harinya.
“Bosan kenapa? Kalau menginginkan sesuatu kamu bisa meminta Mathilda atau Layla yang melakukannya. Apa mereka tidak cukup? Baiklah, akan aku tambah.”
“Bukan itu, Tuan! Aku juga mau bergerak dengan bebas.”
Adrian menghembuskan napas panjang. “Kapan kamu akan berhenti memanggilku tuan? Aku suamimu, bukan tuanmu.”
“Aku akan menggunakan hak asasi manusiaku untuk memanggilmu semauku. Melarangku memanggilmu tuan sama saja kamu telah melakukan pelanggaran HAM.”
“Jangan bilang kita akan belajar sosiologi sekarang.”
“Kamu kan memang perlu mempelajarinya. Lihat dirimu, kamu masih senang menjajah tubuh orang lain. Kamu menghilangkan kebebasanku untuk berinteraksi dengan individu lain.”
__ADS_1
Adrian memijat kening yang mendadak terasa berdenyut.
“Sudahlah, terserah tuan putri saja.” Ia melirik arah jarum jam di dinding. “Aku harus berangkat sekarang.” Menggerakkan tubuhnya maju, Adrian memeluk dan mencium Naomi. Lalu, mencium perut sambil mengusap perlahan. “Jangan kemana-mana, ya. Aku akan cepat pulang hari ini.”
...*...
...*...
...*...
“Nona, tolong jangan lakukan. Kami bisa dimarahi tuan kalau Nona Naomi membuat jus sendiri,” bujuk Mathilda yang berdiri di belakang Naomi dengan khawatir.
“Aku yang akan memberitahunya nanti. Jangan pedulikan Tuan Adrian yang kaya akan aturan itu.” Sambil memotong buah dan memasukkan ke alat pembuat jus.
“Aku tidak tahu bagaimana caramu merayu Adrian sampai rela melakukan apapun untukmu.” Kalimat bernada sinis itu membuat Naomi berhenti sejenak. Ia menoleh ke sumber suara. Terlihat ibu berdiri tak jauh darinya dengan tangan terlipat di bawah dada. Jangan lupakan tatapan permusuhannya.
“Ada apa, Ibu? Apa ibu tidak punya masalah hidup lagi sampai mengkhawatirkan masalah hidupku?”
Hela napas terdengar berat. “Masalah hidupku hanya karena keberadaanmu di rumah ini!”
“Kenapa keberadaanku menjadi masalah untuk Ibu?”
“Katakan padaku gen dari mana yang kamu bawa ke rumah ini!” ujarnya. “Keluarga Marx tidak memiliki gen kembar sama sekali.”
“Mungkin karena aku beruntung. Ibu yang melahirkan bayi kembar adalah ibu yang istimewa, kan?”
Ibu mendecakkan lidahnya. “Kita akan tahu mereka anak siapa begitu tes DNA membuktikannya. Aku hanya berharap Adrian cepat menemukan keluargamu yang tidak jelas itu. Dan kamu bisa pergi dari rumah ini.”
...........
__ADS_1