
Naomi bergeming dalam kesadarannya belum utuh sepenuhnya. Ia tak tahu sedang berada di dunia mana sekarang. Tubuhnya hanyut dalam rasa hangat yang tak terbantahkan. Membawanya terbang jauh hingga merasa enggan untuk sekedar membuka mata.
Mimpi ini terlalu indah untuk ditinggalkan.
Ia bahkan tak pernah berharap untuk bangun dari mimpi ini.
“Hmm ... nyaman sekali. Apa aku sudah sampai di surga?” Bibirnya bergumam kecil tanpa sadar. Matanya masih terpejam rapat. Hanya jemarinya yang meraba, menggeliatkan tubuh demi mencari kehangatan yang sempat terpisah darinya beberapa detik lalu.
Sepasang tangan kokoh segera menyambut. Melingkari tubuhnya erat dan kuat, yang menciptakan rasa damai tak terkira. Perasaan yang membuatnya melambung jauh.
Detik berikutnya Naomi merasakan kelembutan jemari hangat yang menyusup di antara helai rambutnya. Membelainya berulang-ulang.
Konon katanya, orang baik akan mendapatkan pangeran surga, dan Naomi percaya itu. Ia yakin yang sekarang membelainya adalah sayap dari pangeran surganya.
Ya, dia akan datang di waktu yang tepat dan keadaan yang tepat. Membawanya terbang ke dunia baru dan memberinya kehidupan baru yang menakjubkan. Mengisi hari-harinya dengan rasa bahagia.
Hingga ia akan melupakan rasa sakit dari luka yang pernah diberikan kehidupan kepadanya.
“Aku merasa hangat dan damai.” Bibirnya mengulas senyum tipis. "Aku tidak mau bangun."
Naomi tenggelam semakin dalam. Ia benamkan wajahnya pada tubuh hangat yang mendekapnya. Kemudian menarik napas dalam-dalam demi menyesap aroma menenangkan yang menguar dari tubuh itu.
“Apa malaikat juga suka memakai parfum dengan aroma maskulin?”
__ADS_1
Kening Naomi sedikit mengerut. Memikirkan kalimat bodoh yang baru saja tercetus dari mulutnya.
“Ah, mana mungkin. Malaikat pasti sudah wangi sejak tercipta.” Dengan mata masih terpejam, ia menyesap aroma itu banyak-banyak.
Lagi ....
Lagi ....
Lagi ....
Dan Lagi ....
Naomi seakan tak pernah puas.
“Pangeran surgaku ... kamu me*sum juga, ya?” celetuknya kemudian.
Tangan kuat itu bergerak turun, mengusap perutnya yang buncit.
“Kenapa kamu malah mengelus perutku? Apa kamu tidak tahu kalau bayi di dalamnya adalah anak Adrian Marx?”
Biasanya beberapa bagian perutnya akan tampak menonjol saat bayi mungil yang sedang tumbuh itu bergerak. Dan sekarang Naomi merasakan bibir lembut yang mendarat di bagian mana saja terjadi gerakan.
Bukankah mereka seperti sedang bermain kejar-kejaran di dunia yang berbeda?
__ADS_1
Tetapi Naomi masih enggan membuka mata. Ia diam meresapi gerakan-gerakan kecil dari dalam perut yang seolah merespon sentuhan asing dari luar.
"Kenapa malah bayi di dalam perutku yang keenakan disentuh?”
Bibirnya kembali melengkung membentuk senyuman tipis. Aroma tubuh itu terasa familiar, juga sentuhannya yang tak asing.
Sedikit rasa penasaran merasuk ke hati Naomi.
Konon katanya pangeran surga memiliki paras yang sangat tampan. Naomi ingin membuktikannya sendiri. Ia ingin melihat seperti apa rupa pangeran surga yang dikirim Tuhan untuknya.
Perlahan kelopak matanya mulai terbuka. Bias cahaya terang yang terasa menyilaukan membuat matanya mengerjap beberapa kali.
Naomi dapat mendengar suara bariton yang sedang tertawa kecil. Dahinya kembali berkerut tipis.
"Kenapa suara itu seperti ...."
Hanya dalam hitungan sepersekian detik, segalanya tampak jelas dalam pandangan Naomi. Tiba-tiba ia terpaku saat tatapannya saling bertaut dengan sepasang mata hazel yang menatapnya lembut.
.
.
.
__ADS_1