My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 90 : Lokasi Terlacak


__ADS_3

“Apa yang kamu lakukan, bodoh! Apa kamu sedang berusaha melindunginya?” teriakan Erica menggelegar. Terdengar sangat marah. 


“Anda hanya akan membunuhnya kalau memukul dengan benda itu, Nona.” 


“Aku memang ingin dia mati, kan?” 


“Benar, tapi Tuan Marx dan Pangeran Hugo tidak akan mengampuni Anda. Lebih baik kembalikan Nona Naomi.” 


“Diamlah! Atau kamu juga mati di tanganku!” 


Tut Tut! 


Panggilan terputus begitu saja. Adrian mencoba menghubungi nomor yang baru saja digunakan Erica, namun hingga beberapa kali mencoba tak juga tersambung. 


“Sepertinya orang yang bersama Erica berusaha melindungi Naomi. Tenang, Adrian ... jangan gegabah.” 


Adrian berusaha menjabarkan apa yang baru saja terjadi di sana melalui perdebatan Erica dengan seorang pria. Tak dapat dipungkiri, ucapan pria tadi sedikit mengurangi rasa takutnya, setidaknya orang yang bersama Erica berusaha melindungi Naomi.


Adrian tersadar dari lamunan. Lalu segera membuka daftar kontak dan menghubungi Pangeran Hugo. 


Namun, baru akan menekan simbol hijau pada layar, ponsel di genggamannya sudah berdering lebih dulu. Tertera nama ‘Pangeran Menyebalkan’ pada layar. Sebuah kebetulan yang baik. 


“Pangeran Hugo ... aku butuh bantuanmu sekarang juga. Sudah ada sedikit petunjuk tentang keberadaan Naomi,” ucapnya tanpa basa-basi, setelah panggilan terhubung. 


“Aku tahu. Kami juga sudah berhasil melacak lokasi mereka melalui nomor telepon yang digunakan untuk menghubungimu baru saja."


Dahi Adrian berkerut ketika menyadari sesuatu.


“Apa? Secepat itu? Apa mereka sudah menyadap teleponku?”

__ADS_1


Ya, pihak istana tak mungkin diam saja tanpa melakukan usaha maksimal. Salah satunya, tentu saja yang kini sedang terlintas di benak Adrian. Dan Mungkin bukan hanya dirinya, tetapi seluruh penghuni kediaman keluarga Marx, termasuk para pelayan.


"Kita bertemu sekarang juga untuk menyusun rencana," ujar Pangeran Hugo.


Panggilan pun terputus. Adrian masih terpaku di tempatnya berdiri.


Tak ingin mengulur waktu, ia pun segera membuka laci meja terbawah, pada salah satu dari deretan lemari di ruang baca. Akan tetapi benda yang dicarinya sudah tak berada di tempat. Padahal Adrian bukanlah seseorang yang suka memindahkan barang pribadinya. 


“Brengsek!” 


Entah makian itu ditujukan untuk siapa. 


Andrian bergerak cepat dengan memeriksa rekaman CCTV di ruang baca, setelah terbesit dugaan dalam benaknya. Tak butuh waktu lama untuknya menemukan rekaman yang menampilkan Erica mengendap-endap masuk ke ruangan itu dan mencuri senjata api miliknya. 


Erica yang tinggal di rumah keluarga Marx sejak kecil, sudah pasti hafal seluk beluk rumah itu, bahkan tahu tentang kepemilikan Adrian atas sebuah senjata api. Satu hal yang sangat disesali Adrian, Erica sangat mahir dalam menggunakan senjata api. Dulu, Adrian kerap mengajarinya membidik jika memiliki waktu senggang. 


“Aku akan menembak gadis manapun yang berani dekat denganmu.” 


“Haha, hentikan, Erica! Kamu membuatku geli mendengarnya.” 


“Tapi aku serius. Hahaha, aku akan menembak kekasihmu sampai mati. Akan kulakukan tepat di depan matamu.” 


Namun, semua ancaman Erica kala itu hanya dicerna Adrian sebagai candaan. Erica adalah temannya sejak kecil yang begitu dekat dengannya. Dan sama sekali tak pernah terpikir bahwa gadis itu akan mewujudkan ucapannya. 


“Adrian, apakah sudah ada informasi tentang Naomi?” Sapaan ibu membuyarkan lamunan Adrian. 


Tatapan Adrian seketika mengarah ke pintu, di mana ibu baru saja memunculkan diri. Sorot mata Adrian yang tajam membuat wanita itu membeku di tempatnya berdiri, saat menyadari sesuatu baru saja terjadi. 


“Bu ... apa Erica pernah masuk ke rumah ini tanpa sepengetahuanku?” 

__ADS_1


Terkejut dengan pertanyaan Adrian yang  tiba-tiba, wanita itu hanya dapat menunduk. Ia tahu sejak kejadian Haylea ingin mempermalukan Naomi, Adrian tak ingin lagi melihat Erica di rumah mereka. Karenanya, malam itu juga Adrian meminta Erica mengemasi barang-barangnya dan kembali ke rumah orang tuanya. 


 “Ibu memang pernah mengajaknya kemari saat kamu keluar kota. Maaf, kalau saat itu—” 


“Bukankah sejak malam itu aku sudah menutup pintu rumah ini untuk Erica? Kenapa Ibu malah memasukkan dia ke rumah ini lagi tanpa izinku?” Adrian menggertakkan gigi demi tak membentak wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu. 


Tetapi, bukannya menjawab dengan sebuah penjelasan, ibu malah diam di tempat. Ini adalah pertama kalinya Adrian terlihat sangat marah terhadapnya. Bahkan hanya untuk sesuatu yang baginya sangat sepele. 


“Memangnya ada apa dengan Erica?” 


“Apa Ibu tahu, Erica baru saja menghubungiku. Dia yang sudah membawa Naomi pergi dan sekarang Naomi dalam bahaya!” Hampir hilang kesabaran Adrian. Meskipun terus berusaha membentengi dirinya dengan kewarasan. 


“Apa?” Informasi yang diberikan Adrian membuat wanita itu menatap tak percaya. Bagaimana mungkin gadis yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga Marx bisa berbuat segila ini. “Tapi itu tidak mungkin Adrian? Ibu tahu bagaimana Erica.” 


Adrian seolah kehabisan kata-kata mendengar pembelaan sang ibu. Sulit memang menjelaskan kepada ibunya itu jika bukan dengan sebuah bukti nyata. Alhasil, Adrian mengeluarkan ponsel miliknya. Beruntung ia masih sempat merekam pembicaraan tadi, dengan menggunakan fitur  perekam suara pada ponselnya. 


Wanita itu terduduk lemas di kursi setelah mendengar sendiri. Tentunya, ia sangat mengenali suara Erica.


 “Maafkan Ibu, Adrian. Ibu tidak menyangka kalau Erica bisa melakukan semua ini.” 


“Apa Ibu tahu dia kemari untuk apa? Untuk mencuri senjataku yang akan dia gunakan untuk membunuh Naomi.” 


Jatuh sudah air mata wanita itu. Menyesal, kecewa, sekaligus merasa bersalah mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini. 


“Maafkan Ibu.” 


“Sudah, Bu. Kali ini Ibu benar-benar sudah mengecewakanku,” ucapnya, sambil melangkah pergi begitu saja, setelah menyambar kunci mobil. 


*** 

__ADS_1


__ADS_2