
"Bagaimana kalau kita makan di sana saja?" Naomi menunjuk ke sisi jalan di mana terdapat beberapa kedai makanan di pinggir jalan.
Adrian hanya melirik sekilas tanpa sebuah jawaban. Namun, mobil terus melaju meninggalkan deretan kedai makanan tersebut. Sepertinya, Naomi lupa bahwa suaminya adalah tipe orang yang tidak suka makan di sembarang tempat.
"Kenapa tidak berhenti, aku mau makan di sana!" Naomi menoleh ke belakang. Menatap nanar kedai makanan tadi. Kepulan asap putih yang berasal dari masing-masing kedai seolah memanggil. Cuaca dingin memang enaknya makan makanan dengan kuah hangat.
"Bukannya tadi mau makan lancashire hotpot?" Adrian mengingatkan, mungkin saja sang ratu dalam kehidupannya itu tiba-tiba mengalami amnesia.
"Iya, tapi aku rasa makan di kedai tadi tidak buruk."
"Tidak boleh," potong Adrian cepat.
"Kenapa?"
"Anda adalah seorang putri dari keluarga kerajaan, Nona. Bayangkan apa yang akan dilakukan Pangeran Hugo kalau tahu adiknya yang sedang hamil tua makan di pinggir jalan," cibir Adrian mengingat betapa posesif kakak iparnya itu.
Naomi melirik mobil di belakang yang terus mengikuti mereka. Ia sudah pasrah dan tak menunjukkan perlawanan lagi.
Kurang dari lima belas menit, mereka telah tiba di sebuah restoran. Adrian memeluk pinggang istrinya memasuki restoran mewah itu. Ia bahkan tak peduli dengan tatapan heran dari orang-orang karena dirinya hanya menggunakan setelan piyama.
Naomi pun memakan menu yang diidamkannya dengan lahap. Sementara Adrian hanya menatapnya sambil menopang dagu.
"Setelah ini mau makan apa lagi?" tanya Adrian mumpung sedang berada di luar.
"Untuk hari ini sudah kenyang. Tapi besok aku mau minta makan pizza," jawab Naomi sembari menyesap jus jeruk.
"Kalau cuma pizza gampang, Sayang. Satu kontainer pun akan aku belikan."
"Tapi aku maunya makan di rumah asal pizza."
"Rumah asal pizza? Di mana itu?"
"Italia," jawabnya tanpa rasa berdosa.
Rahang Adrian terbuka. Permintaan Naomi seperti sebuah jebakan.
__ADS_1
"Ya ampun, anak-anakku masih setengah jadi saja sudah banyak maunya. Bagaimana nanti kalau sudah berwujud manusia?"
.
.
.
"Kamu masih marah pada ibu, ya?" tanya Naomi saat telah berada di dalam kamar. Ia menggeser posisi hingga tubuhnya menempel sempurna ke tubuh Adrian. Pria itu sedang asyik dengan ponselnya.
"Memangnya kenapa?" balas Adrian yang langsung meletakkan ponsel ke meja. Kemudian mencium kening istrinya sambil membelai rambut.
"Tadi siang aku ke rumah untuk mengunjungi nenek. Aku juga bertemu ibu." Naomi sedikit ragu mengingat betapa kerasnya hati Adrian. "Ibu sangat sedih."
"Aku tahu, tapi aku masih butuh waktu." Adrian menghembuskan napas panjang mengingat kesalahan fatal yang dilakukan ibunya, yang ikut andil dalam membahayakan nyawa Naomi.
Ibu Iriana lah yang memberitahu Erica bahwa Naomi sedang mengunjungi makam orang tuanya. Meskipun sebenarnya tak pernah terpikir bahwa Erica ingin mencelakai, tetapi secara tidak langsung Ibu Iriana telah membantu memuluskan jalan Erica.
"Tapi ini sudah dua bulan."
"Memangnya kenapa kalau sudah dua bulan? Aku tidak peduli meskipun satu tahun sekali pun."
"Sayang ... aku tidak sedang menghukum ibu. Aku hanya ingin ibu sadar dengan kesalahannya."
"Itu apa bedanya? Kamu memang sangat pendendam, Tuan."
"Kalau tahu pendendam kenapa masih mau hidup bersamaku?" Pertanyaan itu membuat Naomi mencengkram selimut dengan gusar.
"Hey, Tuan Adrian yang arogan, pemaksa dan pendendam kadar akut ... kamu yang memaksaku untuk tetap bersamamu."
Adrian terkekeh. Beberapa hari ini ia sangat merindukan makian menggemaskan itu. "Kamu 'kan memang suka dipaksa. Oh ya, di novel online yang dipaksa itu banyak yang laris, kan?"
"Tapi cara memaksamu itu tidak enak, Tuan." Bibir Naomi sudah maju beberapa centi.
"Kalau tidak enak kenapa mendes@h?"
__ADS_1
"Aku mendes@h karena terpaksa, bukan karena menikmati. Bukankah materi ini sudah dibahas di bab-bab sebelumnya?"
"Benarkah?" Jemari Adrian menyingkap piyama dress yang dikenakan Naomi, membuat wajah wanita itu seketika memerah.
"Eh, tanganmu Tuan! Kenapa suka sekali menggerayangiku?"
"Memang kenapa? Tidak enak, ya?" Tangannya yang lebar sudah menyelinap di bagian dada.
"Sangat tidak enak!" ujarnya sambil merapikan rambut yang menutupi lekukan leher. Seolah memberi Adrian kode rahasia untuk segera ke sana.
Adrian dengan cepat menangkap kode yang diberikan Naomi. "Kenapa tidak kamu akui saja kalau suamimu ini punya banyak kelebihan?"
"Aku sangat mengakui kalau kamu terlahir dengan banyak kelebihan, salah satunya kelebihan libido."
Sepasang mata Naomi terpejam menahan sensasi dari sentuhan yang diberikan Adrian.
"Kalau aku kelebihan libido, apakah artinya kamu kelebihan hormon estrogen?" Sambil menciumi lekukan leher.
Adrian hafal betul bagian mana yang paling mematikan bagi istri kecilnya itu. Disentuh sedikit saja di bagian leher akan membuat kewarasannya hilang entah ke mana.
"Untuk saat ini, aku hanya kelebihan berat badan. Kelebihan lainnya adalah aku sensitif, agak pemarah, cengeng dan gengsian."
"Itu namanya kekurangan!"
Jemari Naomi mencengkram rambut Adrian yang tengah menelusuri bagian dada. Pria itu menyeringai kala menyadari ekspresi sang istri yang seakan meminta diperlakukan lebih.
Namun, tiba-tiba Adrian menghentikan segalanya saat Naomi sudah melayang ke angkasa.
Wanita itu seketika tersadar.
"Apa begini saja kemampuanmu? Libidomu mengalami penurunan drastis, ya?" tanya Naomi.
"Sudahlah ... bukankah caraku memaksa sangat tidak enak?"
Dengan santai Adrian membalikkan tubuhnya membelakangi Naomi, sembari menyembunyikan seringai penuh makna di sudut bibirnya.
__ADS_1
Di balik punggung Adrian, Naomi menyorot murka, mengetatkan rahang dengan tangan terkepal sempurna.
***