
“Cara meluluhkan suami yang sedang marah.” Adalah kata kunci yang dimasukkan Naomi pada mesin pencarian.
Deretan tips dan saran pun bermunculan di layar ponsel. Banyaknya halaman yang bermunculan membuat Naomi cukup kebingungan harus memilih yang mana.
Ia membenarkan posisi tubuhnya yang sedang rebahan di ranjang, kemudian menarik selimut tipis yang menutupi kaki hingga ke pinggang. Sesekali melirik suaminya yang masih terfokus pada layar laptop.
Ya, kebiasaan Adrian tidak berubah. Ia kerap melanjutkan pekerjaan di rumah. Perhatian Naomi kembali teralihkan pada ponsel pinjamannya. Jarinya bergerak naik turun pada layar ponsel. Tips dari Mama Maureen adalah pilihannya untuk meluluhkan Adrian.
“Cara meluluhkan suami yang sedang marah. Yang pertama, beri pijatan se*ksi pada pasangan."
Dahi Naomi mengerut tipis. Ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba memaksa otak minimalisnya untuk berpikir.
"Pijatan se*ksi itu di sebelah mana dan bagian apanya? Jangan bilang kamu mau menyarankan memijat bagian itu. Lupakan saja!" bisiknya kepada diri sendiri.
Tatapan Naomi kembali mengarah pada layar ponsel dan membaca tips ke dua. "Berinisiatif mengajak suami bercinta." Kerutan di dahi Naomi terlihat semakin dalam.
"Aku tidak segila itu sampai mau mengajaknya duluan. Aku 'kan gengsi meskipun aku juga ingin."
.
__ADS_1
.
.
Perhatian Adrian masih terfokus pada layar laptop kala pintu kamar mandi terbuka. Secara refleks kepalanya menoleh demi menatap makhluk mungil yang berdiri tak jauh darinya. Spontan sepasang manik hazel Adrian membulat. Mulutnya sedikit terbuka menggambarkan rasa tak percaya. Naomi berdiri di hadapannya dalam posisi yang terlampau menggoda.
Tubuh sedikit gendut efek kehamilan itu terbalut pakaian tipis berenda. Pertanyaan tiba-tiba memenuhi benak Adrian.
Dari mana dia mendapatkan pakaian itu?
Seringai tipis terbit di sudut bibir Adrian. Antara terkejut dan senang laki-laki itu. Akal sehatnya memerintahkan agar dirinya diam saja, menunggu apa yang akan dilakukan Naomi selanjutnya.
"Aku masih bekerja, Naomi."
Kalimat bernada penolakan itu tak membuat Naomi menyerah. Bibirnya yang basah menelusuri lekukan leher Adrian, yang setahu Naomi adalah bagian paling sensitif suaminya.
"Apa kamu tidak lelah bekerja di sini? Bagaimana kalau kita bekerja di tempat tidur."
Ingin sekali Adrian menyemburkan tawa. Sepertinya akan menyenangkan jika bermain sebentar dengan Naomi.
__ADS_1
"Aku masih banyak pekerjaan. Lain kali saja, ya."
Penolakan Adrian kali ini membuat Naomi menjadi lebih agresif. Tangannya mulai menyelinap ke dalam piyama yang membalut tubuh Adrian. Menjelajahi dada dan punggung dengan gerakan yang baginya sangat se*ksi.
"Malam ini aku sedang bermurah hati terhadapmu. Jadi kamu boleh memanfaatkan kemurahan hatiku malam ini," bisik Naomi tepat di telinga Adrian.
"Aku sedang tidak berselera malam ini."
Sepertinya Naomi belum menyerah. Ia menciumi pipi dan bibir bergantian. Namun, Adrian diam saja, tak pula menunjukkan kenikmatan dari sentuhan Naomi.
"Sombong sekali kamu, Tuan. Apa kamu tidak tahu kalau terlalu sombong bisa mempercepat proses penuaan?"
"Bukankah aku memang sedang dalam proses penuaan?"
"Karena itulah kamu butuh regenerasi. Aku akan pinjamkan tubuhku. Kamu boleh memanfaatkannya untuk menyenangkan tubuhmu."
"Kenapa aku merasa kamu sedang berusaha merayuku?" tanya Adrian dengan muka pura-pura cuek.
"Bukan merayu. Aku sedang mengajakmu untuk melestarikan kehidupan. Ini adalah langkah paling efektif untuk mencegah kepunahan umat manusia."
__ADS_1
.