
"Kamu belum boleh ke mana-mana. Setidaknya sampai keadaan benar-benar aman untukmu," ucap Pangeran Hugo tanpa dapat ditawar.
Naomi mengekor di belakangnya. Berjalan melewati koridor istana. Sepanjang jalan, Naomi terus melayangkan protes. Alih-alih peduli, Pangeran Hugo sama sekali tak mengindahkan permintaan adiknya itu.
"Kamu tidak punya hak untuk memisahkan seseorang dari pasangannya. Aku mau bersama suamiku, keluarkan aku dari tempat ini!"
Langkah Pangeran Hugo terhenti. Ia berbalik dan menatap adiknya. "Ini adalah rumahmu yang sebenarnya, Isabel."
"Rumahku yang sebenarnya adalah di rumah suamiku, bukan di sini!" ujarnya setengah berteriak. Tanpa peduli kepada para pengawal istana yang menoleh ke arah mereka.
"Dengar Putri Isabel, suamimu, Adrian Marx itu bahkan tidak bisa menjagamu dengan baik."
"Dia menjagaku lebih baik dari siapapun selama ini," balas Naomi tak terima.
"Benarkah? Lalu bagaimana bisa wanita bernama Erica itu menculikmu? Itu adalah salah satu bukti ketidakmampuannya menjagamu."
Entah sudah semarah apa Naomi sekarang. Menghadapi sikap kakaknya yang terasa berlebihan.
"Pangeran, semua sudah siap. Anda sudah ditunggu untuk latihan." Seorang pria berpakaian rapi datang menghampiri sambil membungkuk hormat.
"Baik, aku segera ke taman," jawabnya, lalu menatap adiknya. "Dan kamu ... kembali ke kamar. Tentang Adrian Marx, kita akan bicarakan nanti setelah aku kembali." Setelahnya, Hugo melangkah pergi tanpa mengindahkan ekspresi Naomi.
Sementara Naomi terdiam menatap punggung kakaknya yang sudah menjauh. Menuju taman belakang untuk latihan memanah.
__ADS_1
"Aku harus kabur dari sini," ucap Naomi sambil melirik keadaan sekitar.
Pandangannya berkeliling pada setiap sudut demi mencari celah. Namun, tak ada satu titik pun yang tidak dijaga oleh seorang pengawal. Hampir mustahil untuk bisa keluar dari istana megah itu.
.
.
.
Suasana panik terjadi di istana siang itu. Naomi menghilang secara tiba-tiba, membuat beberapa pelayan yang ditugaskan untuk melayaninya panik bukan kepalang.
Tak terkecuali Pangeran Hugo, ia sudah memerintahkan para pengawal istana berkeliling mencari. Namun, keberadaan Naomi tak kunjung tercium. Ikut dengan ayah ibu yang tengah mengunjungi pembukaan sebuah museum pun rasanya tidak mungkin. Karena Naomi masih terlihat duduk di taman ketika orang tua mereka meninggalkan istana.
"Apa yang kalian temukan?" tanyanya.
"Menurut rekaman CCTV Putri Isabel keluar dari istana dengan memanjat pagar pembatas belakang dengan menggunakan tangga, Pangeran."
Laporan sang pengawal membuat Hugo sangat terkejut sekaligus khawatir. Betapa tidak, Naomi tengah mengandung dan ukuran perutnya terbilang lebih besar dibanding kehamilan tunggal.
"Memanjat pagar pembatas? Istana ini dijaga ketat oleh para pengawal, bagaimana bisa tidak ada yang melihatnya?" ujarnya marah.
"Maaf, Pangeran." Hanya kata itu yang dapat terucap dari sang pengawal.
__ADS_1
Pangeran Hugo menghembuskan napas kasar. Ingin marah pun percuma saja. Adiknya sudah berhasil melarikan diri.
"Dia pasti ke rumah sakit untuk menemui suaminya. Siapkan mobil, aku harus cepat menyusul!"
"Baik."
*
*
*
Naomi menghela napas setelah merasa aman. Sesekali ia melirik ke arah belakang demi memastikan tak ada siapapun yang mengikuti.
Kabur dari istana cukup sulit. Ia harus bermain kucing-kucingan dengan para pengawal istana. Ia juga harus menciptakan keributan kecil di dapur untuk mengalihkan perhatian para penjaga gerbang belakang.
Kakinya bahkan harus lecet karena terkena kawat berduri pada pagar pembatas.
"Aduh, perih sekali," ujarnya sambil mengusap kaki.
Tidak apa-apa, yang penting aku bisa melarikan diri dan menemui Tuan Adrianku.
****
__ADS_1