
"Bagaimana mungkin ada manusia sepraktis dirinya di muka bumi ini?"
Kalimat padat dan singkat yang baru saja terucap oleh Adrian membuat Naomi tak memiliki waktu untuk berpikir. Tak ada kesan romantis saat pria itu menyatakan cinta. Alih-alih meleleh bak gula yang dipanaskan, Naomi malah merinding dibuatnya.
Adrian dapat merasakan tubuh Naomi yang gemetar seperti baru saja melihat hantu. Ia dekap erat tubuh itu dan tak memberinya celah untuk melepaskan diri. Telapak tangannya yang lebar bergerak naik turun membelai rambut dan punggung.
“Maafkan aku, tolong dengar aku dulu.”
Tak ada sahutan dari Naomi. Kejutan pagi ini membuat seluruh tubuhnya terasa kaku. Selama beberapa saat keheningan melanda. Yang terdengar hanya hela napas Naomi yang cepat. Adrian mengeratkan pelukan, ia tahu Naomi ketakutan dan salah paham di antara mereka harus segera diluruskan.
“Aku yang salah karena terus memberimu ancaman. Aku tidak bermaksud begitu,” bisiknya, tanpa melepas pelukan. “Aku melakukannya hanya untuk mengikatmu. Supaya kamu tetap mau bersamaku, bukan untuk menyakitimu.”
Tak dapat dipungkiri ungkapan itu menciptakan sensasi berbeda dalam hati Naomi. Sebuah rasa yang begitu sulit untuk dipahami.
“Aku mencintaimu. Maaf kalau caraku salah dalam menunjukkannya.” Jantung Naomi terasa akan meledak mendengarnya. Adrian melepas pelukan. Sorot matanya menyapu wajah Naomi yang pucat pasi. "Apa kamu tahu, aku hampir gila beberapa bulan ini karena terus mencarimu."
Kembali ia benamkan tubuh Naomi ke pelukannya. Menciumi kening dan wajah berulang-ulang. Mengalirkan perasaan yang sebenarnya melalui setiap sentuhan.
“Tetaplah bersamaku dan memulai semuanya dari awal.” Adrian mengusap ujung mata Naomi yang mendadak basah. Naomi sedikit lebih tenang. Tetapi masih ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati.
“Bagaimana dengan Ken?” Gemetar suara Naomi saat menyebut nama itu. Bagaimana pun juga, Ken adalah laki-laki brengsek yang sudah menghancurkan hubungan Adrian dengan Haylea. Seseorang yang membuat Adrian begitu berambisi untuk balas dendam.
“Aku tidak peduli dengan bedebah itu!”
__ADS_1
“Tapi dia kakakku. Kamu akan membalasnya melalui aku juga, kan?”
“Aku akui awalnya memang begitu,” jawabnya berusaha jujur. “Saat kamu mengaku adik kandungnya, aku berniat memanfaatkanmu untuk membalas mereka. Tapi sekarang semuanya berbeda. Aku menginginkanmu untuk terus bersamaku.”
Naomi memberanikan diri menatap pria yang masih berstatus suaminya itu. Mencoba mencari kebohongan dalam tatapannya. Namun malah sebaliknya, yang ia temukan hanya tatapan penuh cinta yang tulus.
Apakah dia benar-benar serius? Naomi tak berani terlalu banyak mengharap.
“Jadi kamu tidak akan mengembalikanku ke Madam Leova lagi?”
“Apa aku terlihat sekejam itu?” Adrian menatap penuh selidik.
Naomi menggeleng pelan. Setelah memikirkan ulang, Adrian memang tidak sekejam yang ia pikirkan. Biasanya Tuan pemaksa dan arogan itu hanya senang memberi ancaman tanpa peduli siapapun yang diancamnya. Naomi dan Bruno adalah salah satu korban, meskipun sebenarnya Adrian belum pernah mewujudkan ancamannya.
"A-ku pikir ...."
Sepasang mata Naomi tampak membulat sesaat setelah mendengar kalimat itu. “Apa maksudnya?” tanyanya ragu-ragu.
“Ya, itu benar. Ken mengakui bahwa dia bukan kakak kandungmu. Orang tuanya mengadopsimu. Jadi kalian tidak punya hubungan darah.”
“Apa ini adalah sebuah trik untuk menipuku?” Naomi menatap Adrian lekat.
“Aku? Menipu? Sekarang pikir, apa ada kakak kandung yang seperti itu?”
__ADS_1
Naomi kembali menimbang dalam benaknya. Perlakuan Ken terhadapnya memang jauh di luar batas dan sama sekali tidak menggambarkan figur seorang kakak.
"Dia selalu memukuliku," lirih Naomi. "Dia juga pernah mengurungku di gudang kotor dan membiarkanku semalaman di sana."
"Kamu tidak melawan?"
"Dia memukuliku karena aku selalu melawannya. Aku pernah dipukuli sampai patah tulang. Untung Kak David menolongku waktu itu. Kalau tidak, aku pasti sudah ...."
"Jangan teruskan, rasanya aku mau membunuhnya sekarang juga."
Adrian mendekap Naomi semakin erat.
"Aku akan membalasnya untuk semua penderitaanmu selama tinggal bersamanya."
"Kamu masih saja pendendam ya, Tuan," ujar Naomi, menenggelamkan wajahnya di dada Adrian.
"Siapa suruh dia memukuli bidadari nerakaku," celetuk Adrian.
.
.
.
__ADS_1
.
.