
Perlahan kelopak mata Naomi mulai terbuka ketika merasakan cahaya silau dan hangat menerpa wajahnya. Ia mengerjap beberapa kali sembari menatap sekeliling ruangan.
"Di mana ini?"
Naomi buru-buru bangkit dan bersandar di ranjang dengan memeluk selimut di dadanya. Ia tak dapat menebak sedang berada di mana, karena ruangan bergaya klasik itu sangat asing baginya.
"Apa aku masih bermimpi?" Ia mencubit kulitnya sendiri dan meringis setelahnya. "Aduh, sakit. Ternyata Ini bukan mimpi. Lalu ini di mana? Bukannya semalam aku di rumah sakit menjaga suamiku?"
Naomi masih menatap sekeliling dengan perasaan bimbang. Pandangannya kembali meneliti ruangan itu. Di dinding terdapat figuran yang menampilkan wajah asing.
Hanya satu yang dikenali Naomi, yaitu wajah Pangeran Hugo, yang semalam mengaku sebagai kakak kandungnya.
Tak lama berselang, pintu kokoh itu terbuka, disusul dengan kemunculan dua orang wanita dari balik pintu. Mereka membungkuk hormat saat telah berada di hadapan Naomi.
"Selamat pagi, Putri Isabel. Anda butuh sesuatu?"
Naomi hampir berjingkat saat menyadari sedang berada di istana. Dua wanita di kamarnya adalah pelayan istana. Naomi tahu dari pakaiannya yang khas.
"Kenapa aku ada di sini?" tanyanya. Masih tak beranjak dari tempat tidur.
"Kami tidak tahu, Putri. Kami hanya diminta untuk melayani Anda," jawab salah satu dari mereka.
Ingatan Naomi berputar. Mencoba mengurai kejadian semalam, ia yakin bahwa Pangeran Hugo lah yang telah membawanya ke istana.
"Pasti Pangeran Hugo yang membawaku ke mari, kan?"
Dua pelayan itu masih membungkukkan kepala. Memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Naomi.
"Apa Anda butuh sesuatu, Tuan Putri?"
"Aku tidak butuh apapun! Aku hanya mau ke rumah sakit dan menemani suamiku!" Menyibak selimut dan turun dari tempat tidur. Pandangannya berkeliling mencari alas kaki. Sebuah sandal bulu rumahan terlihat di bawah meja. Naomi lantas menyematkan kakinya pada sandal dan berjalan dengan tergesa-gesa keluar kamar.
"Tunggu, Putri ... Anda mau ke mana?" Dua pelayan itu mengekor di belakang sambil berlari-lari kecil.
"Bukankah sudah kubilang aku mau ke rumah sakit menemani suamiku!"
"Tapi Anda belum diizinkan keluar dari istana, Putri. Ini perintah dari Pangeran Hugo."
__ADS_1
Naomi berbalik dan menyorot dua wanita itu dengan marah. "Aku tidak peduli! Memangnya Pangeran Hugo itu pikir dia siapa?"
Naomi mempercepat langkahnya, namun seketika terhenti. Pandangannya berkeliling pada sebuah ruangan yang sangat besar dan megah, yang tersaji di hadapannya. Ia bahkan tak tahu jalan untuk keluar dari sana.
Tempat macam apa ini? Aku harus keluar dari mana?
Naomi kembali menatap dua wanita tadi. "Jalan keluarnya di mana?"
"Maafkan kami, Putri ... tetapi Pangeran Hugo berpesan agar Anda tetap di istana. Anda tidak boleh ke mana-mana. Apa lagi keluar istana."
Naomi kembali menyorot marah. "Memangnya Pangeran Hugo-mu itu punya hak apa? Dia tidak punya hak mengurungku di tempat ini."
"Tapi, Putri—"
"Ada apa, ini?" Sapaan seorang wanita mengalihkan perhatian Naomi. Ia menatap wanita dan pria kira-kira seusia mertuanya yang berjalan ke arahnya.
Naomi diam di tempat, berusaha menebak siapa kedua orang itu. Apa lagi saat pelayan yang tadi mengikutinya memberi hormat.
"Bukankah mereka yang tadi fotonya ada di kamar?" tanya Naomi dalam hati. Ia terpaku kala menyadari mereka yang tampak berkaca-kaca menatapnya. Lalu, perlahan berjalan mendekat.
"Isabel, anakku ... kamu sudah bangun?" tanya wanita berpenampilan anggun itu sembari mengusap pelan puncak kepala Naomi.
Wanita itu bahkan sudah memeluknya. Naomi dapat merasakan tubuhnya yang gemetar, begitu pun suaranya, dan dalam hitungan detik sudah terdengar isak tangis. Pelukan wanita itu pun semakin erat. Naomi tak dapat memungkiri, ada rasa hangat yang berbeda dari pelukannya.
"Anda siapa, Nyonya?" Ia melepas pelukan seraya menatap mereka penuh keraguan.
Wanita itu mengusap air mata yang semakin lama semakin mengalir deras. "Ayo Nak, kita bicara di dalam saja."
"Benar, mari kita bicara bicara di dalam," tambah sang pria yang tampak berwibawa itu.
Akhirnya, mereka membawa Naomi kembali ke kamar. Duduk bersama di sebuah sofa empuk. Naomi menutupi perutnya dengan pakaian ketika wanita itu terus menatap ke bagian perut.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? Kamu merasa lebih baik?" Kali ini pria yang sejak tadi diam itu ikut mengeluarkan suara. Naomi hanya menjawab dengan anggukan pelan.
"Hugo benar, kita tidak butuh tes DNA untuk membuktikan bahwa dia adalah Isabel kita. Dia memiliki tanda lahir di bahu seperti Isabel. Selain itu bekas jahitan di lututnya masih terlihat." Jemarinya yang lembut bergerak membelai wajah Naomi. Semalam sang ratu memang memeriksanya saat Hugo membawanya pulang. "Sejak melihat wajahmu semalam, aku sudah yakin bahwa kamu memang putriku yang hilang 18 tahun lalu."
Entah bagaimana Naomi harus menjabarkan perasaannya. Semua terlalu mendadak dan sulit dipercaya. Namun, satu hal yang ia percaya, yaitu ucapan Adrian ketika dalam perjalanan ke rumah sakit, yang turut membenarkan jati diri Naomi yang sebenarnya.
__ADS_1
Dan detik itu juga, bola matanya basah oleh kristal bening. Ia menatap kedua orang itu dengan air mata yang tertahan.
"Apa kalian benar-benar orang tuaku?" tanyanya ragu.
"Benar, Nak. Kemari peluk ibu."
Naomi membeku kala wanita dengan perangai lembut itu kembali memeluknya. Saling melepaskan segala kerinduan yang menguasai perasaan masing-masing.
Begitu pun dengan pria yang ditebaknya adalah sang ayah. Ia mengusap punggung Naomi.
"Syukurlah kamu sudah kembali di tengah keluarga kita. Maafkan kami, yang membutuhkan waktu begitu lama untuk mencarimu, Nak. Maafkan ayah karena mengira kamu hanyut disungai."
Naomi dapat melihat betapa ayahnya itu penuh sesal. "Kenapa minta maaf, Ayah? Semua itu bukan salah kalian."
"Seandainya Lara Claire tidak menculikmu, kamu tidak akan sampai menderita. Kami sudah dengar apa yang dilakukan Ken Claire kepadamu," sahut ibu ratu dengan suara tertahan karena terus menangis.
"Aku tidak apa-apa, Bu. Sekarang aku sudah bahagia bersama suamiku. Suamiku sudah menyelamatkanku dari Kak Ken."
"Syukurlah, Nak."
"Oh ya ... Ayah, Ibu, aku mau ke rumah sakit. Aku harus di sana menemani suamiku," ucap Naomi memelas. "Tolong izinkan aku." Ia mulai panik dan khawatir mengingat suaminya.
"Tapi, Isabel ...."
"Namaku Naomi bukan Isabel!"
"Baiklah." Ibu sedikit mengalah. "Tapi bukankah Hugo bilang di luar berbahaya untukmu? komplotan wanita jahat yang menculikmu bisa saja masih berkeliaran, kan?"
"Aku tidak peduli, Bu. Aku hanya mau berada di dekat suamiku."
"Kamu tidak akan kemana-mana?" Suara bass yang tiba-tiba hadir itu membuat Naomi menoleh.
*
*
*
__ADS_1
Halo ceman-ceman .... Alhamdulillah, setelah beberapa hari berjuang, akhirnya pagi ini terbangun dalam kondisi yang jauh lebih baik. terima kasih dukungan dan doanya.
oh ya, Insyaa Allah hari ini akan mulai rutin update lagi sampai END. Eh, tinggal beberapa episode lagi loh.