My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 45 : Kejutan Yang Tak Terlupakan


__ADS_3

PRANG!


Naomi masih menikmati sarapan di kamar ketika mendengar suara seperti benda terjatuh dari kamar sudut. Dari mana lagi jika bukan dari kamar nenek. Beberapa hari belakangan ini, suara pecahan kaca memang turut mewarnai hari-hari Naomi. 


Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk, Naomi segera beranjak. Begitu tiba di kamar, Nenek Camila sedang memarahi suster yang selama ini membantu merawat dirinya.


“Ada apa, Suster?” tanya Naomi sesaat setelah memasuki kamar. 


“Maaf, Nona. Nyonya tidak mau sarapan.” 


Naomi menatap wanita yang tengah memunguti pecahan kaca itu. Kemudian melirik Nenek Camila. Ia hembuskan napasnya pelan.


“Sebenarnya Nenek ini ada masalah hidup apa? Kenapa setiap hari memecahkan benda.” 


“Memangnya kenapa?” Wanita itu mulai terlihat kesal. "Ini tidak ada hubungannya denganmu."


"Memang tidak ada. Hanya saja telingaku berasa penuh mendengar nenek marah-marah setiap hari."


"Kalau begitu jangan dengar! Pergilah, aku tidak suka bicara denganmu!” 


“Hehe ... baguslah, aku juga tidak suka bicara dengan Nenek." Naomi membenarkan posisi kacamatanya dengan ekspresi kesal. "Aku mau ke taman saja. Pagi ini cuaca sangat cerah. Akan sayang kalau waktuku hanya dihabiskan dengan melamun di kamar,” sindirnya.


Membuat Nenek Camila mendelik. Beberapa hari belakangan ini, Naomi kerap menantang dirinya untuk taruhan, dan selalu saja berakhir dengan kekalahan.


 “Baiklah, aku akan keluar! Aku cuma mau memberitahu Nenek ... bahwa terlalu banyak melamun di kamar bisa mempersingkat masa hidup seseorang.” 


“Apa kamu sedang menakut-nakutiku?” 


Naomi mengumbar senyum. “Aku mana berani menakut-nakuti wanita seusia Nenek! Aku juga tahu kondisi jantung Nenek sudah di level siaga. Tapi kalau Nenek tidak percaya, ayo kita taruhan! Aku yakin akan menang lagi."


Nenek Camila menatap ke arah taman yang dapat terlihat dari jendela kamarnya. Ia hampir lupa kapan terakhir kali keluar dari kamar dan menghirup udara segar.


“Hey, bukankah selama ini kamu mengaku sebagai istrinya Adrian?” 


Naomi mengangguk sebagai jawaban. 

__ADS_1


“Kalau begitu lakukan tugasmu sebagai menantu di keluarga ini! Ayo temani aku ke taman. Sekalian minta mereka membawakan sarapanku!” perintahnya dengan memasang muka galak.


.


.


"Oh ya, kapan kalian akan memberiku seorang cicit? Setidaknya sebelum mati aku mau melihat Adrian menjadi seorang ayah." Nenek Camila penuh harap.


Menimbulkan semburat merah di pipi Naomi. Sebuah tanda tanya besar tiba-tiba muncul di benaknya. Sejak malam kedatangan David, Adrian tak pernah lagi menyentuh dirinya.


"Emh, soal itu ..." ucapan Naomi terpotong di udara kala menyadari kehadiran seseorang tak jauh dari mereka.


Erica melayangkan tatapan tidak suka pada Naomi yang tampak sangat dekat dengan Nenek Camila.


Hal yang membuat Erica cukup heran adalah sikap nenek terhadap Naomi. Nenek Camila adalah seseorang yang tidak mudah didekati. Tetapi justru berbeda dengan Naomi, yang begitu mudah mendapatkan perhatiannya. Bahkan Naomi begitu mudah menaklukkannya.


"Nenek sedang apa di sini?" tanya Erica sambil berjalan mendekat.


"Apa kamu tidak lihat aku sedang sarapan?" jawabnya ketus.


Erica memutar bola matanya dengan malas. Nenek Camila seakan tak sungkan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Erica.


"Memangnya kenapa dengan Naomi?"


"Dia pasti menginginkan sesuatu sehingga mendekati Nenek terus. Sama seperti caranya mendekati Adrian," sahut Erica berusaha meyakinkan.


Alih-alih terpengaruh, sang nenek malah menghadiahkan tatapan tajam kepada Erica. "Bukankah malam ini ulang tahunmu? Kamu seharusnya mempersiapkannya dengan baik, bukan malah menjadi provokator di sini."


Telak! Erica kehilangan kata-kata untuk membuat Naomi tampak buruk di mata nenek.


"Semua persiapannya sudah selesai. Tinggal menunggu kejutan yang akan kupersembahkan di sana."


"Baiklah, kalau kamu memang tidak punya pekerjaan lain, lebih baik siram tanamanku saja! Jangan berusaha mengganggu Naomi," perintahnya, sambil menunjuk ke arah deretan tanaman hiasnya.


Erica mendengus. Tangannya terkepal di belakang punggung. Sementara Naomi tersenyum ke arahnya dengan alis bergerak naik turun seperti sedang mengejek dirinya.

__ADS_1


"Kmu boleh senang sekarang, tapi lihat saja malam ini, aku akan memberimu kejutan yang tidak bisa dilupakan," ucapnya dalam hati.


.


.


Di kantor ....


Senyum mengembang sempurna di bibir Adrian yang sedang terfokus dengan ponselnya.


Beberapa hari ini, ia benar-benar mengawasi Naomi di rumah. Setiap ada waktu istirahat, ia akan memeriksa rekaman CCTV dari berbagai sudut rumah, yang tersambung langsung ke ponselnya.


Terlihat di layar Naomi sedang menemani nenek di taman. Hal yang membuat Adrian hampir tak percaya.


Ya, beberapa waktu belakangan ini kondisi Nenek Camila memang semakin membaik. Ia juga tak membutuhkan obat penenang untuk bisa tidur di malam hari. Diam-diam, Naomi selalu ke kamar dan menemaninya berdebat hingga lelah dan tertidur dengan sendirinya.


Dia memang wanita yang sangat luar biasa.


Setelah puas, Adrian menutup tayangan rekaman CCTV, lalu menghubungi Bruno melalui ponselnya.


"Iya, Tuan?" sapa Bruno di ujung telepon.


"Pergilah ke rumah dan jemput Naomi. Bawa dia ke salon. Beritahu Rachel agar membuatnya secantik mungkin."


Sepasang mata Bruno membulat penuh mendengar perintah yang baginya sangat ajaib itu.


"Anda yakin, Tuan?" tanya Bruno tak percaya.


Adrian menghembuskan napas kasar. "Kalau masih bertanya lagi, maka gajimu akan ...."


"Baiklah!" potong Bruno cepat. "Saya akan menjemput Nona Naomi sekarang."


Bruno menutup panggilan setelahnya sambil mengusap dada naik turun.


"Ada apa dengan tuan? Biasanya dia marah kalau Nona Naomi berdandan cantik?"

__ADS_1


.


.


__ADS_2