My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 52 : Mari Kita Pulang


__ADS_3

“Dia selalu memberiku ancaman yang sama. Mengembalikanku ke tempat terkutuk itu. Sekarang dia akan mewujudkannya.” 


Tubuh lemas Naomi luruh ke lantai. Ia terduduk dengan memeluk lutut. Keringat pun mulai membungkus tubuhnya. Belum pernah sebelumnya Naomi ketakutan seperti sekarang.


Sementara di luar suasana tegang masih menyelimuti. Kejadian tak terduga itu membuat semua orang terperangah. 


Erica berdiri di samping meja dengan kepala tertunduk. Sementara ibu memilih duduk dan memijat kening.


“Aku akan memberimu waktu sampai besok untuk mengemasi barang-barangmu dan pergi dari rumahku. Kembalilah ke rumah orang tuamu.” Adrian berbicara setelah beberapa menit terdiam. Senyum sinisnya terbit saat melihat teman masa kecilnya itu mulai menangis. 


“Aku mohon maafkan aku, Adrian. Aku mengaku bersalah, aku buta karena ingin memilikimu. Tapi tolong jangan minta aku untuk pergi. Bukankah kita sudah berteman sejak kecil?” ucap Erica berusaha melunakkan sikap keras Adrian.


“Tapi aku sudah tidak bisa menganggapmu sebagai teman lagi.” 


Erica melangkah maju dan mendekati Adrian. Tetapi pria itu malah membuang pandangan ke arah lain. Seolah enggan untuk mendengar apapun ucapan Erica. Dan wanita itu paham betul karakter Adrian. Ia tak memiliki hati yang cukup baik untuk memaafkan kesalahan seseorang.


Wanita itu terduduk sambil menangis. Jika biasanya ibu menjadi pembela untuknya, namun kali ini tidak lagi. Ibu hanya duduk di kursi dengan raut wajah masih shock. 


"Bruno, kita pergi dari sini." Adrian membalikkan tubuhnya. Namun, tak lagi menemukan Naomi di belakang punggungnya. Pandangannya lantas mengedar mencari. “Di mana Naomi?” 

__ADS_1


“Sepertinya ke toilet, Tuan.” Bruno cepat-cepat menyahut setelah melihat tuannya kebingungan. “Tadi saya melihatnya pergi ke belakang.” 


“Oh ...” Sambil menunggu, Adrian memilih duduk. Beberapa kali ia melirik arah jarum pada arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah beberapa menit, seharusnya Naomi sudah kembali sejak tadi. "Kamu yakin melihat Naomi ke toilet?"


"Iya, Tuan. Saya melihatnya sendiri."


“Baiklah, aku akan menyusulnya dulu. Jangan-jangan dia sakit.” Ia segera bangkit meninggalkan tempat duduknya menuju toilet. Kini yang harus ia lakukan adalah mengungkapkan perasaannya kepada sang istri, memulai semuanya dari awal dan menjadi pasangan suami-istri normal. 


Pintu kamar mandi yang tertutup rapat membuat Adrian memilih menunggu sebentar.


“Naomi ... kamu di dalam?” tanyanya sambil mengetuk pintu pelan. “Apa kamu sakit? Mari kita pulang saja.” 


Tidak adanya jawaban dari dalam membuat Adrian mulai panik. Pintu ia ketuk dengan kuat hingga membuat Bruno nyaris terlonjak dan segera menyusul tuannya.


“Ada apa, Tuan?” 


“Minggir, aku mau dobrak pintunya!” Adrian mendorong Bruno kala menghalangi jalannya. 


“Tapi kenapa harus didobrak? Anda kan bisa mengetuknya.” Ucapan santai bruno membuat Adrian mendengkus marah. Tubuh Bruno seperti akan terbelah menjadi dua bagian saat Adrian menyorotnya tajam. 

__ADS_1


“Sudah kulakukan sejak tadi!” ujarnya, hampir berteriak saking kesalnya. 


Tetapi meski begitu, Bruno masih berusaha bersikap tenang. Sepertinya ia paham betul cara menghadapi tuannya.


“Kalau begitu kenapa tidak dibuka langsung saja, Tuan? Kalau didobrak, Anda hanya akan merusak pintunya,” ucapnya masih berusaha tenang. Lalu, berjalan menuju pintu.


Pintu kokoh itu terbuka setelah Bruno memutar gagangnya.


“Hehe ... benar kan, pintunya tidak terkunci. Anda bisa masuk tanpa harus mendobrak.”


Hampir saja Anda membuang-buang energi untuk mendobrak pintu yang tidak terkunci.


Ingin sekali Adrian memaki Bruno habis-habisan. Wajah menyebalkan itu selalu berhasil membuat emosinya naik turun. Tanpa menunggu, kakinya segera melangkah memasuki toilet.


"Naomi?"


.


.

__ADS_1


 


__ADS_2