My Sexy Little Wife

My Sexy Little Wife
Bab 54 : Kemana Naomi?


__ADS_3

“Bu ... tolong aafkan aku. Aku tahu aku keterlaluan, tapi aku melakukannya karena mencintai Adrian dan ibu tahu itu.” Erica berlutut di hadapan ibu sesaat setelah tiba di rumah. 


Ibu tak menanggapi permohonan Erica. Ia segera beranjak dan memilih masuk ke kamar. Erica tak menyerah, ia mengikuti wanita paruh baya itu di belakang punggungnya. 


“Maafkan ibu, Erica,” ujarnya sambil menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. “Ibu tidak bisa berbuat apa-apa untukmu. Kamu sudah membuat Adrian marah dan kamu tahu seperti apa Adrian kalau sudah tidak menyukai sesuatu.” 


Tak ingin menyerah, Erica kembali menjatuhkan tubuhnya di hadapan ibu dan memeluk lututnya. “Setidaknya jangan usir aku dari sini, Bu. Aku tidak mau pulang ke rumah orang tuaku.” 


Ibu menghela napas panjang sambil membuang pandangan ke arah lain. “Pulang lah dulu ke rumah orang tuamu. Mungkin saja beberapa hari ini Adrian akan melunak dan memaafkanmu.” 


Tak ada yang dapat dilakukan Erica selain berpasrah. Ibu yang selama ini selalu melindunginya bahkan tak dapat berbuat apa-apa untuknya. 


Hal sama pun terjadi pada Haylea. Setelah dipermalukan habis-habisan oleh Adrian, ia memilih menghabiskan waktunya dengan menenggak minuman keras di kamar pribadinya. Sama sekali tak pernah terpikir olehnya bahwa Adrian memergokinya bersama Ken di apartemen. 


Tetapi bukannya menyesali perbuatannya, dendam di hatinya malah semakin menjadi-jadi. 


Prang! 


Haylea menghempas gelas ke arah dinding hingga pecahannya berserakan di lantai. Lalu, disusul oleh suara isak tangis. 


“Aku akan membalas kalian semua. Lihat saja, aku pasti akan menghancurkan kalian!” teriak Haylea penuh amarah. 

__ADS_1


.


.


Di rumah sakit ....


Adrian belum mampu membendung luapan rasa bahagia atas informasi yang baru diterimanya. Pria itu sempat tak mempercayai pendengarannya sendiri. Bahkan saat meninggalkan ruangan dokter ia sampai lupa untuk berterima kasih saking tak percayanya. 


“Naomi hamil?” Entah sudah berapa kali ia menggumamkan kata itu. 


Tentunya, berita ini akan menjadi kabar yang sangat membahagiakan bukan hanya bagi Adrian. Tetapi juga bagi Nenek Camila, yang sudah mengungkapkan keinginannya untuk memiliki cicit. Selain itu, kehadiran seorang anak akan mengikat Naomi dan Adrian. 


“Tuan ...” Panggilan itu membuyarkan lamunan Adrian. 


“Saya menerima laporan bahwa Ken sudah mengakui keterlibatannya dalam bisnis obat-obatan terlarang. Selain itu, dia juga membuat pengakuan mengejutkan.” 


Langkah cepat Adrian terhenti sejenak. Ia menatap Bruno serius. “Pengakuan apa?” 


“Dia mengaku bahwa sebenarnya, dia bukanlah kakak kandung Nona Naomi.” 


Laporan itu menciptakan kerutan di dahi Adrian. Sebuah tanda tanya besar memenuhi benaknya. “Tapi Naomi bilang Ken adalah kakak kandungnya.” 

__ADS_1


“Sepertinya Nona Naomi tidak mengetahuinya. Hmm ... kakak macam apa yang tega menjual adiknya sendiri untuk dijadikan wanita penghibur.” 


“Tapi bagus lah kalau mereka bukan saudara kandung, Anda bisa jelaskan kepada Nona Naomi agar bebannya sedikit berkurang. Nona Naomi pasti akan sangat senang.” 


Seulas senyum terlukis di wajah Adrian. Ia sudah tidak sabar memberitahu Naomi tentang kehamilannya. Entah akan semenggemaskan apa reaksinya  nanti. Membayangkan itu saja sudah membuat hati Adrian seperti melayang ke angkasa. 


“Kenapa aku merasa hari ini kamu bekerja dengan sangat baik?” Adrian menepuk bahu bruno sedikit keras. “Baiklah, karena aku sedang senang, maka aku akan memberimu bonus bulan ini. Ah, satu lagi, gajimu kunaikkan lima persen.” 


Mendadak senyum cerah di wajah Bruno meredup. 


Hanya lima persen? Hmm ... aku pikir lima puluh persen. 


“Anda baik sekali, Tuan!” ucapnya dengan nada lesu, lalu berjalan mengikuti Adrian menuju ruangan tempat Naomi berada. 


Adrian berhenti sejenak di ambang pintu. Perasaan membuncah dalam hatinya seperti tak terkendali. Ingin sekali memeluk Naomi dan mengungkapkan betapa ia mencintai wanita itu. 


“Aku mau berdua saja dengan Naomi. Aku tidak mau siapapun masuk sebelum aku minta, sekalipun itu dokter.” 


“Baik, Tuan. Saya akan menunggu di sini.” 


Menarik napas dalam, Adrian berusaha mengumpulkan keberanian. Tangannya memutar gagang pintu hingga terbuka. Lalu, melongokkan kepala ke dalam. 

__ADS_1


Pandangan Adrian menyapu seisi ruangan itu. Naomi tak terlihat di sana. Ranjang pasien tempatnya berbaring tadi sudah dalam keadaan kosong.


.....


__ADS_2