
Belum ada kata yang dapat terucap dari bibir Naomi sejak tiba di rumah sakit. Tangisnya perlahan mereda, meninggalkan suara sesegukan.
Adrian dan Justin baru saja menjalani operasi. Satu peluru bersarang di bahu sebelah kiri Adrian, sementara Justin mendapat dua kali tembakan oleh Erica. Satu di lengan kiri dan satunya mengenai bagian perut saat mencoba melindungi Naomi.
Kini, Adrian sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Ia belum melewati masa kritisnya. Berbagai alat medis telah terpasang di tubuhnya.
“Minumlah! Kamu pasti sangat lelah.” Naomi menatap pria yang kini berjongkok di hadapannya. Seorang pria asing yang tiba-tiba mengaku sebagai kakaknya. Semua rentetan kejadian hari ini membuatnya bingung dan bertanya-tanya.
Naomi menempelkan bibirnya pada ujung sedotan. Meneguk beberapa kali hingga merasa cukup untuk melegakan dahaga.
"Kamu merasa lebih baik?"
"Iya, terima kasih, Tuan."
"Aku kakakmu, bukan tuanmu." Pangeran Hugo mengulas senyum tipis. Tangannya terangkat mengusap puncak kepala Naomi. Tatapannya dalam, seperti menemukan sesuatu di wajah itu. “Setelah melihat wajahmu, aku semakin yakin bahwa kamu memang Isabel.”
“Siapa Isabel?” tanya Naomi.
“Kamu.”
"Aku?"
Hugo menggenggam jemari adiknya. Agak sulit menjelaskan kepada Naomi. Hugo tak tahu harus mulai dari mana karena kejadian hari itu samar-samar dalam ingatannya. Usianya masih 10 tahun ketika Isabel menghilang.
“Iya ... aku akan ceritakan. Maukah kamu mendengarnya?”
Naomi mengangguk sebagai jawaban.
"Bagaimana kalau kita bicara di luar saja. Jangan sampai Adrian terganggu," tawar Pangeran Hugo.
Sekilas Naomi melirik suaminya yang masih belum sadar. Ia mengangguk setuju setelahnya.
__ADS_1
Akhirnya, Hugo pun mulai menceritakan segalanya tentang Isabel, tentang orang tua mereka dan hari menghilangnya Putri Isabel yang menjadi pukulan berat bagi seluruh keluarga istana.
Naomi mengusap kedua sisi pipinya yang basah. Bukan hal mudah baginya untuk percaya begitu saja pada setiap ucapan Pangeran Hugo.
“Apa buktinya kalau aku Isabel?” tanya Naomi kemudian.
“Isabel punya tanda lahir di bahu sebelah kiri. Selain itu ada bekas jahitan luka di lutut kanan. Kamu terluka saat jatuh dari tangga, yang membuat ibu memecat pengasuhmu.”
Naomi tertegun selama beberapa saat. Semua yang dikatakan Hugo memang benar adanya. Ia memiliki semua tanda yang disebutkan di tubuhnya.
"Maafkan aku yang begitu lama menemukan informasi tentangmu. Kamu harus mengalami banyak kejadian buruk sampai harus dijual untuk dijadikan pelayan." Tak dapat membendung rasa haru, Pangeran Hugo memeluk adiknya.
"Di mana ayah dan ibu?"
"Mereka di istana. Kita akan pulang menemui mereka."
Naomi menggelengkan kepala. "Tapi aku mau tetap di sini menemani suamiku."
"Aku tidak mau meninggalkannya. Kalau dia terbangun nanti, dia akan mencariku."
Suara langkah kaki saling berkejaran terdengar dari kejauhan dan menghentikan pembicaraan itu. Naomi menoleh sekilas, tampak ibu dan Nenek Camila berjalan dengan tergesa-gesa.
"Naomi, bagaimana keadaan Adrian?" tanya ibu dengan wajah memucat penuh khawatir, saat telah berada di hadapan Naomi.
Naomi tak segera menjawab. Ia menyorot ibu mertuanya itu dengan tajam.
"Katakan Adrian baik-baik saja, Naomi. Dia tidak terluka parah, kan?"
"Apa sekarang Ibu sudah puas?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja dilontarkan Naomi, membuat sang mertua menundukkan kepala. Ia terlihat penuh sesal. "Suamiku di dalam sana sedang berjuang hidup karena perbuatan gadis kesayangan Ibu! Apa sekarang Ibu senang?"
"Maafkan ibu, Naomi. Ibu tahu Ibu salah karena sudah mempercayai Erica," jawabnya dengan derai air mata.
__ADS_1
"Sudah terlambat, Bu!"
Tidak ada yang bisa dilakukan wanita itu selain menangisi putranya kesayangannya. Adrian sedang berjuang melawan maut dan itu seperti pukulan telak baginya.
.
.
.
Malam semakin larut. Naomi masuk ke dalam ruangan di mana suaminya terbaring tak sadarkan diri. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di sisi pembaringan. Dadanya terasa penuh dengan sesak.
Adrian yang biasanya kuat dan tangguh kini harus tergolek lemah tak berdaya.
Hati Naomi pilu. Namun, untuk menangis pun ia tak mampu lagi.
"Hey, Tuan Adrian jelek, arogan, pemaksa dan tua bangka! Aku sedang memakimu! Kenapa kamu diam saja? Kenapa tidak bangun dan marah?"
Tangannya bergerak membelai wajah pucat itu, kemudian merebahkan kepalanya di lengan suaminya.
"Aku ingin kamu bangun dan mengancamku seperti biasanya. Ayo bangun dan beri aku sebuah ancaman."
Ia mengguncangkan lengan suaminya pelan.
"Aku tidak suka caramu mengancamku sekarang. Pura-pura akan mati itu tidak lucu!"
Naomi mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Kalau kamu tidak mau bangun dan mengancamku dengan cara lain, maka aku yang akan mengancammu!"
Naomi membelai wajah Adrian. Menyandarkan kepala di lengan sambil terisak hingga rasa lelah mulai menyusup, mengantarkannya ke alam mimpi.
__ADS_1
*****