
"Di mana Naomi, Bu?" Pertanyaan itu menjadi kalimat pertama yang terucap dari mulut Adrian setelah tersadar.
Ia terbangun dan tak menemukan Naomi di sisinya. Alhasil, Adrian pun menjadi sangat panik mencari-cari istrinya. Ibu dan nenek yang sejak semalam tak beranjak dari sisi Adrian, ikut panik. Apa lagi saat mendengar Adrian meringis karena luka bekas operasi.
"Tenanglah, Adrian. Naomi baik-baik saja. Semalam Pangeran Hugo membawanya pulang ke istana."
Adrian menjadi sangat terkejut mendengar jawaban ibunya. "Apa? Membawanya pergi tanpa meminta izinku?"
"Mungkin dia hanya mau mempertemukan Naomi dengan orang tuanya." Tentu saja jawaban itu tak begitu saja diterima oleh Adrian. Bukankah sebelumnya ia telah menegaskan bahwa Naomi tetap akan berada di sisinya dan tak akan ke istana tanpa izin Adrian?
"Kenapa mereka membawanya? Aku mau menjemputnya sekarang."
"Jangan, Adrian! Kamu masih butuh istirahat."
"Lepaskan, Bu." Adrian memberontak. Jarum infus yang menancap di pergelangan tangan ia tarik paksa. Ia bahkan tidak peduli dengan rasa sakit yang berpusat pada bahu sebelah kirinya.
Tak lama berselang, seorang perawat masuk ke dalam ruangan setelah Nenek Camila beberapa kali menekan tombol pemanggil. Adrian terus saja memberontak, membuat para perawat kewalahan dan kesulitan memberi obat penenang.
"Lepaskan aku!" teriak Adrian.
__ADS_1
Saat itu juga pintu ruangan terbuka disusul dengan kemunculan Naomi dari balik pintu. Naomi mematung di sana. Rasa tak percaya sekaligus bahagia ketika melihat suaminya sudah tersadar.
Secepat cahaya kilat wanita itu berlari menghambur memeluk suaminya. Adrian meringis kala Naomi tanpa sengaja menabrak bahu kirinya.
"Aduh, sakit sekali," ujarnya sambil menyentuh bagian yang terasa berdenyut.
Naomi menatapnya dengan berderai air mata. Seorang perawat bergerak cepat dengan memeriksa keadaan Adrian. Setelah memastikan tidak ada yang serius, mereka akhirnya beranjak keluar.
Begitu pun dengan ibu dan nenek yang segera keluar dari ruangan. Seperti memberi ruang dan waktu bagi pasangan suami dan istri itu untuk menghabiskan waktu bersama. Ada banyak hal yang perlu mereka bicarakan berdua.
"Kamu sudah sadar? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Naomi memastikan.
"Tidak apa-apa, itu bukan salahmu. Lagi pula aku baik-baik saja dan wanita jahat itu sudah ditangkap." Naomi membelai wajah suaminya. Ia kecup bibirnya singkat. Sebuah perlakuan lembut yang membuat Adrian seperti ingin melayang.
"Syukurlah, Sayang. Tapi bagaimana kandunganmu? Mereka tidak apa-apa, kan?" tanyanya sambil mengusap perut.
"Tidak apa-apa."
Keduanya kembali saling melepas kerinduan dengan pelukan. Dahi Adrian mengerut setelah menyadari Naomi yang hanya menggunakan setelan piyama. "Kenapa kamu menggunakan piyama?"
__ADS_1
"Aku kabur dari istana jelek itu. Aku lebih suka di sini bersamamu. Tolong jangan biarkan mereka membawaku lagi." Naomi bersandar dengan manja di bahu sebelah kanan Adrian.
"Tenang sayang. Aku tidak akan membiarkan pangeran menyebalkan itu membawamu lagi."
Naomi mendongakkan kepala. Ia akan mengadukan semua perbuatan Pangeran Hugo kepada suaminya. "Apa kamu tahu, dia mengurungku di sana dan tidak membiarkanku kemari. padahal aku sudah memohon. Makanya aku kabur saja."
"Dia itu memang menyebalkan sejak pertama bertemu. Aku ingin sekali mendorongnya dari puncak gedung Burj Khalifa tanpa parasut," tambah Adrian, melampiaskan kekesalannya.
"Benar. Dia pikir dia itu siapa? Tindakannya itu sangat tidak keren."
"Kemarin dia juga menggores leherku dengan belati untuk mengelabui Erica. Sepertinya aku akan membalas dengan mengiris lehernya menggunakan katana milik Batosai."
"Dan aku ingin menghanyutkannya ke Sungai Amazon. Biar saja dia menjadi rebutan ikan piranha."
Adrian melingkarkan tangan ke pinggang Naomi. Ia cium kening berulang-ulang. "Tenang saja, Sayang. Nanti kita ajak dia berlayar ke samudra Atlantik. Di sana ada Segitiga Bermuda. Kita akan jatuhkan dia di sana tanpa pelampung."
"Ehm jadi kalian berdua sedang berencana menjadi pasangan kriminal, ya ...." Suara yang tiba-tiba muncul membuat sepasang suami istri itu melotot.
****
__ADS_1
Maafin segala typo dan kata berulang.