
Karena sudah terlanjur malu, akhirnya Ricko memutuskan beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya. Jasmine menatap Ricko yang sudah menaiki anak tangga sambil geleng-geleng kepala, merasa heran dengan tingkah aneh majikannya. Setelah Ricko sudah tidak terlihat, Jasmine mendudukkan diri di atas karpet, tepatnya di dekat kedua anak asuhnya yang sedang menonton televisi.
“Apakah kalian merasa aneh dengan sikap daddy kalian?” tanya Jasmine kepada si kembar.
Rayan menoleh tapi tidak dengan Raisa yang fokus menonton televisi. “Ya, daddy bersikap aneh semenjak ada Kak Jas,” jawab Rayan jujur sambil menatap pengasuhnya itu dengan tatapan lucu dan menggemaskan.
“Iya ‘kan Ra?” Rayan menyenggol lengan Raisa, meminta pendapat saudari kembarnya.
Raisa menoleh lalu menatap Jasmine dan Rayan bergantian. “Iya, daddy menjadi aneh sejak ada Kak Jasmine.” Gadis kecil itu setuju dengan pernyataan Rayan.
“Jadi menurut kalian kalau daddy kalian berubah aneh sejak Kakak menjadi pengasuh kalian?” Jasmine memandang bocah kembar itu bergantian dengan tatapan tidak percaya, lalu ia tertawa hambar sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. “Kalian pasti bercanda.” lanjutnya masih tertawa pelan.
“Kami serius, Kak.” Rayan dan Raisa menjawab kompak.
“Jadi menurut kalian Kak Jas membawa dampak buruk untuk daddy kalian?” tanya Jasmine pada kedua anak kembar itu.
“Kenapa Kak Jas peduli dengan perasaan daddy?” Rayan menjawab pertanyaan pengasuhnya dengan pertanyaan lainnya.
Pertanyaan Rayan membuat Jasmine menjadi terdiam beberapa saat, karena yang di katakan Rayan benar, kenapa dia harus memedulikan Ricko? Seharusnya ia bekerja dengan baik, menjaga dan merawat dua anak kembar yang lucu dan menggemaskan itu.
__ADS_1
“Kakak tidak memedulikan daddy kalian, hanya saja pertanyaan ini lumrah untuk di tanyakan. Sikap daddy kalian memang terasa aneh akhir-akhir ini,” jawab Jasmine sambil tersenyum meringis.
“Biarkan saja daddy dengan sikap anehnya, yang penting Kak Jas tidak ikut menjadi aneh.” Raisa menjawab sambil beranjak dan mendudukkan diri di pangkuan Jasmine.
*
*
“Haciuuhh!” Ricko yang sedang menyesap asap rokok di dalam kamar tiba-tiba bersin kencang. Pria tersebut mengusap hidungnya berulang kali.
“Siapa yang sudah berani membicarakan aku?” kesal Ricko masih mengusap hidungnya yang terasa gatal. “Akan aku kutuk mereka menjadi ... menjadi apa ya?” Ricko berpikir sejenak sambil menyesap asap rokoknya lagi, salah satu jari tangannya mengetuk-ngetuk lututnya.
*
*
Jasmine menciumi pipi Raisa dengan sangat gemas. Gadis kecil itu merasa senang dan bahagia kalau berada di pangkuan Jasmine. Ia merasa hangat dan nyaman dengan pengasuhnya itu.
“Sudah malam, waktunya tidur.” Jasmine mengingatkan kedua anak asuhnya agar menyudahi menonton televisi.
__ADS_1
“Baiklah.” Rayan mengambil remote untuk mematikan televisi berukuran 40 inch yang tertempel di dinding.
Lalu mereka bertiga segera menuju kamar yang ada di lantai atas. Sampai di dalam kamar, Jasmin segera menyuruh kedua anak asuhnya untuk menggosok gigi, cuci tangan dan cuci kaki. Gadis tersebut selalu mengajarkan hal yang positif untuk si kembar. Setelah selesai, Jasmine mengganti pakaian mereka dengan baju tidur.
Rayan dan Raisa sudah merebahkan diri di tempat tidur masing-masing.
“Selamat malam Kak Jasmine.” Dua anak kembar itu berkata bersamaan.
“Selamat malam juga anak-anak pintar, semoga mimpi indah.” Jasmine tersenyum lalu ikut merebahkan diri di samping Raisa.
TING
Baru saja akan memejamkan kedua mata, ponsel jadul Jasmine yang terletak di atas nakas berbunyi pendek bertanda kalau ada pesan masuk. Jasmine segera mengambil ponselnya itu, ternyata ada pesan masuk dari teman lama Jasmine.
Jasmine ragu untuk membalas pesan tersebut.
****
Tolong ya tolong gerakin jempolnya buat tekan like 😄😄🙏💃❤
__ADS_1