
Hari berlalu dengan begitu cepat, tidak terasa Jasmine dan Raisa sudah berada di rumah sakit selama satu minggu untuk menjalani pemulihan. Selama itu juga dokter Fadli menjenguk Jasmine setiap hari, dan sering membawakan buket bunga.
Dada Ricko rasanya sudah terbakar gosong dan menjadi abu karena dia merasa panas saat melihat kedekatan Jasmine dan Fadli.
“Kondisimu semakin membaik, Jas. Kemungkinan minggu ini kau di perbolehkan pulang oleh dokter,” ucap Fadli sembari menyuapi Jasmine dengan potongan buah pir.
“Amin, semoga saja ucapan dokter Fadli benar. Soalnya aku sudah tidak betah berada di sini,” jawab Jasmine sambil mengunyah buah pir yang ada di dalam mulutnya.
“Perkiraan seorang dokter itu tidak akan pernah meleset.” Fadli menepuk dadanya dengan rasa bangga, sambil tersenyum menatap Jasmine.
Jasmine memutar kedua matanya dengan malas sembari geleng-geleng kepala saat melihat kenarsisan dokter muda itu.
Dokter Fadli tergelak saat melihat wajah kesal Jasmine yang di tunjukkan kepadanya.
*
*
“Daddy, aku ingin bertemu dengan Kak Jas,” rengek Raisa kepada ayahnya yang duduk di dekat tempat tidurnya. Pasalnya semenjak setelah operasi, dirinya belum pernah bertemu dengan Jasmine lagi, jadi gadis kecil itu sangat merindukan pengasuhnya.
__ADS_1
“Kak Jas sedang beristirahat, Ra. Besok saja ya.” Ricko membujuk putrinya sekaligus mengulur waktu agar putrinya tidak bertemu dengan Jasmine.
“Sekarang Daddy! Aku mau sekarang ... huahhh ... hiks ... hiks.” Raisa langsung menangis histeris, hingga membuat Ricko panik dan akhirnya dia mengalah, lalu mengantarkan putrinya ke kamar rawat Jasmine menggunakan kursi roda.
Tok ... tok ...
Ricko mengetuk pintu ruang rawat Jasmine beberapa kali, tidak berselang lama pintu tersebut terbuka dari dalam. Ricko menahan nafasnya untuk beberapa saat ketika melihat Fadli yang membukakan pintu tersebut.
“Silahkan masuk, Pak dan adik kecil,” ucap Fadli ramah kepada Ricko dan Raisa.
Ricko hanya memandang datar proa yang menyambutnya dengan ramah itu, kemudian ia segera mendorong kursi roda putrinya memasuki ruangan tersebut.
“Hai, Kak Jas,” jawab Raisa sembari melambaikan tangannya kepada pengasuhnya itu.
“Raisa merindukanmu katanya!” ucap Ricko dengan datar seraya menatap Jasmine dengan tajam, tapi sayangnya gadis tersebut seolah tidak ingin menatapnya. Jasmine hanya menatap ke arah Raisa dan Fadli saja.
“Dasar wanita itu!” geram Ricko namun hanya di dalam hati. Rasanya dia tidak rela jika Jasmine bersikap cuek kepadanya.
Fadli tersenyum saat melihat interaksi Jasmine dan Raisa. “Mereka terlihat sangat mirip, apa hanya perasaanku saja?” tanya Fadli pelan pada dirinya sendiri, akan tetapi ucapannya itu terdengar sampai ke telinga Ricko.
__ADS_1
“Mereka memang ibu dan anak!” sahut Ricko dengan cepat dan kesal.
“Hah, apa?” Fadli tidak terlalu mendengar ucapan Ricko yang terlalu cepat.
“Bukan apa-apa!” jawab Ricko dengan datar dan dingin.
Fadli hanya membulatkan mulutnya sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali, kemudian tatapan matanya terfokus pada Jasmine dan Raisa yang tengah bercanda dan tertawa. Begitu pula dengan Ricko melakukan hal yang sama, ia menatap dua wanita cantik yang berbeda generasi itu dengan perasaan yang sulit untuk di jabarkan.
“Jasmine sangat cantik,” ucap Fadli pada Ricko.
“Biasa saja!” jawab Ricko dengan ketus.
“Menurutmu memang biasa saja, tapi menurutku Jasmine adalah wanita hebat dan sangat luar biasa,” jawaban Fadli membuat dada Ricko semakin terasa panas.
Ricko rasanya tidak rela jika ada pria lain yang memuji kecantikan dan kebaikan Jasmine.
***
Jangan lupa dukungannya ya❤
__ADS_1