
Selesai makan malam, Ricko, dan kedua anaknya beserta Jasmine kembali ke hotel. Sampai di hotel kedua anak kembar itu langsung merebahkan diri di atas tempat tidur karena kekenyangan.
“Anak-anak, ganti baju dulu,” ucap Jasmin kepada Rayan dan Raisa yang kompak terpejam.
“Biarkan saja, Jas,” tegur Ricko kepada Jasmine yang sudah memegang dua baju tidur anak di kedua tangannya.
Jasmine menuruti perintah Ricko, membiarkan kedua anak asuhnya tidur tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Kemudian ia meletakkan kembali dua baju tidur yang ia pegang ke dalam koper.
“Kau juga harus istirahat,” ucap Ricko sembari mendudukkan diri di sofa.
“Di mana aku harus istirahat? Kalau Bapak duduk di sofa itu?” tanya Jasmine kepada Ricko yang sedang menekuri layar ponselnya yang berlogo apel di gigit tikus.
Ricko meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian ia mendongak, menatap Jasmine dengan datar.
“Apakah kau tidak melihat ranjang yang besar dan lebar itu?” Ricko menunjuk ranjang yang ada di dalam kamar tersebut dengan ujung dagunya.
“Aku melihatnya, Pak. Tapi, Bapak sebelumnya bilang kalau aku harus tidur di sofa?” jawab Jasmine sekaligus bertanya kepada bosnya yang menyebalkan itu.
“Kapan aku mengatakannya?!” Ricko pura-pura lupa ingatan, kemudian ia merebahkan dirinya di sofa yang sedang ia duduki.
__ADS_1
“Pak!” seru Jasmine pada pria yang sudah merebahkan diri di sofa sambil bersedekap di dada.
“Diam! Dan tidur di atas ranjang, Mine!” jawab Ricko dengan nada kesal.
Mine?
Apakah Jasmine tidak salah dengar?
Benarkah Ricko memanggilnya dengan sebutan ‘Mine’ yang artinya adalah ‘milikku’.
“Jangan Ge-Er! Aku hanya memanggil nama belakangmu saja!” ketus Ricko sembari menoleh dan menatap Jasmine yang berdiri mematung tidak jauh darinya.
Sebenarnya apa yang dia harapkan? Dia selama ini cukup tahu diri dan membatasi hatinya agar tidak baper dengan setiap tindakan Ricko yang di tujukan kepadanya.
Jasmine segera memundurkan langkahnya, menuju ranjang dan merebahkan diri di samping kedua anak asuhnya yang sudah terlelap.
Ricko menghela nafas kasar, sembari menatap punggung Jasmine yang terlihat naik turun teratur. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri, karena selalu mengacau setiap moment saat dia akan mengatakan perasaannnya kepada Jasmine. Semua itu karena sikap sombong dan gengsinya yang sudah membuatnya menjadi pria yang sangat angkuh dan egois.
“Kapan aku bisa mengatakan perasaanku kepadanya?” Ricko bergumam bingung, karena sebelumnya dia tidak pernah merasakan jatuh cinta atau mengatakan cinta kepada seorang wanita.
__ADS_1
“Apakah aku harus menyewa Jet pribadi dan Burj Kalifa untuk mengatakan perasaanku kepadanya?” gumam Ricko lagi semakin bingung.
Tidak berselang lama dia larut dalam segala pikirannya, dan secara tidak sadar, kini ia memejamkan kedua matanya dan terlelap dalam tidurnya.
*
*
Dalam kamar hotel itu terasa sunyi, hanya terdengar suara detikan jam yang menjadi melodi di kesunyian malam itu. Jasmine menghela nafas kasar, sembari menyingkirkan sesuatu yang melingkar di perutnya. Jasmine berdecap sebal, kemudian membuka kedua matanya saat benda yang di perutnya itu semakin melingkar erat. Dan betapa terkejutnya dirinya saat menundukkan kepalanya, menatap tangan kekar memeluknya dari belakang.
Jasmine meringis sebal, lalu segera mendudukkan dirinya dan menatap pelaku yang sudah memeluknya tanpa izin.
“Dia pikir, aku ini wanita murahan apa?!” geram Jasmine lalu mendorong Ricko sampai terjungkal ke atas lantai.
GEDEBUK!!
“AWW!!!”
***
__ADS_1
Kapokmu kapan, Ricko?! 🤣🤣🤣🙈