MY SWEET BABYSITTER

MY SWEET BABYSITTER
Otw Lembang


__ADS_3

Perjalanan menuju Lembang terasa sangat menyenangkan. Rayan dan Raisa terus bernyanyi dengan riang karena liburan ini adalah pertama kali untuk mereka berdua.


Naik, naik ke puncak gunung


Tinggi, tinggi sekali


Naik, naik ke puncak gunung


Tinggi, tinggi sekali


Kiri, kanan, kulihat saja


Banyak pohon cemara


Kiri, kanan, kulihat saja


Banyak pohon cemara.


Lagu itulah yang di nyanyikan si kembar dengan riang sambil melihat jalanan pada pagi hari itu.


Ricko sesekali menatap kedua anaknya dari spion tengah, tanpa terasa bibirnya melengkung ke atas melihat kedua anaknya sangat bahagia.


Jasmine ikut menoleh ke belakang, ia pun ikut tersenyum senang karena kedua anak kembar yang dulunya selalu terlihat murung kini terlihat bahagia. Kemudian ia kembali menatap ke arah depan seraya menegakkan punggungnya.


“Mereka terlihat senang,” ucap Ricko pada Jasmine.

__ADS_1


“Ya, jika Bapak tidak mendengarkan saranku, mungkin mereka saat ini masih merasa sedih, murung, dan Raisa masih juga tidak akan sesehat ini. Benarkan saranku waktu itu? Jika anak kecil itu harus sering bahagia,” ucap Jasmine seraya melirik Ricko yang sedang fokus menyetir.


Ricko terdiam dan mengingat saran Jasmine saat pertama kali bekerja menjadi pengasuh kedua anaknya.


Saran Jasmine memang benar, bahkan sekarang Raisa tidak pernah nge-drop lagi dan tidak pernah kejang. Padahal sebelumnya, Raisa sering keluar masuk rumah sakit karena kesehatannya sering menurun.


Apakah benar jika kebahagiaan itu bisa membuat orang sakit menjadi sehat? Pikir Ricko.


“Ya, saranmu memang mujarab, tapi jangan menjadi besar kepala!” ketus Ricko masih enggan untuk mengakui kalau Jasmine itu adalah pengasuh hebat yang pernah dia temui.


Jasmine memutar kedua matanya dengan malas saat mendengar ucapan Ricko.


*


*


Jasmine menoleh ke belakang, entah kenapa dia selalu merasa damai saat melihat wajah kedua anak itu yang tertidur pulas. Jasmine juga tidak tahu tentang perasaannya saat ini, dia merasa sangat dekat dengan kedua anak itu seolah mempunyai ikatan batin.


Jasmine menjadi teringat dengan perkataan Nita yang mengatakan kalau kedua anak kembar itu kemungkinan besar adalah kedua anaknya yang ia kandung 5 tahun yang lalu.


“Kau kenapa?” tanya Ricko saat melihat Jasmine terdiam sambil menoleh ke jok belakang.


“Ah, aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedih jika melihat Rayan dan Raisa,” jawab Jasmine beralasan.


“Kenapa?” tanya Ricko tanpa menoleh karena saat ini dia sedang fokus menyetir mobil.

__ADS_1


“Bapak pernah sadar tidak jika mereka itu kekurangan kasih sayang seorang ibu?” tanya Jasmine.


“Dulu iya, tapi sekarang tidak.”


Mendengar jawaban Ricko membuat kedua alis Jasmine mengerut.


“Maksudnya bagaimana?” tanya Jasmine tidak mengerti.


“Lupakan saja!” Ricko segera mengalihkan pembicaraan. “Aku merasa lelah, di depan saat ada rest area, kita akan istirahat di sana.”


Jawaban Ricko tidak membuat Jasmine merasa puas. Maka dari itu ia memberanikan diri untuk bertanya lagi.


“Pak, apakah ibu dari si kembar sudah di temukan?” tanya Jasmine dengan hati-hati.


“Belum, mungkin sebentar lagi, karena aku memberikan waktu kepada asistenku untuk menemukan ibunya anak-anak dalam minggu ini,” jawab Ricko sambil melirik Jasmine yang terdiam sambil menatap jalanan beraspal yang ada di depan sana.


“Jika ibunya anak-anak sudah di temukan, apakah aku masih boleh bekerja mengurus anak-anak, Pak?” tanya Jasmine dengan lirih, entah kenapa hatinya menjadi merasa sedih jika membayangkan berpisah dengan kedua anak kembar itu.


“Tentu saja boleh,” jawab Ricko namun hanya terucap di dalam hati. Sifatnya yang super gengsi membuatnya sulit mengatakan hal tersebut.


Selalu saja begitu!


***


Jangan lupa kasih Like, dan Vote❤

__ADS_1


__ADS_2