
Esok harinya, Ricko mengambil cuti dua hari untuk berlibur ke Lembang, Bandung. Lagi pula dia selama ini juga belum pernah mengajak kedua anaknya itu liburan.
“Semuanya sudah siap?” tanya Ricko pada Jasmine yang sedang memasukkan pakaian anak-anak ke dalam koper berukuran sedang.
“Sudah, Pak,” jawab Jasmine tanpa menoleh.
“Obat Rara jangan lupa.” Ricko mengingatkan.
“Iya, ini sudah aku siapkan,” jawab Jasmine seraya memperlihatkan kotak obat yang belum ia masukkan ke dalam koper, masih tergelak di atas tempat tidur.
Ricko mengangguk mengerti lalu mengajak kedua anaknya ke halaman rumah di mana mobilnya ada terparkir di sana.
“Kami tunggu di halaman rumah!” Ricko berseru saat berada di luar kamar kedua anaknya.
*
*
Rayan dan Raisa sudah berada di mobil pajero milik ayah mereka. Kedua anak kembar itu terlihat sangat tidak sabar, bahkan mereka memanggil nama Jasmine berulang kali.
“Kak Jas!!! Ayo!!” seru Rayan dan Raisa bergantian.
Ricko yang sudah duduk di balik kemudi mobil menutup kedua telinganya karena suara teriakan kedua anaknya membuat telinganya berdengung.
“Kalian bisa sabar sedikit atau tidak?!” omel Ricko pada kedua anaknya itu yang masih berteriak memanggil Jasmine.
“Kak Jas lama sekali, Dad! Kami ‘kan sudah tidak sabar ingin sampai ke Farm House,” jawab Rayan sambil mengerucut sebal.
“Iya, Kak Jas lama seperti siput! Lagi pula kenapa Daddy berada di sini? Seharusnya ‘kan membantu Kak Jas bersiap agar tidak lama seperti ini!” protes Raisa kepada ayahnya.
“Oh My God!” Ricko memutar kedua matanya dengan malas. Pasalnya ia enggan berdekatan dengan Jasmine, ia masih merasa gugup bila berdekatan dengan gadis itu.
“Daddy, buruan bantu Kak Jas! Keburu siang!” kali ini Rayan yang protes kepada ayahnya.
“Iya ... iya!” jawab Ricko kesal lalu segera turun dari mobil, masuk ke dalam rumah dan menuju kamar kedua anaknya yang ada di lantai atas.
__ADS_1
*
*
“Jas, kau lama sekali!!” omel Ricko ketika memasuki kamar bernuansa biru itu.
Jasmine terkejut ketika mendengar suara Ricko, kemudian ia segera membalikkan badannya sambil menyembunyikan sesuatu di belakang badannya.
“Ini aku masih bersiap, Pak.” Jasmine menjawab dengan gugup.
“Hei! Apa yang sedang kau sembunyikan itu?!” Ricko berjalan mendekati Jasmine yang terlihat pucat pasi.
“Emh, bukan apa-apa, Pak,” jawab Jasmine berusaha untuk menghindari Ricko yang kini sudah berdiri di hadapannya.
“Kau mencuri ya?!” tuduh Ricko menatap tajam Jasmine seraya berusaha meraih sesuatu yang di sembunyikan oleh Jasmine.
“Sumpah! Aku tidak mencuri, dan jangan ambil milikku, jangan Pak!” Jasmine berusaha mempertahankan sesuatu yang ia sembunyikan di belakang badannya.
Ricko tidak memedulikannya, pria tersebut tetap berusaha menarik benda yang di sembunyikan oleh Jasmine, dan akhirnya ia bisa mendapatkannya.
“Hah, apa ini?” Ricko menatap benda berbentuk kotak dan rasanya empuk di tangannya. Raut wajahnya begitu bingung, ia menatap benda tersebut lalu beralih menatap Jasmine yang wajahnya terlihat memerah.
“Ish! Sudah aku katakan kalau jangan mengambil barangku!!” omel Jasmine, wajahnya kian memerah menahan rasa malu luar biasa. Kemudian ia menyambar benda yang ada di tangan Ricko lalu memasukkannya ke dalam kantong celananya.
“Memangnya itu apa?” tanya Ricko masih dengan raut wajah yang bingung.
“Ini adalah benda keramat wanita!” ketus Jasmine.
“Benda keramat? Kau jangan berbohong ya!” Ricko menatap tajam Jasmine.
“Bapak pernah mendengar kata pembal*t?” tanya Jasmine.
“Tentu saja pernah. Benda itu di gunakan untuk wanita yang sedang menstruas--” Ricko menghentikan ucapannya, dia baru menyadari sesuatu kemudian ia menatap Jasmine dengan wajah cengoknya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Jadi, kau sedang itu?” Dengan bodohnya Ricko bertanya seperti itu, membuat Jasmine semakin di landa rasa malu.
__ADS_1
“Bapak masih bertanya?! Ih, sungguh memalukan!” Jasmine menghentakkan kedua kakinya kesal dengan gerakkan tidak beraturan.
“Iya, maaf, aku ‘kan tidak tahu.” Wajah Ricko ikut bersemu merah, seraya merutuki dirinya di dalam hati. Bisa-bisanya dia selalu bertingkah bodoh di hadapan Jasmine. Dan tanpa sadar, ia mengucapkan kata 'maaf' kepada Jasmine.
Jasmine memanyunkan bibirnya sebal, lalu segera melanjutkan mengangkat koper berukuran sedang itu dan keluar dari kamar tersebut dengan perasaan kesal luar biasa.
“Aku ‘kan tidak tahu,” gumam Ricko sambil mengikuti Jasmine dari belakang.
“Diam!” seru Jasmine.
“Jadi ini yang di namakan wanita yang sedang PMS?” tanya Ricko dengan bodohnya.
Jasmine menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang seraya menatap tajam Ricko yang berdiri di belakangnya.
“Ya ampun, kau sesitif sekali,” celetuk Ricko, dan berhasil membuat Jasmine semakin kesal.
“Anda sangat menyebalkan, Pak!!”
“Memangnya aku berbuat apa? Salah sendiri menyembunyikan benda itu seperti seorang pencuri, jadi jangan salahkan aku!” Ricko tidak mau kalah.
“Terserah!” balas Jasmine dengan perasaan kesal luar biasa.
“Hei, kau berani kepadaku!” omel Ricko pada Jasmine yang sudah menuruni anak tangga sambil menyeret koper.
“Anda juga sudah berani mengambil ciuman pertamaku!!!” teriakan Jasmine berhasil membuat Ricko terpaku.
“Ish, dasar kulkas menyebalkan!!!” geram Jasmine pada Ricko yang masih berdiri di puncak tangga, sedangkan dirinya sudah berada di lantai bawah.
“Apa? Jadi kemarin itu adalah ciuman pertamanya?” Ricko mengusap bibirnya dengan ibu jarinya, entah kenapa dadanya berdesir hebat dan detak jantungnya semakin tidak beraturan. Dia merasa senang saat mengetahui jika dia adalah pria pertama untuk Jasmine.
“Oh, My God! Aku membutuhkan dokter jantung!” Ricko menyentuh dadanya dengan gerakan yang lebai sambil menuruni anak tangga.
****
Ricko somplak🙈🙈🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa like-nya ya bastie ❤