
Akhirnya buah kesabarannya membuahkan hasil. Jasmine kini sudah selesai menidurkan Raisa sampai pulas kembali.
“Bapak tadi mau berbicara apa?” tanya Jasmine kepada Ricko yang masih setia merebahkan diri di sampingnya.
“Lebih baik jangan berbicara di sini!” Ricko segera mendudukkan diri lalu melirik kedua anaknya yang terlihat sangat pulas, sekaligus memastikan kalau dua bocil itu tidak akan mengganggunya lagi.
“Lalu kita akan berbicara di mana?” tanya Jasmine ikut beranja dari tempat tidur.
“Balkon!” jawab Ricko datar, lalu melangkahkan kakinya ke sana, dan di ikuti oleh Jasmine.
*
*
Jasmine berdiri di balkon kamar, kedua tangannya bertumpu pada pembatas balkon yang terbuat dari besi, kemudian dia mendongak menatap keindahan langit malam yang bertaburan ribuan bintang.
“Jadi, lanjutkan ucapan Bapak tadi,” ucap Jasmine ketika dia sudah puas memandang keindahan langit malam, kemudian ia menatap Ricko yang berdiri di sampingnya.
“Mine, aku sebenarnya menyukaimu. Mungkin lebih tepatnya aku mencintaimu,” ucap Ricko seraya menatap Jasmine dengan dalam.
__ADS_1
Jasmine terdiam, dia tidak mampu berkata-kata karena dia sangat terkejut dengan pengakuan Ricko.
“Emh ... apakah Bapak berubah pikiran?” tanya Jasmine pada akhirnya.
“Maksudmu apa?” Ricko bingung dan tidak mengerti dengan pertanyaan Jasmine yang di lontarkan kepadanya.
“Bukankah dulu Bapak pernah bilang kalau tidak akan pernah menyukaiku karena aku hanyalah seorang pengasuh rendahan?” jawab Jasmine tersenyum pilu saat mengingat kata-kata menyakitkan itu.
“Bisakah jangan membahasnya lagi?! Dan bisakah saat ini kamu fokus pada ungkapan perasaanku?” Ricko berusaha mengelak dan tidak ingin menjawab pertanyaan Jasmine.
“Lalu bisakah Anda untuk tidak bersikap egois?!” balas Jasmine dengan telak, menatap Ricko dengan sendu.
Ricko memejamkan kedua matanya dengan erat, dia tidak menyalahkan Jasmine, akan tetapi dirinyalah yang terlalu cepat untuk mengatakan perasaannya kepada gadis tersebut hingga membuat Jasmine berpikir kalau dia mencintainya hanya untuk kebahagiaan si kembar. Akan tetapi Ricko tidak akan menyerah begitu saja, dia akan tetap berusaha mendapatkan hati dan kepercayaan dari Jasmine.
“Mine, dengarkan aku lebih dulu.” Ricko segera mengikuti Jasmine yang sudah masuk ke dalam kamar. Dia menatap Jasmine yang kini tidur di tengah-tengah kedua anaknya.
Ah, sial! Dia menjadi tidak mempunyai kesempatan lagi untuk memeluk Jasmine.
Jasmine menatap Ricko dengan sebal.
__ADS_1
“Katakan saja yang ingin Anda katakan, Pak. Aku akan mendengarnya,” jawab Jasmine seraya menarik selimut sampai sebatas lehernya.
“Aku mencintai dan menyukaimu bukan karena anak-anak. Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, kalau aku sudah mempunyai sebuah rasa kepadamu sejak saat pertama kali bertemu denganmu,” jelas Ricko kepada Jasmine yang masih menatapnya.
“Aku berkata jujur dan apa adanya,” lanjut Ricko sambil mendudukkan diri di tepian tempat tidur dengan posisi duduk menyamping, agar dia bisa menatap wajah cantik Jasmine.
“Lalu bagaimana jawabanmu?” tanya Ricko ketika Jasmine diam dan tidak merespon ucapannya.
“Aku perlu waktu untuk memikirkannya, begitu juga Anda. Anda harus tahu dan memahami perasaanmu sendiri, apakah yang Anda rasakan itu cinta atau hanya perasaan semu,” jawab Jasmine sambil memejamkan kedua matanya untuk memikirkan semua perkataan Ricko.
Ricko menundukkan pandangannya, seraya berpikir, kenapa begitu sulit untuk meyakinkan Jasmine?
Ricko yang tidak pernah jatuh cinta dan tidak pernah berdekatan dengan wanita mana pun menjadi bingung menghadapi sikap Jasmine.
“Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus langsung ke intinya saja?’ batin Ricko galau.
***
Gaskeun Bang Iko, bila perlu langsung anu aja Mbak Jas-nya 😆
__ADS_1