
Tim dokter terkejut ketika mendengar jawaban Jasmine di sela masa kritisnya. Jawaban Jasmine seolah menjadi semangat untuk mereka semua yang ada di dalam ruang operasi itu.
“Kita harus bisa menyelamatkan keduanya!!” tegas dokter senior yang ada di ruang operasi tersebut.
“Tapi, Dok, ini mustahil jika bisa menyelamatkan keduanya,” sahut dokter lainnya.
“Apakah kau Tuhan!!! Kita adalah para manusia spesial yang di tugaskan untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit. Jadi, buktikan kalau kita bisa!” sentak dokter senior itu penuh emosi.
Ketegangan di ruang operasi itu semakin menjadi, di tambah lagi kondisi Jasmine semakin kritis. Tapi, melihat semua itu, membuat para tim dokter tergerak untuk berjuang dan berusaha keras untuk menyelamatkan dua nyawa yang sedang berada di meja operasi itu.
*
*
Ratih menangis tersedu-sedu, sambil mendudukkan dirinya di kursi tunggu di depan ruang operasi. Hatinya merasa was-was jika terjadi sesuatu pada putrinya di dalam sana, lantunan doa terus ia panjatkan untuk keselamatan putrinya. Pasalnya, Jasmine dan Raisa sudah berada di ruang operasi selama hampir 5 jam, akan tetapi belum ada tanda-tanda operasi akan selesai.
“Ya Tuhan, berikan putriku kekuatan, berikan putriku keselamatan. Aku mohon Tuhan,” doa Ratih di dalam hati.
__ADS_1
Sedangkan Ricko juga tidak mau kalah, pria tersebut juga terus memanjatkan untuk putrinya dan juga Jasmine yang sedang berjuang di dalam ruang operasi sana.
“Jika terjadi sesuatu kepada putriku, maka aku akan mengutukmu!” ucap Ratih pada Ricko dengan nada pelan tapi penuh penekanan.
“Bu ...”
“Jangan panggil aku ibu! Karena aku bukan ibumu!!!” sentak Ratih penuh emosi dan menatap Ricko dengan tajam.
“Maaf, maksudku ... tante ...” Ricko meralat panggilannya kepada Ratih.
“Mentang-mentang kalian keluarga kaya raya, jadi bisa seenak udelnya memperlakukan orang miskin seperti kami! Kau bayar berapa putriku hingga dia mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya kepada putrimu, hah?!” Ratih mencecar Ricko yang sejak tadi diam saja.
“Kenapa kau diam saja? Apakah kau tidak punya mulut?!” Ratih berseru penuh emosi, rasanya dia gemas dan ingin memukul pemuda yang duduk tidak jauh darinya.
“Aku membayarnya dengan mahal Tante, sangat mahal. Hal ini sangat rumit untuk di mengerti dan juga di jelaskan ...” Penjelasan Ricko terjeda sesaat, karena dia saat ini sedang mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan semua itu kepada Ratih.
“Cukup! Aku sudah paham,” jawab Ratih seraya mengusap wajahnya dengan kasar, dan tanpa terasa air matanya kembali menetes di pipinya.
__ADS_1
“Tante, aku belum selesai berbicara. Izinkan aku untuk menjelaskan dengan detail. Di sini aku yang salah, cukup salahkan aku saja, jangan Jasmine,” ucap Ricko dengan tegas lalu bersujud di hadapan Ratih, seolah sedang memohon ampunan.
Ratih hanya menatap nanar pemuda yang bersimpuh di hadapannya itu, tanpa mencegah tindakan Ricko.
“Lima tahun yang lalu, aku dan Jasmine ...” Selanjutnya Ricko menjelaskan secara detail kejadian 5 tahun yang lalu hingga ke masa sekarang tanpa ada yang terlewat sama sekali.
Ratih terpaku dalam diam setelah mendengar penjelasan Ricko. Air matanya semakin deras membasahi pipinya, tidak menyangka jika selama ini putrinya sangat menderita dan menyembunyikan rahasia besar darinya.
“Kau memang pantas untuk di salahkan, karena kau adalah pria yang sangat kejam! Kau sudah membuat putriku menderita selama ini,” lirih Ratih di sela isak tangisnya.
Ricko menundukkan kepalanya, dia siap mendapatkan makian dan cacian seperti apa pun dari wanita paruh baya yang wajahnya mirip dengan Jasmine, hanya saja berbeda generasi.
“Maafkan aku, Tante.”
“Maafmu tidak berguna!” balas Ratih.
****
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya❤❤