
Berapa hari kemudian.
Ricko membuat origami burung yang ke-30 dan memasukkannya ke dalam toples besar. Ia tersenyum lebar sambil karena satu minggu lagi dia akan berbuka puasa. Ah, dia sudah sangat tidak sabar. Kemudian ia segera menyimpan toples besar itu di dalam lemari pakaian.
“Baik-baik kalian di sini,” ucap Ricko absurd sambil menepuk toples itu beberapa kali. Ia segera keluar dari ruang ganti, menghampiri istrinya yang sedang memompa asi di tepian tempat tidur.
GLEK!
Jangkunnya naik turun saat air liur melewati tenggorokannya ketika melihat penampakan dua buah melon segera berukuran matang dan terlihat sangat menggoda di matanya.
“Sayang.” Ricko seperti kucing yang melihat ikan bandeng, ia mendekati istrinya dengan tatapan mesum.
“Ada apa, Dad? Jangan ganggu aku dulu, soalnya sedang fokus ngumpulin sumber makanan si embul,” jawab Jasmine menatap suaminya yang kini berada di hadapannya.
“Boleh minta sedikit nggak?” rayu Ricko.
“Hah? Minta apa?” Jasmine tidak mengerti.
__ADS_1
“Ituh!” Ricko menunjuk dua gunung kembar istrinya yang terlihat besar dan kencang dengan pucuk gunung berwarna pink kecoklatan. Aduh, senjatanya langsung tegak menantang, Ricko merasakan sesak di area sela pahanya.
Jasmine mengikuti arah telunjuk suaminyam, seketika itu ia langsung menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Nggak! Ini punya Baby Raka. Kalau yang ini puasa sampai 2 tahun.” Ucapan Jasmine membuat suaminya terkejut bukan kepalang.
“Hah! Dua tahun?!” Ricko membulatkan mulutnya dengan lebar, tidak berselang lama ia langsung mendudukkan diri di samping istrinya dengan lemas, lesu, dan lunglai.
“Sabar.” Jasmine mengelus paha suaminya, akan tetapi langsung di tepis oleh Ricko. “Dad, jangan marah, atau begini saja aku bantu kamu buat itu ...” Jasmine menujuk sela paha suaminya yang menggembung.
Ricko yang tadinya lemas, lesu dan lunglai kembali bersemangat dan segera menurunkan resleting celananya.
*
*
“Tentu saja tidak, bayi itu bisanya hanya tidur dan minum susu. Dulu Raisa dan Rayan juga seperti adek Raka,” jawab Kirana kepada kedua cucunya.
__ADS_1
“Benarkah? Apakah kami dulu sebesar ini juga?” kali ini Rayan yang bertanya.
Kirana terkekeh mendengar pertanyaan Rayan, “tentu saja tidak, kalian dulu dalam satu kandungan di dalam perut Mommy jadi semua gizi dan nutrisi di bagi dua, kalian dulu sangat kecil.” Kirana menjelaskan.
“Oh, begitu ya.” Rayan mengangguk paham lalu mencium pipi gembul adiknya dengan lembut. “Raka cepat besar ya, nanti kalau sudah besar kita main bola bersama,” celoteh Rayan kepada Raka yang asyik terpejam.
“Eh, kok main bola sih? Main masak-masakan saja sama Kakak Raisa!” protes Raisa sambil menatap sebal pada Rayan.
“Raka ‘kan cowok mana boleh main masak-masakan!” Rayan membalas ucapan Raisa.
“Kata siapa tidak boleh, buktinya koki di rumah kita cowok. Iya ‘kan Oma?” Raisa meminta persetujuan dan dukungan dari Oma Kirana.
“Iya, kalian benar semua. Jadi jangan bertengkar lagi, nanti kalau Raka sudah besar akan bermain dengan Kak Rayan dan Kak Raisa.” Kirana mengambil jalan tengah, seraya melerai kedua cucunya agar tidak berdebat lagi.
“Huh! Pokoknya nanti Raka tetap main sama aku! Wlekkk!” Rayan menjulurkan lidahnya, meledek saudara kembarnya lalu segera melarikan diri sebelum mendapatkan amukan dari Raisa.
“Rayan!!!” teriak Raisa kesal lalu mengejar saudara kembarnya.
__ADS_1
***
Kira-kira Mine dan Ricko lagi ngapain ya? 😅