
Jasmine membenarkan kejadian 5 tahun yang lalu, bahwa dirinya telah menjual sel telur dan meminjamkan rahimnya untuk mengandung anak kembar Ricko untuk pengobatan ibunya. Saat itu Jasmine berusaha untuk menutupi kehamilannya dari ibunya selama 9 bulan lebih, hingga pada akhirnya ia melahirkan dua bayi kembar melalui operasi caesar di salah satu rumah sakit ternama yang ada di pusat kota.
Ratih menunduk sedih ketika mendengar penjelasan putrinya.
“Maafkan Ibu ... ternyata ibumu ini yang sudah membuatmu menderita,” ucap Ratih dengan segala kesedihannya.
“Ibu ini bicara apa sih? Tidak ada yang perlu di sesali,” jawab Jasmine sembari membalas genggaman tangan ibunya tidak kalah erat.
“Tapi ...”
“Bu, sudah! Jangan di bahas lagi, lagi pula sekarang aku sudah sehat dan juga bahagia karena anak-anak yang aku asuh selama ini ternyata kedua anakku sendiri, mereka juga cucu ibu,” jawab Jasmine pada ibunya.
Ratih tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya. “Ibu sepertinya harus pulang untuk mengambil pakaian ganti dan juga makan malam, aku akan menghubungi dokter Fadli, dia pasti akan sangat marah jika melihat keadaanmu yang seperti ini,” ucap Ratih pada putrinya.
“Bu, jangan hubungi dokter Fadli, pasti dia sekarang sangat sibuk apalagi dia praktik di rumah sakit internasional yang ada di pusat kota.” Jasmine menolak keinginan ibunya, akan tetapi terlambat Ratih sudah menghubungi dokter Fadli terlebih dahulu. Dokter Fadli adalah dokter yang dulu menangani penyakit dan kasus pembekuan Jasmine selama 5 tahun. (Baca bab 1)
“Ibu tinggal dulu, sebentar lagi dokter Fadli akan datang.” Ratih segera beranjak setelah selesai menghubungi Fadli, kemudian ia keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang terasa lebih lega.
*
*
Lima belas menit kemudian, ada seorang pria tampan memasuki ruang rawat Jasmine sambil membawa buket bunga mawar merah di tangan kanannya.
Jasmine tersenyum tipis menyambut kedatangan pria tersebut yang malah terlihat marah kepadanya.
“Aku rasa kamu itu mempunyai nyawa lebih dari 10!” seru pria tersebut yang tidak lain ada dokter Fadli.
“Jangan mengejekku!” balas Jasmine sambil mencebikkan bibirnya dengan kesal, sembari menjulurkan salah satu tangannya, meminta buket bunga yang ada di bawa oleh dokter tampan tersebut. Dengan senang hati, Fadli memberikan buket bunga itu kepada penerimanya.
__ADS_1
“Untung saja rumah sakit ini dekat dengan rumah sakit tempatku bekerja, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk meluncur ke sini!” Fadli berbicara sembari mendudukkan diri di kursi yang sudah di sediakan di dekat tempat tidur pasien.
“Maaf sudah mengganggu waktumu,” jawab Jasmine tidak enak hati sembari mengendus kelopak bunga mawar merah yang ada di pelukannya.
“Jangan sungkan, kita ‘kan tetangga,” jawab Fadli sambil terkekeh, kemudian mereka mengobrol sambil bercanda dan tertawa hingga tidak menyadari jika sejak tadi ada yang memperhatikan keduanya dari kejauhan.
Yap, siapa lagi kalau bukan Ricko yang saat ini sedang kebakaran jenggot alias cemburu buta kepada Jasmine.
“Jas, sepertinya aku harus kembali ke rumah sakit, karena sebentar lagi akan ada jadwal operasi,” ucap Fadli sembari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, padahal pria tampan tersebut baru duduk di sana selama 10 menit.
“Apakah kau tidak apa-apa kalau tidak ada yang menemani? Apakah perlu aku panggilan perawat?” lanjut Fadli terlihat cemas.
“Tidak perlu, Dok, terima kasih sudah meluangkan waktunya,” jawab Jasmine menolak tawaran Fadli.
“Besok aku akan ke sini lagi,” bisik Fadli sembari mengelus pipi Jasmine sesaat sebelum keluar dari ruangan tersebut.
“Dasar wanita! Jika dia sudah mempunyai kekasih kenapa harus berbohong dan bergaya seperti seorang jomblo?!” geram Ricko penuh emosi. Kemudian ia segera masuk ke dalam ruang rawat Jasmine setelah pria tersebut sudah tidak ada di sana.
Dengan langkah yang tegap, Ricko menghampiri Jasmine yang terlentang di atas tempat tidur sambil memeluk buket bunga pemberian Fadli.
“Sepertinya bunga itu spesial untukmu!” Ricko berbicara dengan nada datar dan dingin.
Jasmine mendongak dan menatap Ricko yang berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya.
“Anda benar, Pak. Bunga ini adalah bunga spesial dari orang yang spesial,” jawab Jasmine jujur, karena bunga itu adalah pemberian dari Dokter Fadli yang sudah menyelamatkan hidupnya.
Dada Ricko semakin bergemuruh, dan telinganya terasa panas saat mendengar kejujuran Jasmine. Rasanya dia cemburu dan tidak terima semua ini.
“Aku ke sini hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu!” ucap Ricko dingin.
__ADS_1
Jasmine mengerutkan keningnya karena ia merasa sikap Ricko kembali ke pengaturan pabrik, dingin dan datar.
“Apa yang ingin Anda sampaikan? Apakah ini tentang Raisa? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Jasmine sangat antusias dan semangat.
Ricko bukannya menjawab pertanyaan Jasmine, pria tersebut malah melontarkan sebuah kalimat yang begitu menyakitkan untuk Jasmine.
“Kau hanyalah ibu yang menyediakan sel telur dan meminjamkan rahim, jadi kau bukan ibu kandung mereka, aku tidak ingin ada orang lain tahu tentang hal ini terutama jangan biarkan si kembar tahu!” ucap Ricko sangat dingin dan datar.
DEG!
Jantung Jasmine seolah ingin berhenti di tempat saat mendengar kata-kata menyakitkan itu. Kenapa pria itu begitu tega kepadanya? Apa salahnya? Padahal hasil tes DNA membuktikan kalau Jasmine adalah ibu kandung anak kembar itu.
Apakah Ricko selama ini hanya pura-pura baik kepadanya agar dia mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Raisa? Sungguh jahat sekali kalau begitu!
Jasmine menelan ludahnya dengan kasar. Dengan suara yang bergetar menahan tangis, Jasmine menjawab perkataan Ricko.
“Jangan khawatir, aku akan pergi setelah kontrak kerjaku berakhir, dan aku akan menghilang dari hadapan kalian,” jawab Jasmine menahan air matanya yang sudah akan tumpah.
“Bagus! Akhirnya kau sadar diri!” balas Ricko tanpa perasaan lalu segera keluar dari ruangan tersebut dengan penuh emosi.
Air mata Jasmine langsung tumpah bagai tanggul yang tidak mampu menampung banjir bandang. Isak tangis lirih Jasmine terdengar begitu pilu dan menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya.
“Kenapa Anda begitu kejam, Pak!” Rasanya Jasmine ingin menjerit histeris, akan tetapi hal itu tidak ia lakukannya mengingat saat ini dirinya di rumah sakit.
“Anda memberikanku kebahagiaan, tapi sedetik kemudian Anda juga memberikan luka dan kehancuran!” racau Jasmine di sela isak tangisnya yang memilukan itu.
***
Teganya Ricko sama Kak Jas😭😭😭
__ADS_1