
Ricko menatap Jasmine yang sudah terlelap di samping putrinya. Pria tampan itu mengusap wajahnya dengan kasar sembari mendudukkan diri di tepian tempat tidur Raisa.
Terlihat jelas jika wajah pria tersebut di selimuti rasa penyesalan yang sangat luar biasa.
Ya! Ricko menyesali semua perkataan kasar yang sudah ia lontarkan kepada Jasmine. Betapa jahatnya dirinya karena sudah menyakiti ibu dari anak-anaknya.
Jika waktu bisa di ulang kembali apakah dia bisa menarik kembali semua ucapan kasarnya yang sudah ia lontarkan kepada Jasmine?
Tapi, sayangnya waktu tidak bisa di ulang kembali, salah cara untuk memperbaiki semuanya adalah Ricko harus bersikap baik kepada Jasmine dan meminta maaf kepada gadis tersebut.
“Mine.” Ricko bergumam sembari menatap wajah cantik Jasmine, salah satu tangannya terulur untuk menyentuh pipi mulus gadis tersebut, akan tetapi Ricko mengurungkannya, ia menarik kembali tangannya itu. Dia langsung beranjak dari sana, keluar dari kamar tersebut sembari membawa sebuah penyesalan dan rasa sesak di dalam dada.
*
*
Pagi harinya. Jasmine bangun lebih pagi dari biasanya. Gadis tersebut sudah mengerjakan tugasnya seperti sedia kala karena keadaannya sudah membaik dan tidak merasakan sakit lagi di punggungnya, hanya saja dia harus rutin meminum obat.
Seperti biasa juga jika weekend Ricko akan bangun pagi untuk berolah raga.
Pria tersebut menuju dapur untuk mengambil air dingin, tapi langkahnya terhenti saat melihat Jasmine berkutat di dapur.
Rasa canggung dan rasa bersalah semakin besar menyelimuti dada Ricko, hingga membuat pria itu hampir saja mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur. Tapi, karena rasa tanggung jawabnya, Ricko tetap melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil air minum.
“Hai!” sapa Ricko pada Jasmine yang sedang sibuk memasak nasi goreng.
“Iya!” jawab Jasmine datar, tanpa menoleh sedikit pun, gadis tersebut tetap mengaduk-aduk nasi goreng yang ada di dalam wajan.
Ricko menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari melirik Jasmine yang terlihat dingin, kamudian ia mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas.
“Jas, setelah ini bantu aku memilih ...” belum selesai bicara, tapi Jasmine sudah menyelanya lebih dahulu.
“Aku sedang sibuk, Pak,” sela Jasmine seraya mematikan kompor, karena nasi goreng yang ia buat sudah matang, kemudian ia mengambil wadah dan memindahkan nasi goreng tersebut ke dalam wadah yang sudah ia siapkan, lalu ia meletakkan nasi goreng tersebut di atas meja makan.
“Oh ... oke,” jawab Ricko sambil menipiskan bibirnya, kemudian ia meminum air dingin dari botolnya langsung hingga tandas. Rasanya tenggorokannya terasa sangat kering saat melihat sikap dingin Jasmine.
__ADS_1
Selesai menyiapkan nasi goreng, Jasmine menatap Ricko yang berdiri tidak jauh dari meja makan. Gadis tersebut merogoh sesuatu dari kantong celananya.
Sebuah kertas yang ia ambil dari kantong celananya, lalu di berikan kepada Ricko.
“Ini apa?” tanya Ricko seraya menatap kertas yang di berikan oleh Jasmine.
“Surat pengunduran diriku!” Jasmine menjawab dengan datar, tapi kedua mata gadis tersebut berkaca-kaca seolah menahan tangis.
DEG!
Jantung Ricko seolah akan loncat dari tempatnya ketika mendengar pernyataan Jasmine. Ia menepis surat tersebut, kemudian ia menatap tajam Jasmine.
“Apa alasanmu untuk mengundurkan diri?!” tanya Ricko dengan nada tidak suka.
“Apakah perlu alasan lagi?” tanya Jasmine dengan suara yang bergetar, ia sudah tidak mampu menahan tangisannya lagi. Dadanya terasa sesak dan setetes air mata berhasil turun dan membasahi salah satu pipinya.
“Jas ...” Ricko menelan ludahnya dengan kasar saat melihat kesedihan Jasmine.
“Aku akan menjauh dan menghilang dari hadapan anak-anak, selain itu juga aku akan melanjutkan pendidikanku,” jawab Jasmine seraya menarik tangan Ricko dengan paksa dan memberikan surat pengunduran dirinya.
Setelah mengatakan hal itu semua, Jasmine segera beranjak dari sana menuju kamar si kembar. Jasmine sudah memikirkan dengan matang keputusannya itu, sebelumnya dia berencana untuk menunggu kontrak kerjanya habis, akan tetapi dirinya sudah tidak sanggup lagi berada di sana, semakin bertahan, rasanya semakin menyakitkan dan menyesakkan dada.
Ricko mematung di tempat sembari mencengkram erat surat pengunduran diri yang ada di salah satu tangannya, kemudian ia membuang surat tersebut ke tempat sampah. Ricko segera mengejar Jasmine yang sudah berada di dalam kamar si kembar.
*
*
“Jas!” seru Ricko tertahan saat dirinya sudah berada di dalam kamar kedua anaknya. Tatapan Ricko tertuju pada Jasmine yang sedang mengemasi pakaian ke dalam koper.
Jasmine menoleh pada Ricko yang kini berjalan ke arahnya. “Ada apa?” tanya Jasmine, lalu fokus pada aktifitasnya, mengemasi semua pakaiannya ke dalam koper dengan perasaan yang hancur lebur.
Bagaimana perasaannya tidak hancur jika dia harus menjauhi kedua anaknya sendiri.
Ricko segera putar otak untuk menahan Jasmine agar tetap berada di rumahnya. Beberapa detik kemudian, otaknya berhasil menemukan sebuah ide.
__ADS_1
“Jas, kau tidak bisa mengundurkan diri begitu saja!” ucap Ricko sembari mengambil koper Jasmine lalu mengembalikannya ke dalam lemari.
“Pak! Jangan menghalangiku, bukankah ini yang Anda mau?!” tanya Jasmine kesal seraya berusaha merebut kopernya kembali akan tetapi Ricko segera menutup lemari tersebut dan menguncinya dengan rapat, tidak lupa Ricko juga mengambil anak kunci tersebut lalu mengantonginya.
“Iya! Tapi, kau tidak boleh pergi sebelum aku mendapatkan pengasuh baru!” Ricko beralasan agar Jasmine tetap tinggal bersamanya.
“Apa?!” Jasmine menggeleng pelan sebagai jawaban, dia tidak menerima alasan Ricko.
“Ini demi anak-anak. Mereka akan sedih kalau mengetahui kau berhenti bekerja secara mendadak!” Ricko menggunakan jurus andalan yaitu menggunakan anak-anak mereka untuk membuat Jasmine luluh.
Jasmine menatap kedua anaknya yang masih terlelap di atas tempat tidur. Ia menatap wajah polos si kembar, ia tidak bisa membayangkan jika kedua anaknya itu bersedih karena dirinya.
Mungkin ada benarnya kata Ricko jika dia harus bertahan di sana sampai ada pengasuh baru yang cocok untuk si kembar.
“Bagaimana?” tanya Ricko saat melihat Jasmine terdiam sejenak.
“Baik, aku bertahan di sini karena mereka berdua,” jawab Jasmine pada akhirnya.
Ricko tersenyum bahagia, dia kini bernafas lega karena berhasil menahan Jasmine pergi dari rumahnya. Sekarang tinggal memikirkan cara untuk meminta maaf kepada Jasmine.
“Tapi, bagaimana dengan kuliahku? Aku ingin melanjutkan pendidikanku, karena tidak mungkin seumur hidupku menjadi seorang pengasuh!” ucapan Jasmine seolah menjadi cambukkan untuk Ricko, bukan hanya itu saja pria tersebut juga merasa tersindir.
“Tenang saja, kau bisa melanjutkan pendidikanmu tanpa harus memikirkan anak-anak. Dan aku akan mengirimkan sopir untuk mengatar jemput kamu,” jawab Ricko, akan tetapi niat baiknya itu langsung di tolak Jasmine.
“Terima kasih atas tawaran Anda, Pak. Lebih baik aku menunggu sampai ada pengasuh baru untuk si kembar, baru setelah itu aku melanjutkan kuliahku. Lebih baik Anda mencari pengasuh baru dari yayasan penyalur tenaga kerja,” ucap Jasmine kepada Ricko.
Ricko menggigit bibir bawahnya dengan cemas, karena dia tidak akan membiarkan Jasmine pergi dari kehidupannya dan juga kehidupan kedua anaknya.
“Aku akan mengaturnya!” jawab Ricko segera keluar dari kamar tersebut. Dia akan memikirkan cara untuk membuat Jasmine tetap berada di rumahnya.
***
Mau kamu apa sih, Ricko? Lama-lama tak santet online juga nih😤
Jangan lupa dukungannya untuk Kak Jas ya, bestie❤
__ADS_1