
Hari-hari Jasmine berjalan seperti sedia kala. Ia merawat si kembar seperti sebelumnya.
Pada sore hari itu, Jasmine dan si kembar sedang berada di kebun belakang untuk menanam berbagai macam bunga dan tanaman lainnya.
"Ih, tidak mau, Kak." Tolak Raisa ketika Jasmine menyuruhnya untuk menanam bunga mawar ke dalam pot. Gadis itu merasa geli dan membayangkan banyak kuman yang bersarang di dalam pot yang sudah diisi dengan tanah dan pupuk itu.
"Tidak apa-apa, Sayang. Nanti bisa cuci tangan." Jasmine berusaha membujuk Raisa agar mau menanam bunga ke dalam pot. Karena Jasmine juga ingin memberikan edukasi untuk kedua anaknya itu.
"Iya, Sya. Sini ...," ajak Rayan sembari memperlihatkan kedua tangannya yang sudah kotor dengan tanah.
"Ih! Jijik!" seru Raisa bergidik sambil memundurkan langkahnya lalu melarikan diri.
Tapi, bukan Rayan namanya kalau tidak usil kepada saudara kembarnya.
"Arghhh! Sini kau!" seru Rayan sambil menggerakkan jari-jari tangannya seperti seekor harimau yang ingin menerkam mangsanya. Pria kecil itu mengejar Raisa yang berlari mengitari kebun tersebut.
Awalnya Raisa berteriak histeris karena di kejar oleh Rayan, tapi lama-kelamaan kedua bocah itu malah asyik berlarian sambil tertawa bersama.
Jasmine tersenyum senang ketika melihat kedua bocah itu terliha bahagia. Kemudian ia melanjutkan aktifitasnya, menanam bunga dan tanaman hias di kebun tersebut.
*
__ADS_1
*
"Di mana mereka?" tanya Ricko kepada salah satu pelayannya yang menyambut kepulangannya.
"Mereka berada di kebun belakang, Tuan," jawab pelayan tersebut sembari menerima tas kerja yang di berikan oleh majikannya itu.
"Pantas saja." Ricko bergumam sembari berjalan menuju kebun belakang. Biasanya kedua anaknya itu akan menyambutnya dengan senyuman yang ceria. Ricko terus berjalan sambil menggulung kedua lengan kemejanya sampai siku.
Sampai di kebun belakang dia berdecap sebal saat melihat kedua anaknya bermain tanah.
"Jas!" seru Ricko kepada Jasmine yang malah sedang asyik menanam bunga mawar putih.
Merasa namanya di panggil, Jasmine pun menoleh dan menatap Ricko yang berkacak pinggang sambil menatapnya dengan tajam.
"Kau tahu jika tanah itu kotor, banyak telur cacing dan juga ribuan kuman?! Lalu kenapa kau malah membiarkan mereka bermain tanah?!" omel Ricko sambil menatap Jasmine yang berdiri tidak jauh darinya.
"Aku hanya memberikan edukasi kepada mereka!" jawab Jasmine tidak mau kalah.
"Edukasi apa? Yang ada mereka nanti malah sakit!" geram Ricko.
Jasmine menghela nafas panjang jika sudah berhadapan dengan Ricko yang menyebalkan ini.
__ADS_1
"Jadi yang baik untuk mereka itu apa? Ponsel? Atau hanya televisi?!" balas Jasmine dengan sengit.
"Ingat! Aku juga orang tua kedua anak kembar itu! Jadi biarkan aku mendidik anak-anakku dengan caraku sendiri!" lanjut Jasmine penuh emosi.
"Oh, maksudku aku hanya seorang ibu penyedia sel telur dan rahim untuk mereka!" Jasmine berkata pedas yang mampu menusuk hati Ricko sampai ke bagian yang paling dalam.
Ricko memejamkan kedua matanya saat mendengar ucapan Jasmine yang begitu menohok di dalam hatinya.
"Jas, aku belum selesai bicara!" seru Ricko pada Jasmine yang memasuki rumah.
Jasmine menghentikan langkahnya seraya menoleh ke belakang, menatap Ricko sangat sebal.
"Aku akan berhenti hari ini juga! Bukankah kau ini kaya raya dan akan sangat mudah mendapatkan pengasuh baru!" ucap Jasmine sengit lalu melanjutkan langkahnya memasuki rumah mewah tersebut.
"Ck! Gadis itu seolah tahu kelemahanku!" gerutu Ricko, kemudian ia mengejar Jasmine yang sudah memasuki rumah.
"Jas! Sudah aku katakan ribuan kali, jika kau tidak akan pernah bisa keluar dari rumah ini!'' seru Ricko mengejar Jasmine.
"Bodo amat!" sahut Jasmine dengan kesal.
***
__ADS_1
Gaskeun Jasmine, jangan mau di tindas sama Ricko. 🔥🔥