
Setelah selesai beristirahat di rest area selama setengah jam. Ricko kembali melanjutkan perjalanan menuju Lembang.
Satu jam kemudian, mobil yang di kendarai Ricko sudah sampai di hotel dekat Farm House, Lembang.
Rayan dan Raisa terlihat sangat senang ketika sudah turun dari mobil.
Bahkan kedua anak itu bersorak dan loncat bersamaan sambil berpegangan tangan. Jasmine dan Ricko menurunkan dua koper dari dalam bagasi, lalu mereka berempat berjalan memasuki lobby hotel tersebut, dan menuju ke resepsionis untuk memasan kamar.
“Maaf, Pak, Bu, karena saat ini sedang weekend dan banyak yang berlibur di sini, jadi hotel kami hanya tersisa satu kamar,” ucap resepsionis kepada Ricko dan Jasmine yang memesan dua kamar.
“Bagaimana, Pak?” tanya Jasmine kepada Ricko.
“Daddy ... Daddy! Ayo, cepat masuk kamar hotelnya, kita sudah tidak sabar ke peternakan kambing!” seru Rayan dan Raisa bersamaan sambil menggoyangkan tangan Ricko di sisi kiri dan kanan.
__ADS_1
“Sabar ... kita harus cari hotel lain, karena kamarnya hanya tersisa satu,” jawab Ricko kepada kedua anaknya.
“Ah, tidak mau! Kami ingin di hotel ini saja!” rengek Rayan dan Raisa.
“Ya ampun!” Ricko dan Jasmine mengeluh, di tambah lagi di lobby tersebut banyak tamu hotel yang memperhatikan mereka saat mendengar Rayan dan Raisa merengek sambil menangis.
“Saya, ambil kamar itu!” ucap Ricko pada akhirnya karena sudah malu bukan kepalang karena ulah anaknya yang menangis dan merengek seperti bayi yang meminta permen.
Resepsionis tersebut tersenyum sambil menyerahkan kunci hotel kepada Ricko. “Maaf ya, Pak, bulan madu kalian pasti terganggu karena anak-anak kalian,” goda resepsionis tersebut pada Ricko dan Jasmine, karena ia mengira kalau kedua orang itu adalah pasangan suami istri.
*
*
__ADS_1
Sampai di dalam kamar hotel, kedua anak itu langsung berlari dan naik ke atas tempat tidur berukuran luas itu. Rayan dan Raisa berguling-guling di sana sambil tertawa senang.
Ricko meletakkan dua koper yang ia bawa di dekat sofa yang ada di dalam kamar hotel tersebut. Ia menggeleng pelan sambil menatap kedua anaknya yang masih berguling di atas tempat tidur yang berlapis sprei warna putih.
“Pak, nanti tidurnya bagaimana?” tanya Jasmine sambil memperhatikan setiap sudut kamar tersebut, hanya ada satu tempat tidur dan sofa panjang yang ada di sana.
“Kau tidur di sofa, aku dan anak-anak tidur di ranjang yang empuk itu,” jawab Ricko dengan nada datar.
Jasmine mengerucutkan bibirnya di hadapan Ricko, lalu mengangguk pelan bertanda jika dia setuju kalau tidur di atas sofa.
Ricko menelan ludahnya dengan kasar saat melihat bibir Jasmine yang mengerucut lucu, membuatnya teringat akan ciuman pertama mereka yang terjadi kemarin di dalam ruangannya.
“Bisa tidak bibirmu itu jangan mengerucut seperti itu!” Ricko berkata dengan nada kesal.
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Bukankah aku terlihat sangat lucu dan menggemaskan?” jawab Jasmine lalu mengerucutkan bibirnya lagi sambil mengedipkan kedua matanya berulang kali, sumpah demi apa pun Jasmine terlihat sangat menggoda iman Ricko yang sejak tadi menahan diri untuk mencium bibir manis dan ranum itu.
“Gadis ini benar-benar!” geram Ricko di dalam hati.