
"Emh ..." Jasmine melenguh tertahan ketika tangan suaminya menyusup ke dalam dress-nya dan menyelinap masuk ke dalam segitiga bermuda, menyentuh bagian intinya.
Bibir mereka saling bertaut, saling berperang lidah dan bertukar salivanya. Jasmine membuka kedua kakinya dengan lebar memberikan akses pada suaminya agar lebih leluasa memainkan bagian intinya.
"Ah ..." Jasmine merasakan kenikmatan yang tiada terkira hingga melepaskan ciuman mereka ketika salah satu jari suaminya bermain di area intinya dengan gerakan cepat.
"Aku sudah tidak tahan." Ricko merasakan sesak di pangkal pahanya, bertanda kalau senjatanya sudah menegang kuat dan tidak sabar untuk berperang. Ricko bangun dari duduknya sambil menggendong istrinya menuju sebuah kamar yang tersembunyi di dalam ruangannya itu.
Di dalam kamar itu telihat seperti kamar pada umumnya, hanya saja terlihat lebih gelap karena kurang pencahayaan. Di sudut kamar tersebut ada beberapa rak buku dan lemari pakaian yang tidak terlalu besar. Dan di tengah kamar itu ada ranjang berukuran king yang di bingkai dengan sprei dan badcover berwarna putih tulang.
Ricko merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan perlahan dan hati-hati.
"Ini kamarmu, Pak?" tanya Jasmine pada suaminya yang sedang melepaskan pakaian.
"Bisa tidak jangan memanggilku dengan sebutan menjengkelkan itu?!" kesal Ricko mengabaikan pertanyaan istrinya.
"Lalu aku harus memanggilmu apa? Mas? Sayang? Atau Daddy?" tanya Jasmine seraya menelan ludahnya dengan kasar, pandangannya tidak teralihkan pada tubuh suaminya yang sudah polos tanpa sehelai benang.
Meski sudah berulang kali melihat tubuh suaminya yang kekar dan gagah perkasa, tapi Jasmine tetap saja malu melihatnya.
"Panggil aku dengan sebutan Daddy," jawab Ricko seraya merangkak naik ke atas ranjang, dan berhenti tepat di dekat kaki istrinya, kemudian ia menekuk kedua kaki Jasmine sambil membukanya dengan lebar, terlihat segitiga bermuda berwarna putih bersih.
Nafas Ricko memburu dan semakin bergairah, ia segera menarik cilini dilim itu dengan kasar hingga terlepas dari kedua kaki Jasmine.
"Emh ...Daddy ..." Jasmine menggigit bibirnya dengan kuat dan menahan ******* saat Ricko mengusap paha dalamnya hingga berhenti di bagian intinya. "Ahh ... emh ..." Jasmine menggelinjang ketika Ricko menyentuh bagian sensitifnya dengan jari-jari nakal itu.
"Ini pertama kalinya untukku, aku harap kamu bisa melakukannya dengan pelan." Jasmine mengingatkan suaminya yang kini sudah memosisikan diri, dan siap melakukan penyatuan.
__ADS_1
"Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu." Ricko menjawab sambil mengarahkan senjatanya lembah istrinya yang sudah basah itu.
"Oke, aku siap." Jasmine menghembuskan nafas kasar, dia sedikit takut, karena kata orang kalau melakukan pertama kali itu rasanya sangat sakit.
*
*
"Apakah kalian malam ini mau menginap di rumah oma uyut?" tanya Jeje kepada kedua cucunya saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota.
Rayan menatap Raisa, seolah mereka sedang berdiskusi melalui telepati.
"Opa akan memberikan mainan terbaru untuk kalian berdua jika mau menginap." Xander membujuk kedua cucunya agar mau menginap.
"Benarkah Opa?! Kalau begitu kami mau!" jawab Rayan dengan cepat.
"Hei, kapan lagi dapat mainan baru yang kita inginkan secara gratis." Rayan membujuk Raisa agar tidak protes lagi. "Ayolah, Sya ... kita menginap di rumah Opa dan Oma." Lanjut Rayan memohon kepada saudarinya itu.
"Akan aku pikirkan." Raisa menjawab sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, kedua matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, seolah sedang berpikir keras.
"Ah, lama!" kesal Rayan sambil mencebik.
*
*
Kembali lagi pada pengantin baru yang sedang belah melon segar.
__ADS_1
"Perih ... sakit ..." Jasmine terisak kecil saat senjata suaminya sudah sepenuhnya masuk ke dalam bagian intinya.
"Maaf." Ricko mengecup seluruh wajah Jasmine tanpa ada yang terlewat, dia merasa kasihan kepada istrinya yang merasakan kesakitan.
"Sakit banget ya?" tanya Ricko merasa bersalah, ingin menyambut penyatuannya itu akan tetapi di tahan oleh Jasmine.
"Aku tidak apa-apa, rasa sakitku yang aku rasakan ini tidak seberapa, aku senang karena akhirnya bisa melayanimu dan menjadi istrimu seutuhnya," jawab Jasmine seraya mengecup bibir suaminya sesaat.
"Aku beruntung mendapatkanmu. Karena kau adalah wanita yang hebat, terima kasih sudah memberikan segalanya kepadaku, Mine." Ricko berkata sembari menatap istrinya dengan penuh cinta.
Jasmine tersenyum lalu kembali mencium bibir suaminya penuh kelembutan.
"Aku akan bergerak perlahan," ucap Ricko.
"Daddy, lampunya matikan semua, aku malu." Jasmine berkata sambil menutup wajanya dengan kedua tangannya.
"Malu dengan siapa?" Ricko heran.
"Malu sama readers yang pada ngintip, hi hi hi ..."
Ricko pun mengerti dan segera menjetikkan tangannya, tidak berselang lama kamar tersebut gelap dan para readers pun tidak bisa lihat apa-apa, hanya terdengar suara dessahan dan lenguhan saja yang bikin traveloka dot kom.
🤣🤣🤣🤣😜🙈
Kaborrr🏇🏇🏇
Jangan lupa like dan komentarnya, bestie❤❤😘
__ADS_1