MY SWEET BABYSITTER

MY SWEET BABYSITTER
Jasmine bikin Ricko tidak waras!


__ADS_3

Ricko memikirkan perkataan Rayan saat berada di dalam kamar mandi beberapa beberapa jam yang lalu. Kedua anaknya itu sudah terlelap di atas tempat tidur dengan pulas pada sore hari itu. Lalu tatapannya beralih pada Jasmine yang masih terpejam di atas sofa.


Ricko memperhatikan ketiga orang itu bergantian, kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar. Otaknya kali ini terus berpikir, ‘apakah benar jika Jasmine adalah ibu dari kedua anaknya?’


Drrttt ... Drttt ...


Ponsel Ricko yang ada di dalam kantong celana bergetar panjang bertanda jika ada panggilan masuk.


Ricko yang sedang larut dalam pikirannya langsung tersadar dan segera mengangkat panggilan masuk itu yang ternyata dari asistennya.


“Bagaimana?” jawab Ricko tanpa basa-basi lagi.


“Pak, aku sudah mendapatkan data-data gadis itu. Aku akan mengirimkanya ke email Anda sekarang juga,” jawab asistennya.


“Oke, aku tunggu!” Ricko langsung menutup panggilan tersebut lalu menatap Jasmine yang terlelap di atas sofa sambil meringkuk memegangi perut.


Ting!


Bunyi notifikasi ponsel Ricko. Dengan cepat pria tersebut langsung membuka email yang di kirimkan oleh asistennya. Ricko membaca satu persatu dokumen yang tertera di email-nya dengan jantung yang terus berdegup kencang.


Kedua matanya membelalak lebar saat melihat data diri seorang gadis yang menjual sel telur dan rahim pada 5 tahun yang lalu. Ricko tidak percaya dengan semua ini? Dia berusaha untuk menenangkan diri seraya menatap Jasmine yang ada di atas sofa.


“Tidak mungkin,” gumam Ricko seraya memasukkan ponselnya ke dalam sakunya lagi, kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar guna menenangkan pikiran dan perasaannya.

__ADS_1


“Awww!”


Ricko menoleh saat melihat Jasmine menggeliat sambil mengaduh. Kemudian, ia mendekati Jasmine, sambil berkata, “Jasmine, kau tidak apa-apa?” tanya Ricko.


“Hah? Perutku sakit,” jawab Jasmine sambil berusaha mendudukkan diri dengan susah payah.


Melihat Jasmine yang kesakitan seperti itu membuat Ricko tergerak untuk membantu Jasmine.


“Kau habis makan apa?” tanya Ricko cemas.


“Aku sudah biasa merasakan sakit perut setiap bulannya, jadi jangan cemas,” jawab Jasmine sambil meringis dan menggigit bibir bawahnya karena rasa kram di perutnya bukannya berkurang tapi malah sebaliknya.


“Penyakitmu sepertinya parah. Kau harus pergi ke dokter.”


“Tapi, kalau sakit seperti itu harus segera di periksa ke dokter.” Ricko memandang Jasmine yang sudah berada di ambang pintu kamar mandi.


“Tidak usah, Pak,” jawab Jasmine seraya menutup pintu kamar mandi, tidak berselang Jasmine berseru dari dalam kamar mandi.


“Pak! Apakah Anda bisa menolongku? Ambilkan pembal*t yang ada di dalam tasku!” seru Jasmine.


“What!! Kau gila!” seru balik Ricko.


“Pak, kali ini saja bantu aku,” pinta Jasmine dengan nada memelas.

__ADS_1


“Ck! Iya!” jawab Ricko, lalu segera membuka tas Jasmine yang tergeletak tidak jauh dari sofa. Namun setelah ia mencari benda yang di maksud di dalam tas tersebut, Ricko tidak menemukannya.


“Jas, tidak ada!” seru Ricko.


“Ya ampun! Apa ketinggalan ya? Pak, boleh aku minta tolong lagi, belikan benda itu di minimarket terdekat?” tanya Jasmine kepada Ricko yang ada di luar kamar mandi.


“Jas, sepertinya kau sangat ngelunjak!!” kesal Ricko.


“Demi kemanusiaan, Pak.” Jasmine menjawab dengan suara yang lemah.


“Lagi pula kalau aku tidak memakai benda itu, maka aku akan tidak akan bisa keluar dari kamar mandi,” lanjut Jasmine.


“Ck! Kau sungguh menyusahkanku!” geram Ricko. “Tunggu di sana, aku akan membelikanmu sebentar!”


“Ya, Pak Ricko yang ganteng, baik hati dan tidak sombong,” jawab Jasmine.


“Jangan mencoba merayuku ya!” Suara Ricko terdengar kesal luar biasa, padahal saat ini pria tersebut sedang mesam-mesem karena mendengar pujian Jasmine.


*


*


Sepertinya pria itu membutuhkan dokter kejiwaan. Wk wk wk wk.

__ADS_1


__ADS_2