
“Aku tahu yang terbaik untuk Jasmine! Jadi jangan mengajariku!” sentak Ricko pada Fadli yang berbicara kepadanya pada sore hari itu.
“Aku hanya mengingatkan jika kondisi Jasmine sangat rentan, dan dia butuh istirahat total! Tidak mungkin ‘kan kalau Anda langsung menyuruh Jasmine bekerja dan mengasuh kedua anak Anda setelah keluar dari rumah sakit?!” balas Fadli dengan sengit.
“Aku rasa Anda ini manusia yang mempunyai hati nurani dan tidak mungkin melakukan tindakan yang kejam seperti yang aku katakan tadi!” lanjut Fadli mencibir Ricko yang keras kepala.
Ricko menatap Fadli dengan sangat tajam, “perhatian Anda kepada Jasmine sangat berlebih!” ucap Ricko dengan datar dan dingin.
“Apakah Anda cemburu, Pak?” Fadli membalas dengan telak.
“Cih! Mana mungkin aku cemburu dengan pengasuh rendahan seperti Jasmine!” jawab Ricko lalu segera beranjak dari sana menuju ruang rawat putrinya, pasalnya mereka saat ini sedang berbicara di depan ruang rawat Raisa.
Ricko mengusap wajahnya dengan kasar setelah berada di dalam ruangan putrinya. Dia merutuki dirinya sendiri, dan menyesali semua perkataan yang keluar dari mulutnya.
“Tidak seharusnya aku berkata seperti itu! Tidak seharusnya aku merendahkan Jasmine di depan pria lain!” gumam Ricko menyesali semua perkataannya.
*
__ADS_1
*
Beberapa hari kemudian, Jasmine dan Raisa sudah keluar dari rumah sakit. Ibu dan anak itu di nyatakan pulih setelah hampir dua minggu di rawat di rumah sakit, tapi keduanya di wajibkan kontrol 1 minggu sekali oleh dokter.
Ratih dan Fadli mengantarkan Jasmine sampai rumah mewah Ricko. Karena Jasmine yang keras kepala dan kekeuh pada pendiriannya yang ingin tetap bekerja sampai masa kontrak habis, maka dari itu Ratih dengan terpaksa mengizinkan putrinya lanjut bekerja tapi dengan satu syarat harus tetap menjaga kesehatan.
“Weekend nanti kalian harus datang ke sini karena kami akan menggelar syukuran kecil-kecilan atas kesembuhan Raisa,” ucap Ricko kepada Fadli dan Ibu Ratih.
“Kami akan datang,” jawab Fadli tersenyum tipis.
“Jaga Jasmine, dan jangan memberikan pekerjaan berat untuknya,” ucap Ratih pada Ricko yang berdiri di hadapannya. Meski dia masih merasa kesal dengan pemuda yang berdiri di hadapannya itu, akan tetapi dia berusaha untuk mengesampingkan rasa kesalnya.
*
*
Rayan sangat senang pada pagi hari itu, pasalnya dia bisa bertemu dengan Jasmine dan Raisa lagi.
__ADS_1
“Aku sangat merindukan dan mencemaskan kalian,” ucap Rayan sambil menangis terisak di pelukan pengasuhnya.
“Kami juga merindukan Rayan,” jawab Jasmine dan Raisa dengan kompak.
Rayan mengurai pelukan Jasmine lalu beralih memeluk saudari kembarnya dengan erat.
“Rayan jangan erat-erat, punggungku masih sedikit sakit!” seru Raisa sambil menepuk punggung saudara kembarnya beberapa kali.
“Ops! Maaf, aku terlalu bersemangat,” jawab Rayan sambil tertawa kecil saat pelukannya itu sudah terlepas.
“Dasar kamu ini!” Raisa tersenyum lalu menggandeng lengan saudara kembarnya menuju ruang keluarga, sedangkan para orang dewasa masih berada di ruang tengah.
Jasmine tersenyum saat melihat kedua anaknya sangat bahagia, tapi sedetik kemudian ia meneteskan air mata karena sebentar lagi dia akan berpisah dengan kedua malaikat kecilnya itu.
“Takdir begitu kejam kepada kita, semoga kalian selalu di berikan kebahagiaan yang tiada habisnya.” Doa Jasmine di dalam hati untuk dua malaikat kecilnya.
**
__ADS_1
Sing sabar ya Jas 🥺🙏