
Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Di kediaman Ricko malam itu terlihat sangat ramai, keluarga besar Clark berkumpul di sana untuk menghadiri syukuran atas kesembuhan Raisa.
Dokter Fadli dan Ibu Ratih turut hadir di sana memenuhi undangan dari Ricko.
Jasmine terdiam di salah satu kursi yang ada di ruang tengah sembari mengawasi kedua anak asuhnya yang sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Jasmine merasa minder karena tamu undangan yang hadir di rumah tersebut berasal dari kalangan kaya raya, tidak seperti dirinya yang hanya seorang pengasuh rendahan.
Bukan hanya itu saja yang membuat Jasmine merasa sedih, tapi Ricko juga seolah menutupi dirinya sebagai ibu kandung si kembar dari keluarga besar pria itu sendiri, padahal dia sudah mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Raisa.
Jasmine yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, menjadi tidak sempat untuk menyapa ibunya dan juga dokter Fadli, hingga waktu terus bergulir dengan cepat dan tidak terasa sudah hampir tengah malam, acara tersebut baru selesai, dan para tamu satu persatu sudah berpamitan pulang.
“Kak Jas, kami sangat mengantuk,” rengek Raisa dan Rayan bersamaan sembari menguap dan mengucek mata mereka.
Jasmine menatap ibunya dan dokter Fadli dari kejauhan, dia menghela nafas kasar lalu beralih tersenyum menatap kedua anaknya itu. “Ayo ... Kak Jas akan mengantarkan kalian tidur,” ucap Jasmine dengan terpaksa lalu menggandeng tangan si kembar.
*
__ADS_1
*
Ratih berpamitan pulang terlebih dahulu, tapi sebelumnya dia mencari keberadaan putrinya akan tetapi tidak menemukannya.
“Pak Ricko, di mana putriku?” tanya Ratih.
“Mungkin dia sudah tidur, Tante,” jawab Ricko seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang tengah tersebut.
“Kalau begitu aku titip salam untuknya.” Ratih tidak ingin melebihi batasnya, karena posisinya saat ini menjadi tamu di rumah tersebut, meski dia sangat ingin menemui dan mengetahui keadaan putrinya.
Ratih berpamitan terlebih dahulu, karena malam sudah semakin larut. Sedangkan Dokter Fadli masih berada di sana.
“Jadi Anda adalah seorang dokter?” tanya Ricko kepada Fadli setelah Ibu Ratih sudah tidak ada di sana.
“Iya, tepatnya aku juga sekaligus dokter pribadi Jasmine dan tetangganya,” jawab Fadli sambil terseyum tipis menatap Ricko yang juga tengah menatapnya dengan tatapan dingin.
__ADS_1
“Dokter Pribadi?” tanya Ricko dengan alis yang mengerut, berarti selama ini dia salah mengira. Ia pikir jika dokter Fadli selama ini adalah kekasih Jasmine.
Dasar bodoh! Ricko merutuki dirinya sendiri dengan perasaan kesal dan marah bercampur menjadi satu.
“Sebelum mendonorkan sumsum tulang belakangnya kepada putrimu, Jasmine mempunyai penyakit kanker otak dan tubuhnya harus di bekukan selama 5 tahun. Anda bisa membayangkan betapa menderitanya Jasmine selama ini, Pak?!” ungkap Fadli seraya menatap tajam pria yang berdiri di hadapannya itu.
“Apa maksudmu?!” tanya Ricko yang belum bisa menangkap arah pembicaraan Fadli.
Kanker otak? Di bekukan selama 5 tahun? Apa maksud dari semua ini? Ricko bertanya-tanya di dalam hati.
Kemudian Fadli menjelaskan tentang kejadian 5 tahun yang lalu kepada Ricko, di mana Jasmine harus di bekukan selama 5 tahun demi sembuh dari penyakit mematikan yaitu kanker otak.
Ricko terpaku dan tubuhnya mendadak beku saat mengetahui semua kenyataan itu. Dia tidak menyangka jika Jasmine selama ini sangat menderita, tapi dengan kejamnya dia malah menambah penderitaan gadis tersebut.
“Aku harap setelah ini Anda tidak bersikap semena-mena kepada Jasmine! Karena dia sudah banyak berkorban untuk putrimu!” ucap Fadli penuh penekanan.
__ADS_1