
Semua tim dokter bernafas lega dan merasa senang karena mereka telah berhasil menyelamatkan Raisa dan Jasmine. Kini kondisi ibu dan anak itu telah stabil dan operasi sukses. Satu persatu tim dokter pun segera meninggalkan ruang operasi itu setelah kedua pasien sudah di pindahkan ke ruang recovery.
Mendengar kabar membahagiakan itu dari salah satu perawat, Ratih dan Ricko sujud syukur kepada Tuhan.
“Semua ini berkat doa Tante,” ucap Ricko memuji Ratih agar wanita paruh baya itu tidak lagi membencinya.
“Hemmm.” Ratih hanya berdehem saja sebagai jawaban sembari mengusap air matanya yang sejak tadi mengalir membasahi pipi. Dia merasa senang, dan sedih bercampur menjadi satu di dalam dada.
“Ke mana keluargamu? Kenapa cucu mereka melakukan operasi sebesar ini mereka tidak datang?” Pertanyaan Ratih membuat Ricko terdiam sesaat.
“Mereka mempunyai ke sibukkan masing-masing,” jawab Ricko seraya menipiskan bibirnya.
“Oh, horang kaya memang beda!” cibir Ratih dengan ketusnya.
Ricko hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali tanpa menyahut ucapan Ratih.
*
*
Satu jam kemudian, Jasmine dan Raisa di pindahkan ke ruang perawatan VIP di rumah sakit tersebut, akan tetapi mereka berada di dalam ruangan yang berbeda.
__ADS_1
Jasmine tersenyum tipis ketika melihat ibunya yang terus menangis di sampingnya.
“Bu, aku baik-baik saja,” ucap Jasmine kepada ibunya.
“Ibu tahu karena kamu adalah gadis yang sangat kuat, tapi satu hal yang harus kamu ketahui kalau ibu sudah tahu semuanya tentang kejadian 5 tahun yang lalu, kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar ini kepada ibumu, Nak?” tanya Ratih pilu.
“Ibu tahu? Dari mana?!” Jasmine sangat terkejut mendengarnya, padahal selama ini dia berusaha untuk menyimpan rahasia itu dengan rapat.
“Majikanmu itu yang menceritakan semuanya,” jawab Ratih.
“Pak Ricko?” tanya Jasmine, dan Ratih menjawab dengan anggukan.
“Apa saja yang dia ceritakan, Bu?” Jasmine penasaran. Ratih kemudian menjelaskan semuanya kepada putrinya.
*
*
“Daddy, saat di ruang operasi, aku bermimpi bertemu dengan Mommy,” celoteh Raisa pada ayahnya.
“Kau sudah bertemu dengan Mommy-mu Sayang, bahkan setiap hari, setiap menit dan setiap detik. Maafkan Daddy karena belum bisa mengungkap kebenaran ini kepada kalian,” jawab Ricko namun hanya di dalam hati.
__ADS_1
“Apakah Mommy cantik?” tanya Ricko sambil membelai pipi tirus putrinya.
“He-em, Mommy sangat cantik dan wajahnya mirip sekali dengan Kak Jas. Kapan ya, aku dan Rayan bisa bertemu dengan Mommy?” Jawaban serta pertanyaan polos Raisa semakin membuat Ricko merasa bersalah kepada kedua anaknya.
“Sekarang Raisa istirahat dan tidur, agar cepat pulih,” ucap Ricko segera mengalihkan pembicaraan tersebut.
“Tapi, Dad ...” Raisa memanyunkan bibirnya, padahal dia belum puas membicarakan tentang mommy-nya.
“Ayolah Raisa, ingat kata dokter, kalau kamu harus banyak istirahat agar cepat sembuh dan bisa cepat pulang. Apakah kamu tidak rindu dengan Rayan?” tanya Ricko sambil membelai kepala putrinya dengan lembut.
“Tentu saja rindu, kalau begitu aku akan cepat tidur, biar besok boleh pulang sama pak dokter.” Raisa langsung memejamkan kedua matanya sambil tersenyum. Bahkan gadis itu tidak mengeluh sakit di area punggungnya, mungkin karena gadis kecil itu tahu kalau nyawanya kini sudah terselamatkan.
“Mimpi indah, Sayang.” Ricko langsung beranjak dari duduknya, setelah memastikan kalau putrinya sudah terlelap, kemudian ia segera keluar dari ruangan tersebut menuju ruangan Jasmine.
Akan tetapi saat sampai di ruangan Jasmine, dia terkejut saat melihat seorang pria tampan sedang bercanda dan tertawa dengan Jasmine. Ia mengira kalau pria tersebut adalah kekasih Jasmine.
Ricko mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dan sorot matanya kian menajam.
***
Cemburu kan! Mampuss 🤣🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ❤