
Niatnya sih tidak ingin membalas pesan dari temannya, akan tetapi salah satu jempol tangannya terpeleset menekan tombol memanggil.
Jasmine merutuki dirinya sendiri sambil menempelkan ponsel jadulnya itu ke telinga kanannya.
"Hallo ..." ucap Jasmine pelan, tapi baru saja berbicara satu kata tapi temannya itu sudah seperti orang yang sedang kebakaran jenggot.
"Jasmine!!! Kau keterlaluan sekali?! Ke mana saja kau selama ini?!" seru temannya dari ujung telepon sana.
"Hei, bisakah kau bertanya dengan pelan? Kau membuat telingaku sakit!" kesal Jasmine.
"He he he, maaf, aku terlalu mengkhawatirkanmu, karena selama ini kau menghilang bak di telan bumi! Aku kemarin bertemu dengan ibumu di pasar, beliau mengatakan kalau kau sudah kembali. Jadi, sekarang aku menuntut penjelasan, ke mana saja kau selama ini?" cerocos teman Jasmine tanpa titik dan koma.
"Semua ini sulit untuk di jelaskan," jawab Jasmine seraya mendesah kasar karena sangat sulit menjelaskan masalahnya pada orang lain kalau dirinya di bekukan selama lima tahun terakhir.
"Sulit menjelaskan bagaimana? Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau harus menjelaskan semuanya kepadaku tanpa ada yang terlewat sama sekali!" ucap Nita teman Jasmine dengan nada tegas dan tidak mau di bantah.
"Oke ... Oke, tapi aku tidak bisa menjelasakannya di telepon."
"Tidak masalah, bagaimana kalau kita bertemu di Kafe tempat kita nongkrong dulu?" tanya Nita pada Jasmine, ia barharap kalau temannya itu tidak menolak ajakannya.
"Aku akan meminta izin kepada majikanku dulu," jawab Jasmine tidak bisa memutuskan.
"What?! Majikan? Maksudmu apa?!" seru Nita dengan keras membuat Jasmine langsung menjauhkan ponselnya itu dari telinganya.
"Bisakah kau jangan berteriak?!!" geram Jasmine.
__ADS_1
"Sorry, aku terlalu terkejut," jawab Nita dengan nada pelan.
Jasmine berdecak kesal menanggapinya, kemudian ia menjelaskan kepada temannya kalau dirinya saat ini bekerja menjadi seorang pengasuh anak kembar, selain itu ia ingin mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya nanti. Ya, Jasmine ingin melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda karena penyakitnya itu.
"Jadi aku harap kau mengerti kalau aku tidak bisa keluar tanpa kedua anak asuhku. Selain itu akan sulit untuk mendapatkan izin dari majikanku," ucap Jasmine setelah selesai menjelaskan semua kepada Nita.
"Sepertinya majikanmu adalah orang yang galak ya? Aku berdoa semoga kau mendapatkan izin darinya," ucap Nita seraya berdoa untuk Jasmine.
"Amin, aku akan mengabarimu kalau aku berhasil mendapatkan izin," ucap Jasmine sebelum menutup panggilan telepon. Jasmine menghela nafas kasar sembari menatap ponsel jadulnya. Mengingat peristiwa penculikan Rayan yang baru saja terlewati, Jasmine yakin kalau dirinya tidak akan mendapatkan izin dari Ricko.
Jasmine meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian ia segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ia berharap kalau besok Ricko berbaik hati kepadanya.
*
*
"Pagi, Bi ... pagi semuanya," sapa Jasmine saat melintasi ruang tengah dan ruang keluarga, di sana ada beberapa pelayan sedang memberihkan ruangan tersebut.
"Pagi juga Jasmine," balas semua pelayan yang ada di sana.
Jasmine tersenyum manis dan ceria, meski wajahnya terlihat mengantuk.
"Jas, hari ini koki tidak bisa memasak karena sedang sakit, apakah kau bisa menggantikannya dan memasak untuk Pak Ricko?" tanya Bibi pelayan saat Jasmine sudah berada di dapur.
"Tentu saja bisa, Bi," jawab Jasmine tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ini menu sarapan Pak Ricko." Bibi pelayan menyerahkan secarik kertas kepada Jasmine.
Jasmine mengerutkan keningnya lantaran bingung, karena baru tahu kalau menu makan si kulkas 5 pintu itu selama ini di atur oleh koki.
"Jangan bingung. Masak saja yang sudah di tuliskan oleh Koki." Bibi pelayan berkata seolah bisa membaca isi kepala Jasmine.
"He he he, bibi tahu saja," jawab Jasmine tertawa pelan.
Bibi pelayan segera berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya. Jasmine segera membaca secarik kertas yang berisikan menu sarapan Ricko. Kedua kening Jasmine semakin mengkerut saat membaca menu dan resep di kerta itu.
"Ck! Hanya omlete saja kenapa harus ribet sih!" Jasmine mengepalkan kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu ia segera mengambil beberapa telur dari dalam lemari pendingin dan segera mengolahnya menjadi omlete terenak di dunia.
"Kata orang dari mulut turun ke hati. Siapa tahu setelah Pak Ricko memakan omlet buatanku dia menjadi terJasmine-Jasmine," ucap Jasmine terkekeh geli sambil memandang 4 omlete yang sudah tersaji di atas piring masing-masing, lalu ia segera menghidangkannya di atas meja makan.
"Jasmine ... Jasmine, otakmu sepertinya sudah konslet." Jasmine berkata kepada dirinya sendiri.
"Otakmu memang sudah konslet!!" suara bariton itu mengejutkan Jasmine dan membuat gadis tersebut langsung membeku di tempat.
Jasmine menoleh ke belakang, ia semakin terkejut bukan kepalang saat melihat Ricko berdiri tidak jauh darinya sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Lebih parahnya lagi, pria tersebut bertelanjang dada, sepertinya Ricko baru selesai berolah raga jika di lihat dari peluh yang membasahi dada bidang pria tersebut.
"Haduh, gawat! Dia tadi mendengar ucapanku tidak ya?" batin Jasmine, ketar-ketir tidak karuan.
"Kenapa dia selalu bertelanjang dada di setiap pagi?! Otak dan mata suciku ternodai." Jasmine menggerutu di dalam hati, pasalnya ia sudah berulang kali melihat Ricko bertelanjang dada di depan matanya.
Lama-lama wajah Jasmine sepertinya berubah jadi roti sobek, wk wk wk wk.
__ADS_1
***
Jangan lupa like-nya ya.