
"Hmm. Maafkan sikap alika ya tajudin. Dia memang berbeda dengan yang lain. Dia itu memang lugu dalam hal seperti itu!" Ujar ema dengan ramah.
"Iyaa bu tidak apa-apa,saya mengerti!" Jawab tajudin masih dengan wajah datarnya."
Alika Yang sudah berada dikamar menjatuhkan tubuhnya diatas kasur yang empuk milik paman nya. Alika merasa kesal dengan sikap tajudin yang mengadu pada ibunya. Sedangkan alika menutupi keburukan suaminya selama dia berada dirumah tajudin. Tajudin menyusul alika ke kamarnya dengan membawa tas yang alika bawa. Sedangkan ema membuatkan makanan untuk makan siang bersama. Tajudin tak bisa bersikap kasar selama dirinya berada dirumah alika. Karena tajudin takut alika melaporkan nya pada sang ibu. Alika yang melihat tajudin sudah duduk ditepi ranjang tak memperdulikan nya. Alika hanya diam dan ingin istirahat dengan tenang. Tak terasa hari sudah sore mereka terlelap tanpa melihat waktu. Ema menunggu mereka terbangun dari tidurnya diruang keluarga sambil menonton tv. Tapi hanya alika yang keluar dari kamarnya masih menggunakan baju saat dia pulang tadi.
"Alika! Kamu tidak makan? Ini sudah sore." Ujar ema yang melihat alika baru saja bangun dari tidurnya.
"Iyaa mah. Aku lapar sekali. Mama masak apa?" Jawab alika dan menanyakan pada ema memasak apa hari ini.
"Mama masak sayur asem, pecak tempe kesukaan kamu," Ujar ema ingin melihat alika makan dengan lahap dengan masakan nya.
"Waahh kayaknya enak tuh! Alika makan dulu ya mah!" Sahut alika antusias langsung berlari kecil ke arah dapur.
"Hey. Tunggu suamimu bangun dulu, lalu layani dia!" Teriak ema dari ruang keluarga saat melihat alika langsung berlari.
"Aahh nanti saja. Dia masih tidur," Jawab alika yang sudah tidak sabar ingin makan sepuasnya.
Alika mengambil nasi dan lauknya seperti orang kelaparan tidak makan satu minggu. Ema yang melihat alika mengambil porsi yang tidak wajar membulatkan matanya yang tak percaya anak gadisnya makan dengan porsi sebanyak itu.
__ADS_1
"Alika! Apa kamu masih waras dengan porsi makan mu yang seperti itu?" Tanya ema dengan mata yang masih membulat lebar.
"Alika disana makan nasi hanya satu kali sehari mah! Alika sangat rindu dengan makanan seperti ini, apalagi masakan mama yang membuat perut alika terbuka lebar." jawab alika keceplosan hingga ema kembali membulatkan matanya semakin lebar.
"Apah! Kamu makan nasi hanya satu kali sehari? Apa suamimu sangat miskin sekali sehingga memberi kamu makan saja dia tidak mampu?" Pekik ema langsung bangkit dari duduknya menghampiri alika yang duduk di lantai beralaskan karpet.
"Ups! Aku keceplosan." Gumam alika dalam hati dan melirik ema sekilas."Iyaa mah. Sebenarnya alika tidak betah disana. Alika selalu dikurung didalam rumah tidak boleh kemana-mana. Bapak tajudin sangat membenci alika sejak hari pertama alika tinggal. Ibu tajudin juga tidak suka dengan alika karena alika hanya berdiam diri dikamar tanpa melakukan apapun. Sedangkan makanan disana itu rasanya aneh semua mah,alika tidak pernah melihat makanan seperti itu disini. Tajudin juga tidak pernah menyuruh alika makan, bahkan alika ingin bekerja tidak boleh. Ingin berdagang kecil-kecilan juga dilarang oleh dia, alasan nya aku sudah punya suami dan aku tanggung jawab dia sepenuhnya. Tapi alika tidak diperlakukan dengan layaknya seorang manusia disana. Jika alika membantah ucapan nya dia marah-marah membanting pintu dan pergi meninggalkan aku dirumah sendirian dari pagi hingga sore. Lalu dia meminta haknya sebagai suami harus terpenuhi, yaa jelaslah alika menolak mah!" Ujar alika panjang lebar mencurahkan segala isi hatinya pada ema karena sudah terlanjur ema mendengar dirinya keceplosan.
"Astaghfirullahal'adzim. Suami seperti apa yang menikahimu alika? Kurang cantik apa anakku sampai dia memperlakukan anakku seperti itu!" Gumam ema yang mendengar penjelasan dari anaknya namun masih didengar oleh alika.
"Alika juga tidak tahu mah! Sebenarnya apa salah alika sampai mereka tega seperti itu pada alika!" Sahut alika dengan mata berkaca-kaca sambil menyantap makanan nya.
"Alika! Jika kamu hanya makan nasi satu kali sehari, lalu apa kamu tidak lapar?" Tanya ema dengan nada menyelidiki.
"Aku makan nasi setiap pagi ketika semua nya sudah pergi ke sawah meninggalkan alika sendirian dirumah. Nasi sudah ada tapi lauknya tidak ada lalu alika mengambil telor ayam yang bertelur dan alika masak agar bisa makan nasi. Setelah semuanya pulang tidak ada yang menawarkan alika makan. Jika alika keluar mencari makanan, bapak tajudin selalu menyindir alika yang membuat alika sakit hati mah. Entah alika dosa apa selama ini mendapatkan pria seperti tajudin. Alika menyesal menerima nya menjadi suami alika." Curhat alika panjang lebar pada ibunya sambil menyandarkan kepalanya di dada ema.
"Sabar ya sayang. Semoga cobaan dan ujian ini akan mengangkat derajatmu lebih tinggi suatu saat nanti nak," Sahut ema sambil mengusap kepala alika dengan lembutnya.
Mereka berdua saling mencurahkan tangis mereka. Ema sangat prihatin pada nasib alika yang selalu dibenci orang-orang disekitarnya entah apa kesalahan nya hingga alika selalu dimusuhi tanpa sebab. Ema hanya bisa memberikan pengarahan pada alika agar tetap selalu menghormati orang tua tajudin. Terkecuali jika ada yang berbuat kasar padanya alika harus bisa bersikap. Seorang ibu tak ada henti-hentinya untuk menasehati anaknya agar selalu bersikap agar bisa dihargai. Tak berselang lama tajudin akhirnya terbangun dari tidurnya dan melihat alika sedang menangis dipelukan ibunya. Tajudin hanya menyapa ema dengan senyuman lalu permisi untuk ke kamar mandi ingin membersihkan dirinya. Ema yang melihat tajudin rasanya ingin menampar dan menghabisi tajudin dengan tangan nya karena sudah membuat anaknya tak bahagia. Namun ema tak pernah gegabah jika sedang dalam emosi. Alika yang melihat tajudin sudah dikamar mandi akhirnya bergegas membereskan pakaian nya dikamar agar rapi. Tajudin sudah selesai mandi dan bergegas menuju kamar untuk mengganti pakaian nya.
__ADS_1
"Alika! Kenapa tadi kamu menangis?" Tanya tajudin yang penasaran pada sikap ema yang berbeda pada dirinya.
"Tidak apa-apa! Aku hanya rindu pada mamaku dan masih ingin selalu bersama mama." Sahut alika tanpa membalikan tubuhnya yang masih membereskan pakaian nya.
"Oooh..Apa mama kamu sudah bicara masalah kita?" Tanya tajudin sambil memakai pakaian nya.
"Masalah kita? Soal apa?" Alika balik bertanya pada tajudin yang tidak mengerti dengan pertanyaan nya.
"Hmm. Soal ranjang!" Ujar tajudin penasaran dengan nada datar nya.
"Mama tidak menjelaskan apa-apa tentang itu! Kita hanya saling mencurahkan kerinduan masing-masing!" Jelas alika tanpa menoleh pada tajudin yang dibelakang nya.
"Apa kamu sudah makan?" Tanya tajudin yang sudah lapar saat terbangun dari tidurnya.
"Aku sudah makan! Jika kamu lapar makanlah! Didapur ada nasi dan lauknya semua sudah tersedia." Titah alika yang malas melayani suaminya.
Tajudin tak menjawab ucapan alika. Tajudin langsung saja pergi ke dapur dan mengambil makanan yang sudah tersedia di dapur. Tajudin makan dengan posisi duduk dilantai dapur sendirian tanpa ditemani oleh alika. Tajudin tak bisa bersikap semena-mena selama berada dirumah alika,dia berusaha bersikap seramah mungkin dihadapan ema sang ibu mertua. Ema yang mendengar semuanya dari alika sikapnya langsung berubah pada sang menantu. Ema kecewa dengan tajudin yang tak pernah bisa ramah pada anak nya. Alika masih menyibukan diri membersihkan kamarnya. Dan ema juga menyibukan diri dengan menyirami tanaman nya dihalaman depan.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG