
Kini hari sudah semakin sore. Tugiyo dan istrinya sudah kembali pulang kerumah orangtua eni dikampung sebelah. Saat semuanya sudah kembali lagi ke dapur dariyah memulai pembicaraan.
"Alika! Kamu itu jadi istri jangan pemalas! Bangunlah lebih pagi dari suamimu. Memasak untuk sarapan sebelum suamimu berangkat kerja ke sawah. Lalu bereskan rumah saat semuanya pergi. Jangan hanya berdiam diri saja dikamar seharian seperti ratu. Apa kau tidak bosan hanya didalam kamar tanpa melakukan apapun?" Ujar dariyah panjang lebar mengomeli alika tanpa disaring terlebih dahulu kata-katanya.
"Iyaa bu!" Sahut alika tak ingin menjawab panjang lebar karena akan semakin disalahkan jika dia membela diri.
"Sudahlah bu! Alika kan masih baru disini. Dia belum tahu apa yang harus dia lakukan dirumah ini." Ujar tajudin tak ingin alika jadi ngambek karena takut tajudin tak mendapat jatah nya malam ini.
"Haah! Kamu itu cari istri nggak ada gunanya! Cuma bisa untuk pajangan saja." Sahut dariyah kesal karena tajudin membela istrinya.
Mereka saling berdebat hanya karena kehadiran alika. Alika yang mendengar perdebatan antara anak dan ibunya hatinya merasa teriris karena sang mertua selalu saja bicara kasar dan menganggap rendah alika sebagai menantu dirumah itu. Wardiyo yang melihat situasi semakin panas membawa ibunya untuk pergi keluar dari dapur dan membawanya keluar rumah agar tajudin bisa membawa alika ke kamarnya. Wardiyo tahu bahwa ibunya sangat berlebihan pada alika. Tapi wardiyo tidak ingin melawan sang ibu karena membela alika. Wardiyo takut jika dirinya membela sang adik ipar membuat sang ibu semakin murka pada menantunya.
"Ayo alika kita masuk kamar saja! Lupakan yang pernah ibu katakan padamu. Anggap saja kamu sedang mendengar radio yang sudah rusak sinyalnya." Ujar tajudin membawa alika masuk ke kamarnya.
"Aku ingin mandi. Setelah masak tadi tubuhku bau bawang!" Ujar alika yang sudah berada didalam kamarnya.
"Kau ingin mandi? Baiklah kita mandi bersama ya?" Sahut tajudin selalu menemani alika agar tidak jadi umpan omelan sang ibu.
"Iyaah!" Alika mengangguk mengiyakan ajakan tajudin untuk mandi bersama.
Mereka sedang melakukan ritualnya di kamar mandi yang tanpa dinding secara bersamaan. Tidak terlalu lama alika mandi dirinya sudah selesai dan berganti menggunakan handuk kimononya seperti biasanya. Alika melangkah menuju kamarnya dibelakang tajudin. Setelah berada didalam kamarnya tajudin melihat punggung alika yang terekspos nyata dan jelas. Tajudin mendekatinya dan memeluk alika dari belakang. Alika terkejut saat mendapat reaksi dari tajudin.
"Kakak mau apa?" Tanya alika membalikan badan nya menghadap tajudin dengan wajah paniknya.
"Aku menginginkan nya alika!" Ujar tajudin dengan nafas beratnya menempelkan dahi nya dan dahi alika cukup lama.
Alika tak menjawab ucapan dari suaminya. Alika menatap lekat wajah suaminya itu yang menempelkan nya. Sudah hampir dua bulan alika masih perawan hanya karena takut dengan rasa sakit nya. Alika juga sangat takut setelah melihat ukuran pedang tajudin yang berukuran sedang tapi panjang. Pikiran alika terus melayang memikirkan rasa yang akan ia rasakan jika suaminya menyatukan nya.
"Apa boleh kita mencobanya lagi sekarang?" Tanya tajudin yang sudah membuka matanya dihadapan alika.
__ADS_1
"Ini sudah hampir magrib kak!" Sahut alika dengan wajah panik nya dan menutupi dadanya erat yang masih menggunakan handuk.
"Baiklah. Nanti malam kita akan mencoba nya lagi, mau kan?" Tanya tajudin terus berusaha merayu alika agar tidak lagi takut untuk melakukan nya.
"Emm ta-tapii.." Sahut alika mengalihkan tatapan nya dari wajah tajudin.
"Aku mohon alika! Jika kau sudah merasakan nya pasti kau akan memintanya lagi dan lagi!" Ujar tajudin sengaja membuat alika penasaran agar alika tak menolak nya terus-menerus.
"I-iyaa insyaallah!" Sahut alika gugup dan tak mau berjanji.
"Baiklah! Ganti bajumu. Aku keluar dulu!" Ucap tajudin mengecup puncuk kepala alika dan berlalu keluar dari kamarnya.
Alika yang sudah melihat tajudin keluar dari kamarnya berlari kecil mengunci pintu kamarnya dan bersandar dipintu kamarnya. Alika yang penasaran dengan rasa yang disebutkan tajudin pikiran nya melayang membayangkan rasa nikmatnya. Setelah terdiam alika kembali menuju lemarinya dan berganti pakaian. Setelah selesai alika buru-buru mengambil handphone nya dan melihat video yang pernah diberitahu oleh ema sang ibu. Alika membuka video itu lagi dan ingin melihatnya sampai habis. Setelah vidio itu mulai alika terus saja menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Karena semakin penasaran alika mencoba membuka vidio yang lain nya. Alika menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah selesai alika mematikan handphone nya dan menaruhnya di bawah bantal nya. Alika melamun dan pikiran nya terus melayang membayangkan dirinya dengan tajudin jika diatas kasur. Lama alika melamun kini lamunan nya buyar setelah tajudin mengetuk pintu kamarnya yang terkunci.
Tok! Tok! Tok!
"Alikaa!" Panggil tajudin dari luar karena adzan maghrib sudah berkumandang.
"Ceklek! Ceklek!"
"Kenapa dikunci kamarnya?" Tanya tajudin dengan wajah heran melihat istrinya.
"Ah tadi aku sedang berganti pakaian. Takut ada yang masuk tanpa mengetuknya dulu." Sahut alika bohong menutupi apa yang sudah dia lakukan sendirian.
Tajudin masuk dan mengajak alika untuk sholat bersama. Setelah sholat tajudin mengajak alika untuk makan malam setelah itu beristirahat agar besok tidak bangun siang seperti hari tadi.
"Ayo makan dulu!" Ajak tajudin menggandeng tangan alika menuju ruang makan.
Alika masih canggung jika harus berhadapan dengan kedua orangtua tajudin. Alika terus menunduk tanpa berbicara apapun karena alika takut salah bicara dan pastinya akan merusak suasana makan malam yang sedang nikmat disana.
__ADS_1
"Apakah nasinya cukup?" Tanya tajudin yang sudah mengambilkan nasi untuk alika.
"Hu'um" Sahut alika menganggukan kepalanya.
"Hmmm! Dimana-mana itu istri yang melayani suaminya jika dimeja makan! Bukan malah suami yang melayani istrinya dengan manja." Ujar dariyah yang tidak suka melihat interaksi anak dan menantunya itu.
"Sudahlah bu. Tidak usah diributkan! Aku juga santai saja melakukan nya!" Jawab tajudin yang tak ingin lagi berdebat dengan ibunya.
"Haah! Gimana istrimu tidak semakin ngelonjak jika terus diperlakukan seperti itu olehmu? Harusnya kamu sebagai suami itu harus tegas! Jangan melehoi seperti itu!" Ujar dariyah terus saja mengoceh tidak jelas membuat alika semakin sakit hati.
"Bu! Cukup! Aku disini ingin makan! Bukan ingin cari ribut!" Tegas tajudin dengan suara lantangnya menegaskan ibunya agar diam sejenak.
"Kamu berani teriak pada ibumu hanya karena gadis kota itu!?" Teriak dariyah semakin emosi mendengar anaknya yang semakin berani melawan.
"Aku sudah memperingatkan ibu untuk diam sesaat agar kita bisa makan dengan tenang!" Sahut tajudin yang merasa tidak enak sudah membawa alika ke ruang makan.
"Apaah! Jadi kamu ingin makan dengan tenang? Makan saja direstoran bintang lima agar kamu bisa makan dengan tenang!" Teriak dariyah tak terima tajudin terus menjawab omelan nya.
"Praang!"
Tajudin menjatuhkan piring yang sudah berisi nasi dan membawa alika kembali masuk ke kamarnya dengan menarik tangan nya. Nafas tajudin semakin memburu tersulut emosi karena ulah ibunya. Alika yang mendengar pertengkaran mereka tubuhnya bergetar kencang dan berkeringat dingin. Tajudin yang melihat alika ketakutan memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya di dada nya. Tanpa sadar tajudin mendengar teriakan ibu nya dari dalam kamarnya yang membuat tajudin semakin emosi.
"Dasar wanita pemalas! Pembawa sial! Semenjak kamu ada dirumah ini selalu saja ada pertengkaran! Sebelum ada dia rumah ini selalu damai tanpa pernah ada satu keributan pun dirumah ini!" Teriak dariyah diruang keluarga dengan wajah merah padam dengan emosi yang tinggi.
Tajudin mengepalkan tangan nya dan ingin keluar dari kamarnya namun ditahan oleh alika yang tubuhnya semakin bergetar dengan mata berkaca-kaca alika menggelengkan kepalanya sebagai kode untuk tajudin agar tidak melawan ibunya.
"Kak! Jangan keluar aku mohon!" Mohon alika dengan mata berkaca-kaca.
Tajudin menuruti keinginan alika untuk tidak keluar dari kamarnya. Tajudin menepis tangan alika kasar dan menjatuhkan dirinya duduk diatas kasur dengan mengusap wajahnya kasar. Alika yang melihat tajudin frustasi mencoba untuk menenangkan nya. Namun yang alika lakukan untuk menenangkan suaminya itu salah. Malah alika sendiri yang terjebak pelampiasan oleh emosi tajudin yang sudah tidak bisa ia tahan.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG