
"Apa masih sakit?" Tanya ema mengusap perutnya.
"Terkadang sakit nya datang, terkadang hilang begitu saja!" Sahut alika dengan nafas tak beraturan.
"Yaa sudah mama akan membuatkan teh dulu untukmu agar lebih hangat!" Ucap ema beranjak dari duduknya menuju dapur.
Alika panik takut dan khawatir dirinya tak bisa melahirkan dengan selamat. Alika ingin mengabarkan nya pada tajudin bahwa dirinya akan melahirkan namun tidak sekarang pikir alika. Alika akan menghubunginya jika sudah berada dirumah sakit saja nanti.
Tak berselang lama rodiyah dan pasukan nya juga sudah datang karena dapat panggilan dari ema. Rodiyah begitu bawelnya sampai mengajukan banyak pertanyaan.
"Alika! Bagaimana? Kamu sudah kontraksi?" Tanya rodiyah memastikan dengan wajah cemas nya.
"Kontraksi itu apa?" Sahut alika tak mengerti maksudnya.
"Hmmm masa kontraksi kau tidak tau?" Ujar rodiyah merasa heran dan alika menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya."Kontraksi itu merasakan perut yang seperti di kocok dan di lilit saat akan melahirkan." Ujar rodiyah menjelaskan pada alika.
Ema baru saja bergabung setelah membuatkan teh untuk alika dan duduk disebelah alika dengan wajah cemas nya.
"Ini teh nya sayang! Bagaimana? Apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya ema mengusap perut alika.
"Rasanya masih seperti tadi mah! Masih bisa ditahan!" Sahut alika pura-pura kuat.
"Yaa sudah mama membelikan makanan dulu untuk makan siang!" Ujar ema akan beranjak dari duduk nya namun ditahan oleh furqon yang tak tega melihat alika ditinggal sang ibu.
"Nggak usah mba ema! Biar aku saja yang membelikan menggunakan motor!" Ujar furqon antusias."Alika! Kamu ingin makan apa? Nasi campur, nasi padang, nasi uduk atau apa?" Tawar furqon antusias dengan ramah.
"Nasi padang saja!" Sahut alika dengan senyum simpulnya.
"Apa lauk yang kamu mau?" Tanya furqon lagi.
__ADS_1
"Mmm Nasi ayam balado jangan dikasih sambal hijau nya yaa. Aku tidak suka!" Jawab alika yang sudah lapar membayangkan nasi ayam balado yang ia inginkan.
"Baiklah sama rata semuanya yaa?" Ujar furqon beranjak pergi menyalakan motornya.
Alika dan yang lain nya masih berbincang-bincang diruang tamu hingga nasi padang pesanan nya pun datang. Setelah selesai makan alika mencoba untuk istirahat di sofa berbaring namun ia terus gelisah tak bisa tidur karena perutnya yang selalu kontraksi. Alika berusaha memejamkan mata nya akhirnya dia berhasil terlelap tidur meskipun dengan perut yang selalu mengganggunya.
***
Kini hari sudah berganti malam. Alika sudah membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Alika merasakan perutnya semakin sakit dan rasanya ingin buang air besar. Dia bingung karena takut bayinya juga akan ikut keluar jika dikamar mandi.
"Mah! Perut alika mules. Alika ingin buang besar!" Ucap alika membuat ema semakin panik.
"Hah! Kamu ingin buang air besar? Aduh gimana ini mba rodiyah? Alika akan buang air besar!" Ujar ema semakin panik dan mengusap perut alika yang sedang berdiri.
"Nggak apa jika ingin buang air besar! Tapi pintu nya jangan ditutup yaa? Biar kita bisa mendampingi!" Kata rodiyah mencoba menenangkan ema dan alika.
"Oooh begitu? Ya sudah ayo alika mama dampingi yaa dari luar pintu!" Ucap ema membimbing alika menuju kamar mandi.
"Adduuhh maah! Aduuhh perut alika sakit sekali!" Alika meringis menahan sakit perutnya yang semakin menekan.
"Yaa Allah gimana ini mba rodiyah? Kita langsung bawa saja kerumah sakit?" Ucap ema panik tak tahu harus berbuat apa.
"Iyaa kita langsung bawa saja ke puskesmas dulu! Agar tidak ada biaya perawatan!" Ujar rodiyah memberi saran.
"Baiklah ayo!" Ajak ema membimbing alika keluar dengan menggunakan becak disekitar rumah nya.
Alika sudah menaiki becak di temani ema yang selalu siaga menjaga alika. Tak lama karena jarak rumah dan puskesmas sangat dekat jadi tidak terlalu lama diperjalanan. Setelah sampai alika dibawa masuk keruang siaga 1 di puskesmas. Alika diperiksa di ruang siaga 1 dan membuat ema semakin panik karena raut wajah perawat yang langsung berubah setelah memeriksa alika.
"Mmm bu! Saya kasih surat rujukan saja untuk ke rumah sakit yaa? Agar anak ibu bisa lebih mendapatkan perawatan yang baik untuk anak ibu!" Ucap perawat dengan wajah datar nya.
__ADS_1
"Memang nya kandungan alika kenapa? Kenapa harus dibawa kerumah sakit?" Tanya ema sedikit cemas.
"Nanti ibu akan dijelaskan lebih lanjut di rumah sakit yaa bu?" Sahut perawat mencoba untuk tetap tenang.
Surat keterangan rujukan sudah diberikan pada ema dan alika kembali menaiki becak untuk menuju rumah sakit yang tidak jauh dari rumah nya. Hanya lima menit alika sudah sampai dirumah sakit dan dengan sigap penjaga keamanan rumah sakit langsung membantu alika untuk menuju ruang bersalin menggunakan kursi roda. Alika terus meringis menahan sakit tak memikirkan apapun dan hanya memikirkan dirinya harus melahirkan dengan selamat.
"Alika! Mama keluar dulu yaa sebentar! Mama mau menghubungi suami mu bahwa kamu akan melahirkan." Ujar ema hanya diangguki oleh alika yang masih menahan sakit.
Ema akhirnya keluar dan mencari kontak tajudin lalu menghubunginya. Satu panggilan tak dijawab oleh tajudin hingga dua sampai lima panggilan belum juga di angkat oleh tajudin hingga membuat ema berdecak kesal. Ema kembali masuk keruangan alika dan menemaninya dengan mengusap punggung hingga perut alika hingga rodiyah juga memijat kaki alika agar rasa sakit nya sedikit terobati. Alika terus membolak balikan tubuhnya yang terlentang merasakan sakit yang begitu nikmat luar biasa. Akhirnya bidan yang memeriksa alika sudah datang dan mencoba untuk memeriksa alika.
"Saya periksa dulu yaa?" Ujar bidan dirumah sakit itu dan merenggangkan kedua paha alika."Rileks yaa mbaa.. Jangan tegang! Santai saja, saya periksa dulu. Bismillah!" Tambah lagi sang bidan memasukan jarinya untuk memeriksa pembukaan kelahiran alika."Masih pembukaan satu! Tunggu 30 menit lagi saya akan kembali memeriksakan nya!" Ujar lagi sang bidan sembari melepaskan sarung tangan nya dan membuangnya dikantong sampah.
Dengan keringat yang bercucuran alika terus berusaha menahan sakit agar ema tidak semakin panik. Alika meneteskan air matanya karena sudah terlalu sakit yang dia rasakan. Ema tak kuasa menahan tangis nya hingga akhirnya kembali keluar untuk menelfon tajudin kembali. Saat ema sudah diluar ruangan ema menekan nama tajudin yang ada di handphone nya untuk memberi kabar. Satu panggilan masih tidak diangkat oleh tajudin hingga dua sampai tujuh kali ema menelfon masih belum juga diangkat oleh tajudin sampai ema merasa geram pada menantunya itu.
"Sedang apa sih itu anak! Masa tidur sampai tidak mendengar suara telfon hingga beberapa kali!" Kesal ema dan menghentakkan kakinya kembali masuk keruangan alika.
Sampai diruangan alika ema kembali menetralkan emosinya namun diketahui oleh rodiyah yang sedari tadi melihat ema begitu gelisah.
"Ada apa mbak ema?" Tanya rodiyah berbisik.
"Aku sudah mencoba menelfon tajudin namun masih tidak diangkat oleh nya! Hingga sepuluh kali lebih aku menelfon tapi tidak direspon oleh nya!" Bisik ema takut alika mendengar percakapan mereka.
"Dicoba besok pagi saja mbak! Siapa tau tajudin menyetel nada diam di handphone nya!" Sahut rodiyah mencoba berfikir positif.
"Yaa sudah kalau gitu!" Ucap ema kembali mengusap punggung alika dengan lembut.
Alika mendengar ucapan ema dengan rodiyah yang membuat dirinya semakin sakit hati dengan tajudin yang tak memperdulikan nya meski dirinya sedang berjuang melahirkan anaknya. Entah apa yang dilakukan tajudin sekarang mungkin saja dia masih tertidur atau mendengar suara telfon dari ema tapi tidak ingin menerima panggilan itu. Aku juga tidak tahu.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG