
"Alhamdulillah yaa alika.. Semuanya berjalan dengan lancar!" Ucap ema mengusap bahu alika dengan mata yang berkaca kaca.
"Iyaa mah! Aku nggak nyangka pihak pengadilan akan langsung memutuskan untuk sidang bulan depan! Aku seneng banget mah!" Jawa. Alika dengan senyum lebar nya sembari menyusui anaknya yang di tutupi kain agar tidak ada yang melihat nya.
Setelah selesai menyusui anaknya alika dan ema beranjak dari duduknya melangkah keluar dari gedung pengadilan untuk kembali pulang kerumah nya. Pasukan ema si rodiyah sudah sampai lebih dulu dirumah ema karena ema tidak mengunci pintu rumahnya. Tholib menyuruh mereka masuk dan duduk menunggu ema dan alika datang dari pengadilan. Tholib sudah tau hari ini alika pergi ke pengadilan setelah dia menceritakan semua masalahnya pada tholib. Dan tholib pun mendukungnya 100%. Setelah perjalanan panjang nya alika dan ema sudah sampai dirumah nya dan disambut oleh rodiyah dan pasukan nya. Ema yang baru datang langsung duduk menemui mereka dan alika langsung melangkah masuk karena lala sudah tidur dan alika juga akan tidur karena lelah. Lelah pikiran dan hatinya membuat fisiknya menjadi lemah.
Keesokan harinya alika melakukan seperti biasanya sampai bulan yang ditentukan untuk sidang datang hari ini. Alika bersiap untuk menuju pengadilan ditemani ema dan rodiyah juga pasukan nya. Mereka mengantar alika dan ema menggunakan motor agar cepat sampai. Karena sidang akan dilaksanakan jam 8 pagi hari ini. Stelah melakukan perjalanan menuju pengadilan alika sudah sampai di gedung pengadilan dengan jantung yang terus berdegup kencang takut alika akan salah bicara jika hakim bertanya.
Setelah sampai di depan ruang sidang alika harus laporan dan menandatangani berkas laporan kehadiran nya. Tak berselang lama akhirnya nama alika dipanggil dari dalam.
"Ibu alika!" Panggil petugas yang di dalam ruang sidang bekerja memanggil yang akan melakukan sidang hari ini.
"Yaa saya!" Jawab alika dan beranjak dari duduknya.
"Mari silahkan masuk bu! Sidang akan dimulai!" Titah petugas dan membimbing alika masuk untuk duduk dihadapan hakim.
Jantung alika terus berdetak dengan terus beristighfar agar tidak salah bicara. Tubuhnya gemetar panas dingin menarik nafasnya dalam untuk menetralkan rasa gugupnya. Saat sedang beristighfar alika dikejutkan dengan suara bariton hakim yang membuat alika semakin takut.
"Ibu alika!" Tegas hakim perempuan yang akan menyidang alika.
"Iya bu hakim!" Sahut alika dengan polosnya.
"Kenapa ibu ingin bercerai dengan suami ibu?" Tanya hakim dengan wajah datar yang menakutkan dimata alika.
"Karena dia kasar dan sering melakukan kdrt!" Jawab alika masih berusaha menetralkan dirinya.
__ADS_1
"Apa saja yang suami ibu lakukan selama kdrt itu berlangsung?" Tanya hakim tegas menatap alika.
"Dia memperkosa saya disaat saya belum siap untuk memberikan nafkah batin nya! Dan dia juga menampar saya selama hubungan itu berlangsung!" Jawab alika hampir saja meneteskan air matanya karena mengingat kejadian tahun lalu.
"Kenapa ibu tidak melawan? Apa ibu menikmati perlakuan kasar dari suami ibu?" Tanya hakim merasa geram mendengar cerita alika.
"Saya sudah tidak berdaya saat itu! Karena aku bukan wanita yang bisa melawan orang lain yang menyiksa saya!" Jawab alika dengan lancar yang ada di otaknya dia ucapkan.
"Mmm baik! Lalu apa suami ibu mempunyai sifat tempramen?" Tanya hakim memastikan dengan wajah datarnya.
"Iyaa bu hakim! Jika aku salah bicara dia akan memarahiku dan kembali menyiksaku bahkan sampai tega mencekik aku dihadapan orang tuanya!" Jawab alika detail.
"Apakah orang tua nya diam saja?" Tanya hakim lagi.
"Oke baik! Apa suami ibu datang hari ini?" Tanya hakim ingin lebih memastikan untuk keputusan sidang berikutnya.
"Tidak! Dia tidak datang!" Sahut alika mengusap air matanya dengan lembut.
"Baik! Kalau begitu sidang selesai! Akan di adakan sidang kembali bulan depan dan bawa dua orang saksi tetangga kanan kiri! Tanggal dan harinya akan di berikan pada surat panggilan berikutnya yang akan datang kerumah ibu!" Ucap hakim itu dan mengetok palunya sampai 3x memastikan bahwa sidang alika sudah selesai.
"Tok! Tok! Tok!" Palu di ketuk 3x dan alika beranjak dari duduknya lalu keluar dari ruang sidang sesuai arahan dari petugas yang bertugas membimbing pengunjung yang akan melakukan sidang.
Alika keluar dengan wajah sedih dan hati yang teriris menahan sakit yang selama ini bersarang dihatinya. Dengan langkah gontai alika segera mencari keberadaan ema diluar ruangan sidang. Alika langsung berhambur ke pelukan ema dan menangis sejadi jadinya. Ema yang melihat alika begitu rapuh membalas pelukan alika dengan eratnya dan mengusap punggung alika yang masih berada dipelukan nya.
"Sabar! Semuanya sudah ditentukan oleh yang maha kuasa! Kamu pasti kuat menjalani ini semua!" Ucap ema mengusap bahu alika yang masih menangis dipelukan ema.
__ADS_1
"Maaah!" Ucap alika memberikan kode bahwa dirinya membutuhkan ema sekarang.
"Iyaa mama tau yang kamu rasakan! Mama juga pernah ada diposisi kamu dan melaluinya semua sendiri tanpa ada yang menguatkan! Karena waktu itu kamu dan adik adikmu masih kecil! Hanya kalian kekuatan mama saat itu! Sabar yaa?" Ucap lagi ema mengusap kepala alika dengan lembut.
Ema terus memberikan kekuatan pada alika yang memang sedikit rapuh jika menyangkut hatinya. Setelah menumpahkan air matanya dipelukan sang ibu kini alika sudah kembali tenang dan melepaskan pelukan nya lalu mengusap air matanya lalu kembali tersenyum saat melihat lala anaknya yang di gendong oleh rodiyah dan diambil kembali ke pelukan alika lalu menciuminya dengan penuh kasih sayang. Alika menguatkan dirinya melalui anaknya yang dia lahirkan ke dunia ini. Setelah itu ema membimbing alika dan berjalan menuju parkiran motor untuk kembali pulang kerumah nya.
......................
Dirumah tajudin saat ini tajudin sedang galau karena dirinya bingung akan datang ke pengadilan atau tidak. Dia terus bermalas malasan dirumahnya membuat dariyah sang ibu merasa geram dengan tingkah tajudin saat ini.
"Diiin! Sudah siang! Ayo bangun! Kamu kenapa jadi begini? Jika tidak ingin diceraikan maka perbaiki dirimu lebih dulu!" Pekik dariyah membuat telinga tajudin melengking kesakitan.
"Sudah lah bu! Biarkan saja dia menceraikan aku! Aku juga sudah tidak mengharapkan nya! Aku sudah menemukan jalanku sekarang!" Jawab tajudin yang masih tidur tengkurap di sofanya dengan satu tangan nya yang dibiarkan menjuntai kebawah.
"Memang nya apa rencana kamu kedepan?" Tanya dariyah terus memukul bahu tajudin agar bangun dari tidurnya.
"Rencanaku ingin merusak tubuhku dan lama kelamaan akan mati dengan sendirinya!" Sahut tajudin tanpa menatap sang ibu dengan posisi yang masih tengkurap disofa nya.
"Astaghfirullah! Kamu jangan macam macam yaa! Cepat bangun! Lalu kembalilah mencari uang seperti dulu! Jangan seperti ini terus! Bagaimana kamu akan mendapatkan ganti alika jika kamu selalu mabuk mabukan seperti ini?" Pekik dariyah yang sudah tidak sabar dengan kelakuan tajudin.
Dariyah kesal dan pasrah melihat tingkah tajudin setelah berpisah dari alika. Bahkan disaat surat panggilan dari pengadilan datang tajudin selalu pulang pagi setiap harinya menghabiskan waktunya di club x bersama desi yang menyukai dirinya. Tajudin semakin kehilangan arah tak tau akan bagaimana jika tanpa alika. Dirinya sudah merasakan kehancuran yang selama ini dia pupuk dan memetik luka nya sendiri.
...****************...
BERSAMBUNG
__ADS_1